Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2020

JENIS TOPENG MENURUT ASAL DAERAHNYA

Januari 01, 2020 0

TOPENG CIREBON


Penduduk desa yang tersebar di sekitar Cirebon hanyalah pewaris dan bukan penciptanya. Penduduk desa ini adalah juga penerus dari para penari Keraton Cirebon yang dahulu memeliharanya. Penari-penari dan penabuh gamelan Keraton pada jaman penjajahan Belanda mata pencaharian semakin sulit sehingga harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan.

Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan serta berkembang di pelosok-pelosok Kecamatan antara lain : Klangenan, Plumbon serta Arjawinangun, sedangkan di Kota Cirebon sendiri sudah tergeserkan oleh kesenian yang lebih modern. Namun demikian masih terlihat adanya kultur Kraton yang mengajarkan adab kebangsawanan dalam pementasannya yang berbaur dengan kultur rakyat yang sederhana dilihat dari pakaian yang dikenakan para penarinya.
Dalam pengangkatan ceritera dalam pementasan adalah ceritera Panji dalam lima siklus karakter kehidupan, antara lain :

1. Panji – tahap kelahiran. 

2. Pamindo  – tahap kanak-kanak. 

3. Rumyang – tahap dewasa. 

4. Tumenggung ( Patih ) – tahap memperoleh kedudukan dalam masyarakat. 

5. Ruwana ( Rahwana ) dan Klana – tahap manusia yang telah dikuasai berbagai nafsu. 

Dalam pengangkatan karakter topeng sangat ter ekpresi oleh pola-pola gerakan tubuh para penari, sehingga tari topeng Cirebon ini sangat indah dalam pementasannya.

TOPENG JOGJA

Dalam pagelaran Wayang Wong yang di ciptakan oleh Hamengku Bhuwono I ( 1755-1792 ) dalam pengekspresian karakter gerak tari tokoh-tokoh wayang untuk peran kera dan raksasa dalam pentas Ramayana maupun Mahabharata pemainnya dilengkapi dengan pemakaian topeng, sedangkan untuk tokoh satria dan wanita tidak mengenakan topeng. 

Dalam pementasan Wayang Orang Gedog punakawan Pentul dan Tembem mengenakan topeng separuh muka sehingga dapat berdialog secara leluasa tanpa mengangkat topeng. Lain halnya dengan pementasan ceritera Panji para pemainnya mengenakan topeng dengan cara agak direnggangkan sedikit sehingga pemain dapat mengucapkan antawacananya. Pada topeng gaya Yogyakarta kumis dibuat dengan cara menyungging warna hitam.

TOPENG SURAKARTA 

Topeng gaya Surakarta hampir sama dengan gaya Yogyakarta hanya terdapat perbedaan pada kumisnya yang terbuat dari bulu. Tokoh punakawan Bancak dan Doyok juga mengenakan topeng separuh muka seperti gaya Yogyakarta. 

Perkembangan topeng Surakarta (Solo) pun berpusat pada dua sumber utamanya yakni Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

TOPENG MALANG

Topeng Malang merupakan pementasan wayang Gedog yang dalam pertunjukannya mempergunakan topeng. Dalam perkembangannya di Kedungmoro dan Polowijen, Kecamatan Blimbing, Malang yang dikenal dengan sebutan Topeng Jabung. Dalam pementasannya mengetengahkan ceritera-ceritera Panji dengan tokoh-tokohnya seperti : Panji Inu Kertapati, Klana Swandana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari, dll. Para penari mengenakan topeng dan menari sesuai dengan karakter tokoh yang dimainkan. Dalam pementasan dipergunakan tirai yang terbelah tengah sebagai pintu keluar/masuk para penarinya.

Maestro Topeng Malang, yang tetap melestarikannya adalah Mbah Karimun bersama istrinya Siti Maryam, dengan tetap melatih anak-anak kecil di lingkungannya untuk belajar membuat Topeng Malang dan tari Topeng Malangan.

Demikian pula Mbah Kari ( kelahiran Desa Jabung Malang,1936 ) dengan tekun memahat dan mengukir kayu untuk dibuat topeng. Ketekunan yang dilandasi oleh semangat pengabdian dan kesetiaan pada tradisi topeng yang diwarisi dari nenek moyangnya, walaupun di usia tuannya masih dengan penuh semangat melatih para penari usia muda, memberikan contoh ragam-ragam gerak tari topeng Malangan versi Jabung.

TOPENG BALI

Di Bali topeng juga adalah suatu bentuk dramatari yang semua pelakunya mengenakan topeng dengan cerita yang bersumber pada cerita sejarah yang lebih dikenal dengan Babad.
Dalam membawakan peran-peran yang dimainkan, para penari memakai topeng bungkulan (yang menutup seluruh muka penari), topeng sibakan (yang menutup hanya sebagian muka dari dahi hingga rahang atas termasuk yang hanya menutup bagian dahi dan hidung). Semua tokoh yang mengenakan topeng bungkulan tidak perlu berdialog langsung, sedangkan semua tokoh yang memakai topeng sibakan memakai dialog berbahasa kawi dan Bali.
Tokoh-tokoh utama yang terdapat dalam dramatari Topeng terdiri dari Pangelembar (topeng Keras dan topeng tua), Panasar (Kelihan - yang lebih tua, dan Cenikan yang lebih kecil), Ratu (Dalem dan Patih) dan Bondres (rakyat). Jenis-jenis dramatari topeng yang ada di Bali adalah :

1. Topeng Pajeganyang ditarikan oleh seorang aktor dengan memborong semua tugas-tugas yang terdapat didalam lakon yang dibawakan. 
2. Topeng Sidakarya di dalam topeng Pajegan ada topeng yang mutlak harus ada, yakni topeng Sidakarya. Oleh karena demikian eratnya hubungan topeng Pajegan dengan upacara keagamaan, maka topeng ini pun disebut Topeng Wali. Dramatari Topeng hingga kini masih ada hampir diseluruh Bali 
3. Topeng Pancayang dimainkan oleh empat atau lima orang penari yang memainkan peranan yang berbeda-beda sesuai tuntutan lakon, 
4. Topeng Prembon yang menampilkan tokoh-tokoh campuran yang diambil dari Dramatari Topeng Panca dan beberapa dari dramatari Arja dan Topeng Bondres, seni pertunjukan topeng yang masih relatif muda yang lebih mengutamakan penampilan tokoh-tokoh lucu untuk menyajikan humor-humor yang segar. 

Nama Arja di duga berasal dari kata Reja (bahasa sansekerta) yang berarti keindahan. Arja adalah semacam opera khas Bali, merupakan sebuah dramatari yang dialognya ditembangkan secara macapat. Dramatari Arja ini adalah salah satu kesenian yang sangat digemari di kalangan masyarakat.
Arja diperkirakan muncul pada tahun 1820an, pada masa pemerintahan raja Klungkung I Dewa Agung Sakti. Tiga fase penting dalam perkembangan Arja adalah:
Munculnya Arja Doyong (Arja tanpa iringan gamelan, dimainkan oleh satu orang). 
  • Arja Gaguntangan (yang memakai gamelan Gaguntangan dengan jumlah pelaku lebih dari satu orang). 
  • Arja Gede ( yang dibawakan oleh antara 10 sampai 15 pelaku dengan struktur pertunjukan yang sudah baku seperti yang ada sekarang).
TOPENG DAYAK

Di daerah Kalimantan, suku Dayak menggunakan topeng dalam Tari Hudog yang sering dimainkan dalam upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari ini dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak. Topeng yang digunakan berwarna hitam, putih, dan merah yang melambangkan kekuatan alam yang akan membawa air dan melindungi tanaman yang mereka tanam hingga musim panen tiba. 

Dapat kita lihat, betapa para ahli telah bekerja keras untuk menyelidiki dan mempelajari misteri dibalik topeng. Tetapi sampai saat ini masih tersisa beberapa pertanyaan yang belum menemukan jawaban. Tidak seorangpun dapat menjelaskan mengapa manusia merasa perlu menutupi wajahnya dengan topeng. Kita juga masih belum menemukan jawaban mengapa di sebagian besar adat suku tertentu tidak mengijinkan wanita menggunakan topeng. Dan begitulah misteri dibalik topeng, terus menerus menyelubungi.

TARI TOPENG CIREBON GAYA GEGESIK

Januari 01, 2020 0

Pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yang paling terlihat berbeda adalah raut karakteristik topengnya. Topeng Panji pada gaya Gegesik digambarkan dengan karakteristik wajah berwarna putih dengan raut tenang, mata sipit dengan tatapan yang selalu merunduk tajam, hidung mancung dan senyum yang terkulum.


Di Gegesik yang merupakan salah satu pusat perkembangan kesenian cirebon, termasuk kesenian tari Topeng Cirebon, penari atau dalang tari Topeng Cirebon kini tidak sebanyak dulu ketika masa jayanya, menurut budayawan Cirebon bapak Nurdin Noer yang juga merupakan ketua Lembaga Basa lan Sastra Cirebon. Di saat masa jayanya, para penduduk yang ada di Gegesik ini bisa menari topeng. Entah itu memang keturunan dari penari topeng atau hanya seorang petani biasa. Hingga topeng menjadi hal yang wajib dipunyai di sana kala itu. Namun, sekarang sudah berubah. Sudah ada tiga dekade hal itu tidak berlaku. Sekarang jumlah penari topeng atau dalang yang ada di Gegesik bisa dihitung oleh jari.

  • Pada perkembangan sebuah kesenian termasuk tari Topeng Cirebon gaya Gegesik, perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perubahan yang terjadi pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik kebanyakan dipengaruhi oleh struktur masyarakat urban serta berperannya sekolah kesenian, modernisasi, peristiwa, politik dan perubahan pandangan pewaris topeng, terutama sekitar tahun 1980 hingga tahun 2000. Perubahan tari Topeng Cirebon gaya Gegesik terutama terjadi pada cara dan bentuk penyajiannya, sehingga pada masa itu pertunjukan topeng dicampur dengan dangdut atau yang oleh masyarakat disebut sebagai topeng-dangdut.

Musik pengiring yang digunakan pada Tari Topeng Gaya Gegesik

Lagu atau musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ternyata memiliki kesamaan dengan musik pengiring yang dipergunakan pada gaya Slangit, berikut nama-nama musik pengiringnya ;
  • Tetaluan, dikenal juga dengan nama gagalan merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
  • Kembang Sungsang, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Panji.
  • Singa Kawung, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Samba.
  • Tumenggungan, atau dikenal dengan nama bendrong merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Tumenggung atau Patih.
  • Kembang Kapas, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Rumyang.
  • Gonjing, merupakan lagu pengiring yang digunakan untuk mengiringi pagelaran tari Topeng pada babak Klana.
Gerakan tari pada Tari Topeng Cirebon Gaya Gegesik ialah :

Gerakan tari pada gaya Gegesik dapat dilihat pada pemaknaan gerak di masing-masing alur ceritanya, di antaranya adalah gerakan tangan temple bahu dan cantel pada alur cerita topeng Panji. Gerakan tangan temple bahu diartikan sebagai tiruan dari gerak jalan Dewi Anggraeni sementara gerakan cantel dapat diartikan bahwa Raden Panji akan berhasil menikahi Dewi Anggraeni.

Pada gaya Gegesik, babak (alur cerita) tariannya hampir sama dengan babak tarian yang ada di gaya-gaya tari Topeng Cirebon wilayah barat, penamaan babak pada pementasan tari Topeng Cirebon pada wilayah barat hanyalah mengambil namanya saja untuk menggambarkan kesamaan watak, para dalang topeng Cirebon pada umumnya tidak mengaitkan tariannya dengan tokoh Panji seperti dalam cerita Panji. Artinya, nama tari tersebut bukan sebagai gambaran tokoh Panji. Kata Panji hanya dipinjam untuk menyatakan salah satu karakter tari yang halus, yang secara kebetulan karakternya sama dengan tokoh Panji. Berbeda dengan di Losari, Topeng Panji justru ditarikan dalam sebuah lakonan dan penarinya benar-benar memerankan tokoh Panji seperti yang ada di cerita Panji.

Perbedaan babak antara tari Topeng Cirebon gaya Gegesik dengan Slangit yang sama-sama berasal dari Kabupaten Cirebon wilayah barat terletak pada susunan babaknya, jika pada gaya Gegesik babak rumyang ditampilkan pada urutan keempat atau kelima, maka pada gaya Slangit babak tersebut ditampilkan pada urutan ketiga. Berikut babak pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ;

1. Panji, menceritakan karakter manusia yang baru lahir, topeng Panji pada gaya Gegesik digambarkan sebagai watak dari karakter manusia yang halus, karakter ini sering disamakan dengan karakter Arjuna pada cerita Mahabarata.
2. Samba (pamindo), menceritakan karakter anak-anak.
3. Rumyang, menceritakan karakter manusia yang bergejolak menuju kedewasaan.
4. Patih (tumenggung), menceritakan manusia yang sudah dewasa.
5. Klana, menceritakan manusia yang dursila (memiliki emosi dan amarah jahat di dalam dirinya).

Sebagian budayawan Cirebon yang menyimak keterangan Ki Rawita (maestro tari Topeng Cirebon gaya Randegan) bahwa babak rumyang seharusnya ditarikan pada bagian akhir kemudian menyatakan hal yang sama jika pada zaman dahulu babak rumyang pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik juga ditarikan pada akhir pagelaran sama dengan yang terjadi pada gaya Randegan, hanya saja para budayawan Cirebon kurang mengingat kapan terjadinya peralihan babak rumyang yang sebelumnya ditarikan di akhir babak menjadi di tengah babak pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Gegesik. Ki Waryo (maestro kesenian Cirebon sekaligus dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) berpendapat bahwa peralihan babak rumyang dari akhir pagelaran menjadi babak di tengah pagelaran diperkirakan terjadi pada periode tahun 1970-an di mana pada periode tersebut para dalang tari Topeng di Cirebon banyak didatangi oleh para peneliti dan kemungkinan para peneliti ini memberikan persfektif baru bagi para dalang Topeng terutama dalang tari Topeng Cirebon gaya Gegesik sekaligus mengubah persfektif tariannya dari semula berfokus pada perkembangan jiwa yang merupakan ciri dari pementasan tari Topeng Cirebon dengan babak rumyang di akhir menjadi berfokus pada pertumbuhan manusia secara fisik yang merupakan ciri dari pementasan tari Topeng Cirebon dengan babak rumyang di tengah.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Gegesik

Di wilayah kecamatan Gegesik juga terdapat banyak dalang topeng, para dalang tersebut kebanyakan berasal dari keturunan para maestro tari Topeng Cirebon gaya Gegesik yaitu Mutinah, Lesek dan Jublag. Keturunan dalang Mutinah yang bisa ditelusuri adalah dalang Juniah, sementara keturunan dalang Lesek adalah dalang Sumarni dan yang terakhir keturunan dalang Jublag adalah dalang Baerni dan Baedah yang keduanya masih dapat dikatakan aktif walau sudah sangat jarang diundang tampil di masyarakat. 

Dalang Baerni kini pindah ke wilayah kecamatan Pegadean, Kabupaten Subang untuk mengikuti suaminya yang bekerja sebagai guru Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedangkan dalang Baedah juga mengikuti suaminya pindah ke wilayah kota Cirebon.

Wayang Topeng Malangan

Hasil gambar untuk tari topeng malangan


Kesenian ini merupakan salah satu jenis tari topeng tradisional yang khas dari kabupaten Malang, Jawa Timur. Namanya adalah Tari Topeng Malangan. 

Tari Topeng Malangan adalah pertunjukan kesenian tari dimana semua pemerannya menggunakan topeng. Kesenian ini merupakan salah satu kesenian tradisional dari Malang, Jawa Timur. Tari Topeng Malangan ini hampir sama dengan Wayang wong, namun yang membedakan adalah pemerannya menggunakan topeng dan cerita yang sering dibawakan merupakan cerita panji. 

Tari Topeng Malangan ini dilakukan oleh beberapa orang dalam satu kelompok seni atau sanggar tari dengan menggunakan topeng dan kostum sesuai tokoh dalam cerita yang dibawakan. Cerita yang angkat dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan biasanya adalah cerita panji dengan tokoh –tokoh seperti Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmarabangun), Galuh Candrakirana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari dan lain – lain. 

Dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan ini biasanya dibagi menjadi beberapa sesi. Pertama dilakukan Gending giro yaitu iringan musik gamelan yang dilakukan oleh pengrawit untuk menandakan pertunjukan akan dimulai atau memanggil penonton untuk menyaksikan. Kedua dilakukan salam pembukaan, dalam salam pembuka ini biasanya dilakukan oleh salah satu anggota pertunjukan untuk menyapa penonton dan menceritakan sinopsis cerita yang akan dibawakan. Pada bagian ketiga dilakukan sesajen, yaitu ritual yang dilakukan agar pemain dan penonton diberi keselamatan dan pertunjukan berlangsung lancar. Dan yang terakhir adalah inti acara yaitu pertujukan Tari Topeng Malangan. 

Dalam cerita yang dibawakan tersebut biasanya terdapat beberapa babak, diantaranya adalah jejer jawa, jejer sabrang, perang gagal, gunungsari – patrajaya, perang brubuh dan bubaran. Selain itu seperti halnya cerita dalam pewayangan, tokoh dalam cerita Tari Topeng Malangan ini juga terbagi menjadi beberapa ragam, diantaranya seperti bolo tengen (kesatria jawa), bolo kiwo (raksasa/klono), dewa, penari putri, dan punakawan. Untuk memerankan tokoh - tokoh pada Tari Topeng Malangan ini dibutuhkan kemampuan dalam visualisasi tokoh yang diperankan, ekspresi gerak, dan fisik yang cocok dengan tokoh. 

Dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan juga ada seorang Dalang. Selain mengatur jalannya cerita, Dalang Dalang juga bertugas untuk memberikan sesaji dan membacakan doa pada saat sesajen. Untuk musik pengiring pertunjukan Tari Topeng Malangan ini, biasanya diiringi oleh iringan musik tradirisional seperti kendang, bonang, gong dan instrument gamelan lainnya. Selain itu, pertunjukan akan semakin meriahkan dengan adanya Panjak dan Sinden. Khusus untuk Panjak biasanya dilakukan oleh salah satu penabuh musik pengiring. Selain bertugas memainkan musik dan menyanyi, Panjak juga sering berkomunikasi dengan Dalang dan penonton untuk memeriahkan acara. 

Dalam perkembangannya, Tari Topeng Malangan mulai meredup seiring dengan perkembangan jaman. Kurangnya regenerasi dan kesadaran masyarakat sangat mempengaruhi eksistensi dari kesenian satu ini. Namun beberapa sanggar tari di kabupaten Malang masih mempertahankan warisan budaya satu ini. Usaha pelestarian tersebut terbukti dengan mengadakan pertunjukan secara teratur dan dengan berbagai modifikasi dan penambahan variasi dalam pertunjukannya agar lebih menarik, namun tidak meninggalkan pakem yang ada. Usaha tersebut tidak bisa berjalan sendirian, tentunya peran masyarakat dan pemerintah sangat di butuhkan dalam menjaga dan melestarikan kesenian satu ini. 

Wayang Topeng Malang Salah satu kesenian tradisional Malang yang cukup populer adalah Wayang Topeng. Sesuai namanya, wayang ini dimainkan oleh orang yang wajahnya ditutupi oleh topeng dengan diiringi oleh alunan gamelan dan tari-tarian. 

Disebutkan bahwa Wayang Topeng atau disebut juga Tari Topeng Malang termasuk salah satu dari 8 Kesenian Jawa Timur yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Penyajian Wayang Topeng Malang biasanya membawakan lakon-lakon Panji (Siklus Panji/Roman Panji) yakni Malat, Wasing, Wangbang-Wideha dan Kisah Angraeni (Zoetmulder [1974] terjemahan Dick Hartoko, 1983:532-539). 

Mula-mula tata urutan penyajian diawali dengan Gending Giro dengan terlebih dahulu menabuh gending eleng-eleng, Krangean, Loro-loro, Gending Gondel dan terakhir adalah Gending Sapu Jagad. 

Sebagai pembukaan Wayang Topeng Malang biasa dimulai dengan Tari Beskalan Lanang (Topeng Bangtih). Kemudian secara berturut-turut dilanjut dengan Jejer Jawa (Kediri), Perang Gagal (Selingan Tari Bapang), Adengan Gunungsari-Patrajaya, Adegan Jejer Sabrang (Klana Sewandana) dan Adegan Perang Brubuh dan Bubaran (Supriyanto & Adipramono, 1997:4). 

Sejarah Wayang Topeng Malang 

Tari Topeng Malang bisa dikatakan sebagai Tradisi Budaya dan Religiusitas Masyarakat Jawa yang diketahui telah ada sejak sekitar abad ke-8 M. Masa tersebut adalah masa Kerajaan Kanjuruhan dibawah pimpinan Raja Gajayana. 

Di zaman itu topeng dibuat dari batu dan merupakan bagian dari acara persembahyangan. Kemudian topeng dikontruksi menjadi sebuah sajian seni tari pada masa Raja Erlangga. 

Merujuk pada buku Henri Supriyanto, pada awalnya Tari Topeng Malang ini dihadirkan dengan pola pikir India mengingat perkembangan sastra pada waktu itu didominasi oleh Sastra India. Selain itu juga dikarenakan nenek moyang masyarakat Jawa pada masa itu masih menganut agama Hindu Jawa. 

Wayang Topeng Malang juga mengambil cerita-cerita dari India, seperti kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana. Wayang Topeng ini dipakai sebagai media komunikasi antara kawulo dan gusti, antara raja dan rakyatnya. 

Perubahan cerita-cerita dalam Wayang Topeng bermula di jaman Kertanegara di Singasari. Pada waktu itu cerita yang diambil dialihkan ke cerita-cerita Panji yang mengisahkan kepahlawanan dan kebesaran kesatria-kesatria Jawa, terutama masa Jenggala dan Kediri. 

Beralihnya cerita di dalam kesenian ini adalah sebagai bentuk identitas kebesaran raja-raja yang pernah berkuasa di Tanah Jawa. Adapun rekontruksi cerita Panji oleh Singosari adalah suatu kebutuhan untuk membangun legitimasi kekuasaan Singasari yang mulai berkembang. 

Wayang Topeng Malangan berkembang pesat hingga masa Kerajaan Majapahit sampai ketika agama Islam masuk ke Pulau Jawa. Di masa ini, pembawaan Tari Topeng Malang kembali berubah dan lebih difokuskan sebagai media dakwah dengan menampilkan cerita-cerita Islam. 

Sunan Kalijaga pada masa Kerajaan Demak telah menciptakan topeng yang mirip dengan Wayang Purwa pada tahun 1586 (Sumintarsih dkk, 2012: 27). Topeng oleh Raden Wijaya digunakan sebagai media rekonsiliasi antara Kediri, Singosari, dan Majapahit dalam merebut kekuasaan. 

Pasang surut pun mengiringi perjalanan kesenian ini, hingga pada akhir abad XVIII tercatat adanya Wayang Topeng dipertunjukkan di Pendapa Kabupaten Malang. Saat itu Malang dipimpin oleh A.A. Surya Adiningrat atau Raden Bagoes Muhamad Sarib, 1898-1934 (Pigeaud, 1938,Supriyanto & Adi Pramono, 1997, Onghokham,1972). 

Pigeaud pada kisaran tahun 1930 telah mencatat beberapa perkumpulan Wayang Topeng yang ada di Jawa. Satu diantaranya adalah Wayang Topeng di daerah Malang Selatan yakni di Desa Senggreng, Jenggala, Wijiamba dan Turen. 

Sedikitnya jumlah seniman pengukir topeng waktu itu menjadikan kontak antar perkumpulan tetap terjalin karena tidak semua perkumpulan mempunyai pengukir topeng. Beberapa nama pengukir wayang yang dikenal waktu itu adalah Yai Nata (Dusun Slelir), Mbah Reni (Malang Utara) dan Mbah Wiji (Malang Selatan). 

Pada tahun 1950-an muncul pengukir topeng bernama Kangseng dari Dusun Jabung. Sementara Karimoen dari Dusun Kedungmonggo mulai dikenal masyarakat luas sebagai pengukir topeng sejak tahun 1970-an (Murgiyanto,Sal. 1982/1983). 

Penyebaran Wayang Topeng Malang 

· Malang Utara meliputi Polowijen, Jatimulyo, Kalisurak. 

· Malang Timur meliputi Jabung, Precet, Pucungmangsa, Wangkal, Glagahdewa, Gubugklakah, Jambesari, Cada. 

· Malang Selatan meliputi Pojok, Gedog, Undaan, Pagelaran, Kedungmonggo, Jenggala, Senggreng, Jatiguwi, Jambuer, Kopral, Pujiombo (Sumintarsih dkk, 2012: 28).

TOPENG MALANGAN

Januari 01, 2020 0

Sebagai destinasi wisata, Malang Raya tidak hanya menawarkan keindahan alamnya saja. Kota Malang juga memiliki banyak karya seni dan budaya. Salahsatunya adalah seni topeng. Menurut sejarah, salah satu pusat persebaran seni topeng di tanah Jawa, adalah di Malang, Jawa Timur. Indonesia memiliki banyak daerah penghasil seni topeng, sehingga penyebutan nama berdasarkan pada daerah penghasil seni topeng itu sebagai identitas hasil budaya tradisional setempat. Topeng yang dibuat dan berkembang di Malang, dikenal dengan sebutan Topeng Malangan.

Kesenian topeng sudah dikenal dan dimiliki oleh sebagian besar masyarakat di pelosok Nusantara dalam kurun waktu yang telah lama.Topeng dipandang bukan hanya sekedar benda seni saja, tetapi topeng dibuat pada mulanya sebagai penggambaran simbolis untuk menghormati roh nenek moyang. Dalam salah satu catatan sejarah, topeng telah dikenal sejak zaman kerajaan Kanjuruhan, raja Gajayana. Dikatakan pada masa itu topeng pertama terbuat dari emas dan dikenal dengan istilah Puspo Sariro, yang berarti bunga dari hati yang paling dalam. Topeng pada masa itu merupakan tradisi kultural dan religiusitas.

Sejarah munculnya topeng di Kedungmonggo, Kabupaten Malang, Jawa Timur sebagai salah satu dusun penghasil topeng Malang telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sayangnya ketepatan waktu tahun munculnya belum dapat dipastikan. Namun telah ada ketika Kabupaten Malang dipimpin oleh bupati Malang yang bernama Raden Sjarip bergelar Adipati Suryo Adiningrat pada tahun 1890an. Daerah-daerah tempat lahirnya topeng Malang yang masih dikenal di wilayah Kabupaten Malang diantaranya desa atau dusun Tumpang, Tulus Besar, Glagahdowo, dan Kedungmonggo. Sayangnya eksistensi topeng Malang di beberapa daerah tersebut sudah mulai surut. Sampai saat ini wilayah yang masih cukup eksis dalam pelestarian topeng Malang adalah Dusun Kedungmonggo yang merupakan salah satu dari kantong persebaran seni budaya topeng Malang dan dikenal sebagai basis tumbuhnya topeng Malang.

Dusun Kedungmonggo terletak di Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Terletak di sebelah selatan Kota Malang, kurang lebih 10 kilometer dari pusat kota. Secara geografis Dusun Kedungmonggo berada di kaki gunung Kawi. Dusun Kedungmonggo merupakan satu dari daerah pertumbuhan topeng Malang yang tergolong tua dan kuno di Kabupaten Malang. Hingga saat ini sudah mencapai generasi kelima. Di dusun inilah, terdapat sanggar seni Asmorobangun yang didirikan oleh maestro topeng Malangan, Karimoen.

CIRI CIRI TARI TOPENG MALANGAN

Ciri khas terletak pada pemaknaan bentuk hidung, mata, bibir, warna topeng dan ukirannya. Untuk warna, topeng malang memiliki 5 warna dasar, yaitu merah, putih, hijau, kuning dan hitam. Dimana masing masing warna berfungsi sebagai simbol dari karakter topeng atau tokoh yang diperankannya. Putih mewakili sifat jujur, suci dan berbudi luhur. Kuning menggambarkan kemuliaan. Hijau menggambarkan watak kedamaian. Merah menggambarkan angkara murka, licik atau bisa juga keberanian. Hitam menggambarkan kebijaksanaan. Ukiran atau ragam hias pada topeng Malang, biasanya berupa urna di bagian kening. Melati, kantil, teratai jamang, pada bagian dahi dan irah-irahan atau tutup kepala yang mewakili sifat kebangsawanan.

Tokoh topeng Klana, biasanya diidentifikasikan dengan mata bulat, hidung empok, gigi bagian atas tampak, dan berwarna merah. Karakternya adigang-adigung, agresif, keras, lugas dan tegas.
Tokoh topeng Panji, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung kebawah, gigi bagian atas tampak dan berwarna hijau. Karakternya suka bertapa,sakti, bijak dan baik budi.
Tokoh topeng Punakawan, diidentifikasikan dengan topeng tidak menutupi seluruh wajah, hanya separuh wajah dan berwarna putih. Karakternya lucu, cuek, dan bijaksana.
Tokoh topeng Putri, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung ke bawah, gigi tidak tampak dan berwarna putih. Karakternya, lembut ,rendah hati dan feminim.
Tokoh topeng Gunungsari, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung kebawah, bibir tipis dan berwarna putih. Karakternya rendah hati, lembut dan agak feminim.
Tokoh topeng Sekartaji, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung, bibir tipis dan berwarna putih. Karakternya, lembut, rendah hati dan feminin.
Tokoh topeng Ragil Kuning, diidentifikasikan dengan mata sipit, hidung mancung, gigi tidak tampak dan berwarna kuning. Karakternya lembut ,tegas dan pemberani.
Tokoh topeng Bapang, diidentifikasikan dengan mata besar, hidung besar ,gigi tampak atas dan berwarna merah. Karakternya sombong dan licik.

CARA PEMBUATAN TOPENG MALANGAN

Jika dahulu topeng terbuat dari batu bahkan emas dan logam lain, saat ini bahan dasar dalam pembuatan topeng adalah kayu. Kayu yang dipilih berasal dari pohon dengan spesifikasi khusus. Adapun peralatan yang dipergunakan untuk membuat topeng malang adalah gergaji, patuk lajeng, tatah, pengot, cat, kuas dan amplas. Gergaji digunakan untuk memotong kayu menjadi gelondongan. Patuk-lajeng digunakan untuk membuat bakalan/pola. Tatah digunakan untuk mengukir dan melubangi (lekuk-lekuk topeng), misalnya untuk membentuk mata, hidung maupun ukiran lain. Pengot digunakan untuk membentuk semuanya, yaitu membentuk karakter dan mengukir. Amplas digunakan untuk menghaluskan topeng agar ketika dicat mendapatkan hasil yang bagus. Cat dan kuas digunakan untuk proses finishing, yaitu memberi pewarnaan pada topeng sesuai dengan karakter tokoh topeng. Dalam proses penciptaan topeng Malangan, pembuatnya tidak menciptakan sendiri wajah atau bentuk topeng, melainkan meniru atau mencontoh bentuk topeng yang sudah ada. Para pengukir topeng Malangan pada umumnya adalah seniman yang memiliki kepiawaian tidak hanya sebagai pengukir topeng saja melainkan juga penari topeng, bahkan ada juga sebagai dalang. Kemampuan membuat topeng Malangan biasanya didapatkan secara turun-temurun.

Tahap pertama dalam pembuatan topeng adalah memilih jenis kayu yang cukup tua agar saat diukir atau diraut tidak rusak karena memiliki struktur kayu yang lebih kuat. Kayu dipotong-potong gelondongan memanjang kurang lebih 20 sentimeter sesuai dengan ukuran topeng pada umumnya. Tahapan ini biasa disebut membuat bakalan. Bakalan kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan di bawah pohon atau di bawah atap. Masing masing potongan kayu kemudian dibuat pola atau digambar sebelum diukir serta dilubangi sesuai bentuknya. Pertama adalah membuat hidung, kelopak mata, baru kemudian mulut, disesuaikan dengan karakternya. Kemudian kayu digosok menggunakan amplas. Masuk pada tahap finishing, topeng yang sudah halus dicat atau diwarnai. Dalam pewarnaan topeng, dahulu menggunakan pewarna alami tradisional. Untuk warna putih menggunakan bubuk batu kapur/gamping atau injet. Warna merah menggunakan bunga sumbo keling atau pupus daun jati. Warna hijau dan biru berasal dari daun koro, sedangkan warna kuning dibuat dari kunyit. Warna hitam dari arang yang ditumbuk dan dicampur dengan minyak kelapa. Bahan pewarna tradisional tersebut memiliki kelebihan karena tidak mudah kotor kena debu atau keringat, dan mampu menampilkan ekspresi yang kuat.

Pada perkembangannya, ada beberapa perubahan pada topeng Malangan salah satunya dari segi fungsi. Dahulu topeng memiliki makna religius namun saat ini topeng Malangan banyak difungsikan sebagai bagian dari seni dan budaya. Topeng Malangan menjadi kompenen yang wajib ada dalam tari topeng maupun lakon wayang topeng Malang. Wayang topeng Malang biasanya mengangkat lakon panji. Saat ini topeng diproduksi bukan hanya untuk kebutuhan seni pertunjukkan saja tetapi juga untuk dipasarkan sebagai sovenir khas Malang dengan berbagai ukuran.

KARAKTER DALAM TARI TOPENG MALANGAN

Secara umum terdapat sekitar 76 karakter tokoh yang digolongkan dalam empat kelompok besar. Kelompok pertama adalah tokoh panji yang dicirikan dengan pemuda tampan, baik hati sekaligus pemberani.

Kelompok kedua adalah tokoh antagonis yang dicirikan dengan sikap yang berbanding terbalik dengan tokoh panji. Ini disimbolkan dengan corak topeng dengan mata bulat besar dan bertaring.

Kelompok ketiga adalah abdi yang disimbolkan dengan ornamen unik pada ukiran topeng, Dan kelompok keempat adalah tokoh binatang sebagai pelengkap cerita.

PADEPOKAN TARI TOPENG DI MALANG

Saat ini, hanya terdapat dua padepokan tari topeng malangan yang bertahan, yaitu padepokan Asmoronbangun dan padepokan seni Mangun Dharma. Padepokan Asmorobangun atau Panji Asmorobangun berlokasi di Jalan prajurit slamet, dusun Kedungmonggo, desa karangpandan, kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang.

Padepokan Asmorobangun salah satunya di kelola oleh Mbah Karimun. Beliau adalah salah satu sari 27 maestro seni Tradisi yang memperoleh penghargaan MURI (Museum Rekor Indonesia) karena kegigihannya melestarikan topeng Malangan.

Sedangkan padepokan seni Mangun Dharma berlokasi di dusun Kemulan, desa Tulusbesar, kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

MACAM MACAM TOPENG INDRAMAYU

Januari 01, 2020 0

Macam-macam topeng ada delapan berdasarkan kebudayaan tari topeng dari Indramayu yang dipopulerkan oleh Mimi Rasinah, pada masa orde lama hingga puncaknya pada masa orde baru. Tari topeng Indramayu ini merupakan perkembangan dari kebudayaan tari topeng Cirebon yang memiliki lima macam topeng.

Secara semiotika kita bisa mengkaji macam-macam topeng dari beberapa sudut pandang yang bisa diakses oleh indra kita sebagai manusia. Adakah tanda dan lambang kehidupan manusia pada kebudayaan tari topeng ini?

Di dalam semiologi Roland Barthes dan para pengikutnyamengatakan bahwa denotasi adalah makna sebenarnya sesuai kamus. Konotasi adalah makna ganda yang lahir dari pengalaman cultural dan personal.

Konotasi yang menetap pada suatu komunitas bisa berakhir menjadi mitos. Ketika kekuatan mayoritas memberi konotasi tertentu kepada suatu hal secara tetap sehingga lama kelamaan menjadi mitos (makna yang membudaya).

1. Topeng panji, adalah topeng pertama yang keluar disaat pertunjukan tari topeng.Topeng panji berwarna putih keluar bersamaan gemericik ramainya suara gamelan-gamelan yang ditabuh para catrik (penabuh gamelan).Gerakan si penari dengan topeng panji perlahan, polos dan lembut serta tak banyak olah gerak.

Secara konotasi bisa dimaksudkan bahwa topeng panji itu perumpamaan kelahiran seorang manusia. Manusia yang baru lahir sebagai anak-anak yang tidak banyak gaya atau tingkah, ia juga tidak dipenuhi hasrat dan nafsu seperti orang dewasa.Kelahirannya ditandai dengan gemericik ramai suara gamelan yang artinya lahir ditengah dunia yang telah ramai dengan berbagai hal. Warnanya putih karena jiwa anak-anak pada awalnya bersih, seperti yang kita ketahui bahwa anak yang baru lahir itu bagai sehelai kertas putih kosong.

2. Topeng samba putih, merupakan topeng kedua yang keluar dalam pertunjukan tari topeng Indramayu. Ini perumpamaan masa remaja seorang manusia. Topeng ini digambarkandengan mata yang mulai terbuka dan gigi yang terlihat, itu merupakan gambaran bahwa dia telah melihat dunia dan telah terpengaruh oleh lingkungan.Gigi serta mulutnya yang mulai terbuka kecil menunjukan hasrat dan nafsunya mulai keluar. Setiap perkataannya bisa mengandung hasrat dan nafsu yang segera akan berubah menjadi tindakan, kemudian menjadi karakter setelah biasa dilakukan.

3. Topeng samba abang, berwarna merah muda. Gambaran topeng ini matanya cukup terbuka dan mulutnya cukup terbuka juga. Topeng ketiga yang keluar ini menggambarkan sosok manusia yang sudah dewasa(balig). Warna topengnya merah muda menggambarkan nafsu dan hasratnya telah matang. Pada masa ini hasrat dan nafsu tidak bisa ditahan, tetapi bisa dialihkan. Mengapa hasrat dan nafsunya tidak bisa ditahan? Karena hasrat dan nafsu adalah fitrah manusia (sifat manusia). Warna merah muda artinya tidak sepenuhnya merah. Menggambarkan bahwa hati manusia tidak pernah benar-benar sepenuhnya dikuasai oleh nafsu, selalu ada rasa kemanusiaan yang masih tersimpan di hati manusia. Sejatinya jiwa dan ruh manusia itu bersifat baik, hanya saja raga manusia mempunyai sifat keduniawian.

4. Topeng tumenggung, Topeng ini digambarkan dengan mata yang terbuka lebar, berwarna coklat dan berkumis.Dari namanya tumenggung menandakan bahwa manusia pada fase ini sedang pada masa kejayaannya. Artinya berkuasa atas dirinya sendiri, tidak ada larangan dari siapapun kecuali dari dalam dirinya yang berasal dari kesadara sepritual berupa etika dan agama. Pada fase ini manusia seringkali mengalami puber kedua. Mengapa bisa terjadi puber kedua? Karena pada fase ini manusia benar-benar ada dalam kondisi prima (masa produktif).Kondisi prima sangat mendukung godaan-godaan duniawi yang datang silih berganti. Tentu saja rasa ingin tahu dan rasa ingin mencoba tidak bisa ditahan saat situasi dan kondisi mendukung.

Topeng tumenggung berwarna coklat merupakan kombinasi dari warna merah dan hijau.Hijau menggambarkan kesuburan (kekayaan) dan merah menggambarkan hasrat dan nafsu. Saat manusia memiliki kekuasaan dan kekayaan (tahta dan harta), godaan duniawi semakin berat. Banyak orang tidak mampu mengontrol godaan duniawi pada fase ini.

5. Topeng kelana gendrung, berwarna merah dengan matanya yang melotot, mulutnyamenganga dan giginya besar,berkumis dan rambutnya terlihat tebal. Topeng kelana gendrungadalah gambaran manusia yang sedang kebingungan mencari kebenaran. Terkadang ia mengejar-ngejar hasrat dan nafsunya, kemudian menyesalinya. Ia mengulangi kesalahannya dan menyesalinya lagi dan lagi. Gerakan tarian topeng kelana gendrung sangat lincah dan berenergi. Gerakannya maju, mundur dan berputar, menggambarkan kebingungan seorang manusia karena tidak mampu mengenali jati dirinya. Saat manusia tidak mengenal jati dirinya dapat dipastikan ia tidak mampu mengendalikan macam-macam hasrat dan nafsu yang ada pada dirinya. Fase ini biasanya terbatas dan tidak berlangsung lama, karena manusia dibatasi oleh umur. Saat umur bertambah dan tubuh sudah tidak dalam keadaan prima lagi, hasrat dan nafsu pun tidak mendapat kendaraan (tubuh) yang mendukung. Terkadang fase ini juga dihentikan oleh tubuh yang mendadak sakit. Tidak sedikit manusia yang meninggal pada fase ini karena telah menempuh jalan salah.

Walau mata topeng kelana genderung melotot, tetapi tidak diartikan bahwa ia bisa melihat dunia ini dengan jelas. Matanya melotot karena ia ingin benar-benar melihat dunia ini, tetapi dunia ini penuh tipu daya. Artinya ia tertipu dengan apa yang dia lihat. Dia melupakan akhirat yang seharusnya ia lihat.

6. Topeng kelana udeng, berwarna merah tua, bentuknya wajah topengnya hampir sama dengan topeng kelana genderung, hanya warnanya yang berbeda. Warna topeng ini menggambarkan manusia yang sudah mulai beranjak tua. Gerak tarian topeng ini mulai mengurangi kelincahan tetapi masih berenergi, menggambarkan manusia yang hampir habis masa produktifnya. Energinya masih terlihat karena pada masa ini biasanya manusia menaruh harapan yang besar pada anaknya yang sudah beranjak dewasa (balig).

7. Topeng rumyang, berwarna putih kemerah merahan, matanya menjadi sayu (sipit). Topeng ini menggambarkan manusia yang sudah cukup tua, dan masa produktifnya benar-benar habis. Warnanya kembali putih karena ia mulai sadar bahwa ia menjadi tua dan segera habis waktunya di dunia. Tetapi warnannya agak kemerah-merahan, menunjukan sisa-sisa perbuatannya semasa muda yang penuh hasrat, nafsu dan angkara.

8. Topeng kiprah, berwarna putih, matanya kembali terbuka lebar. Topeng ini menggambarkan keadaan manusia yang sudah bertobat, dilambangkan dengan warnanya yang kembali ke warna putih seperti topeng panji yang pertama. Namun topeng kiprah ini matanya terbuka cukup lebar, matanya menggambarkan ia melihat dunia dan akhirat secara seimbang. Ketika seorang manusia telah bertobat, ia akan sering mengingat kematian. Karena sering mengingat kematian ia akan mencari tahu kehidupan setelah kematian (akhirat). Jadi pada fase ini, biasanya manusia merasa dekat dengan kematian, karena fase ini biasanya dialami orang yang benar-benar tua umurnya. Tentu saja semakin tua umur manusia, ia akan semakin sadar bahwa ia semakin mendekati kematian. Ketika ia sadar akan dekatnya kematian, ia akan mengatasi rasa takutnya menghadapi kematian dengan berbuat baik dan bertobat.

Topeng panji sampai topeng kiprah menggambarkan perjalanan hidup manusia dan perjalanan spiritual manusia. Semua manusia akan mengalami proses perjalanan yang sama, hanya saja waktu dan jalannya bervariasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kebudayaan tari topeng ini mengandung makna yang begitu luhur. Membuktikan bahwa kebudayaan Indonesia sangat luhur dan mengandung nilai falsafah yang teramat dalam. Dikatakan juga, untuk mengukur peradaban suatu bangsa, kita bisa melihat dari kebudayaan bangsa tersebut. Tari topeng ini adalah salah satu bukti luhurnya peradaban nenek moyang bangsa Indonesia.

Tari Topeng Tumenggung








Tari Topeng Cirebon adalah kesenian asli daerah Cirebon termasuk Indramayu, Losari, Brebes, dan Jatibarang. Tari Topeng Cirebon ini telah menginspirasi seniman Betawi bernama Djiun dalam menciptakan tari Topeng Tunggal yang kemudian dibawakan sendiri oleh isterinya, Mak Kinang. Jumlah karakter topeng dalam tari Topeng Tunggal hanya ada tiga, sedangkan Topeng Cirebon menggunakan enam sampai delapan topeng. Pada awal kemunculannya tari Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang sangat tertutup, sehingga ketika raja membawakan tari Topeng Panji dilakukan dalam ruang terbatas yang hanya disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, dan semedi. Tarian juga harus didahului oleh sajian, yang merupakan perlambang dualisme dan peng-esa-an. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, dan cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang dunia atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang dunia bawah, air putih lambang dunia atas, air teh lambang dunia tengah. Jadi dalam pertunjukan tari Topeng Cirebon sesajian merupakan lambang keanekaan yang ditunggalkan. Hal ini masih dipegang teguh hingga kini oleh para dalam topeng. 

Tari Topeng Cirebon mempunya peranan sebagai media penyebaran agama Islam di masa Sunan Kalijaga, yang bahkan menarikannya sendiri untuk menarik perhatian para pengikutnya. Konon putera Sunan Kalijaga yang bernama Pangeran Panggung mempunyai andil besar dalam penyebaran Islam melalui pertunjukan wayang dan topeng. Ketika keraton Cirebon dikuasai oleh Belanda dan raja-raja hanya diberi status pegawai, perlahan kesenian keraton mati suri lalu para penari serta penabuh gamelan berupaya mencari penghidupan di luar keraton. Topeng Cirebon yang semula bersifat sakral dan merupakan kesenian khusus di lingkungan keraton bergeser menjadi kesenian rakyat dengan segala perubahannya sesuai dengan gaya rakyat kebanyakan. Sejak itu setiap kali keraton akan mementaskan tari Topeng Cirebon maka pihak keraton terpaksa mengambil dari desa-desa hingga waktu yang cukup lama. Ketika pemerintah menggalakkan budaya daerah barulah bermunculan kembali keturunan langsung keraton yang belajar menari Topeng, bermain gamelan, dan seni keraton lainnya. 

Tari Topeng Cirebon sebenarnya menggunakan enam sampai delapan karakter dalam pertunjukkannya, tetapi yang dikenal secara luas hingga kini hanya ada lima. Pementasan tari Topeng Cirebon berlangsung dalam lima babak yang masing-masing memakan waktu ± 1 jam. Kelimanya dibawakan oleh satu orang yang disebut dalang topeng. 

Tari Topeng Tumenggung 

Topeng yang digunakan berwarna merah dengan banyak guratan, mata membulat dan terbuka, serta berkumis. Tari Topeng Tumenggung menggambarkan manusia dewasa yang telah menemukan jati dirinya. Karakter Tumenggung adalah gagah, tangguh, bersikap tegas, bertanggungjawab, dan memiliki jiwa korsa yang paripurna. Dalam struktur kerajaan, tumenggung adalah patih atau panglima perang. Kostum penari berwarna hitam yang bisa dikombinasikan dengan warna apapun sebagai penggambaran sikap bijak seorang tumenggung. Tari Topeng Tumenggung muncul di babak keempat yang biasanya dilanjutkan dengan peperangan melawan Jingga Anom. 

Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman. 

Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan. 

Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom. 

Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita. 

Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok. 

Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang. 

Filosofi Kesenian Topeng Cirebon 

Seperti disebut dalam kesejarahan tari ini, awalnya Tari Topeng Cirebon lebih dikonsentrasikan di lingkungan keraton. Seiring perkembangannya, lama-kelamaan kesenian ini kembali, melepaskan diri dan dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari tarian rakyat. 

Sementara itu, karena pada masa Islam tari ini lebih diupayakan untuk penyebaran agama, maka dikemaslah pertunjukan ini menjadi bermuatan filosofis dan berwatak atau wanda. 

Pengemasan yang dimaksud adalah lebih menggambarkan ketakwaan dalam beragama serta tingkatan sifat manusia, diantaranya sebagai berikut : 

· Makrifat (Insan Kamil) : Tingkatan tertinggi manusia dalam beragama dan sudah sesuai dengan syariat agama. 

· Hakikat : Pengambaran manusia yang berilmu, sehingga telah faham mana yang menjadi hak seorang hamba dan mana yang hak sang Khalik. 

· Tarekat : Gambaran manusia yang telah hidup dengan menjalankan agama dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. 

· Syariat : Sebagai gambaran manusia yang memulai untuk memasuki atau baru mengenal ajaran Islam. 

Sebagai hasil budaya, Tari Topeng Cirebon mengusung nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung. Unsur-unsur yang terkandung mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangatlah menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga memiliki nilai pendidikan. 

Aspek kehidupan dalam hal ini sangatlah bervariasi, termasuk kepribadian, kepemimpinan, cinta, angkara murka, serta penggambaran hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.

TARI TOPENG LOSARI

Januari 01, 2020 0

Merupakan salah satu Kesenian Daerah Cirebon yang ikut memeriahkan Festival Panji Nasional. Tari Topeng Gaya Losari mempunyai sejarah yang sangat panjang. Tari ini diciptakan oleh Panembahan Losari atau Pangeran Losari atau Pangeran Angkawijaya sekitar 400 tahun yang lalu. Pada awalnya tarian ini di ciptakan untuk menyebarkan Agama Islam.

Tari topeng losari, merupakan tari topeng yang menyatukan antara mitologi agama dengan moral manusia, yang pasrah terhadap kehendak Yang Maha Kuasa. Menjadi penari Topeng Losari bukan perkara yang mudah. Tidak sembarangan orang bisa menarikan tari topeng ini. Hanya yang memiliki garis keturunan langsung dan itupun harus melewati persyaratan dan ritual khusus baru bisa menarikan Tari Topeng Losari Cirebon ini.

Ritual yang harus dilakukan antara lain, mutih gedang artinya puasa makan pisang, puasa rawit artinya puasa yang berbuka dengan makan cabai rawit, puasa putih geni artinya puasa tidak makan tidak tidur, puasa wuwungan artinya selama puasa di kurung di dalam kamar tanpa ada yang mendatangi, puasa sedawuh artinya puasa sampai jam 12 siang. Semuanya ini dilakukan oleh Penari Tari Topeng Losari Cirebon agar nanti di dalam pementasan berjalan lancar tanpa ada halangan.

Tari Topeng Losari Cirebon dalam penampilannya menampilkan gerakan yang keras dan lembut di mana pada setiap gerak tarinya ini menggambarkan kehidupan didunia ini. Sekeras-kerasnya sikap seseorang pasti akan mempunyai sikap lembut disisi manusianya itu, dimana ini menggambarkan tentang keseimbangan antara keras dan lembut didunia ini.

Pelestarian Tari Topeng Losari Cirebon dilakukan dengan secara terus menerus dengan menampilkan tarian ini di mata masyarakat luas, karena tarian ini merupakan warisan seni dan budaya Indonesia yang harus kita jaga sampai kapanpun dan jangan sampai hilang atau punah.

Pakaian penari

Pada kebanyakan penari Topeng Cirebon terutama yang mendalami gaya-gaya tari Topeng Cirebon dari wilayah barat seperti gaya Slangit, maka akan ditemukan pakaian penarinya menggunakan kain batik khas cirebon motif mega mendung, hal ini berbeda dengan pakaian para penari Topeng Cirebon gaya Losari yang menggunakan kain batik motif parang yang merupakan motif khas batik dari budaya jawa.

Musik pengiring

Musik pengiring pada gaya Losari menggunakan gamelan yang dipengaruhi oleh budaya jawa. Pada saat tampil menari, penari Topeng Cirebon gaya Losari menjadikan kotak topeng dan para nayaga (penabuh gamelan) sebagai sebuah pusat pertunjukan, oleh karenanya banyak kelompok tari Topeng Cirebon gaya Losari yang menjaga harga diri dan kesucian ritual tariannya, beberapa kelompok tari Topeng Cirebon gaya Losari juga menolak jika pertunjukannya harus diselingi dengan pertunjukan musik dangdut atau organ tunggal sesuai dengan permintaan penonton. Berikut merupakan musik pengiring dari pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Losari ;
  • Tetaluan (gagalan), merupakan merupakan tabuhan gamelan yang dimainkan sebelum penari atau dalang topeng muncul pada panggung tari.
  • Pamindo naek barlen.
  • Barlen, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Patih Jayabadra dan Kili Paduganata.
  • Bendrong, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Jingga Anom dan Tumenggung Magangdiraja.
  • Ombak banyu, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Tumenggung Magangdiraja dari negeri Bawarna.
  • Gonjing pangebat, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Klana Bandopati.
  • Rumyang, merupakan musik untuk mengiringi pagelaran lakon Samba dalam babak rumyang.
Gerakan tari

Pada gaya Losari, gerakan tidak hanya berpaku pada pola geometris seperti yang biasa dilakukan pada kebanyakan gaya tari Topeng Cirebon, tetapi juga menggunakan pola gerakan yang luwes. Gerakan yang menjadi khas gaya Losari di antaranya adalah :
  • Gantung sikil yaitu gerakan menaikan satu kaki dan bertumpu pada kaki lainnya dengan berjinjit selama kurang lebih sepuluh menit
  • Geleyong yaitu gerakan badan didorong ke kiri dan ke kanan dengan sesekali melenggokan badan ke belakang.
  • Naga seser yaitu gerakan kuda-kuda dimana kaki penari dibuka setengah jongkok dengan kaki kiri yang ditutupi juntaian kain.
Babak tarian

Berbeda dengan kebanyakan tingkatan babak (alur cerita) tari Topeng Cirebon dari wilayah barat yang memiliki lima tingkatan yaitu ;

1. Panji, menceritakan karakter manusia yang baru lahir 
2. Samba, menceritakan karakter anak-anak 
3. Rumyang, menceritakan karakter manusia yang bergejolak menuju kedewasaan 
4. Tumenggung, menceritakan manusia yang sudah dewasa 
5. Klana, menceritakan manusia yang dursila (memiliki emosi dan amarah jahat di dalam dirinya)

Pada gaya Losari, alur cerita atau urutan tari tidak mengutamakan pada pembabakan cerita secara watak, tetapi lebih kepada teknik dan penjiwaan karakternya. Alur cerita pada tari Topeng Cirebon gaya Losari, yaitu ;

1.    Panji Sutrawinangun

Sering disebut juga Tari Pamindo karena lagu pengiringnya Pamindo. Di Topeng Losari Tari Pamindo disebut juga sebagai Tari Panji. Diberi nama Tari Panji karena tokoh wayanganya adalah Raden Panji Sutrawinangun atau tokohnya yang disebut sebagai Raden Panji Sutrawinangun atau Sebagai Tokoh Wayang Samba di Cerita Topeng Losari. 

Tari Pamindo atau Panji Sutrawinangun menggambarkan Tentang Tokoh Raden Panji yang mempunyai karakter Lembut, Lungguh dan Kharismatik. Di topeng Losari Cirebon Panji menggambarkan sifat manusia yang baru di lahirkan, di dalamnya terkandung makna kejujuran, kepolosan dan apa adanya dan kemurnian jiwa manusia yang baru menginjak bumi, di gambarkan oleh warna kedok berwarna putih kekuningan, makna “Baru Dilahirkan” di sini menggambarkan sebuah filosofi tentang kesucian dan keagungan. Karakter dari tarian ini adalah Lanyap (Sedikit Gagah) yang di dahului oleh bagian dodoan yang halus dan hampir tidak melangkah, kedoknya berparas seorang putri cantik.

2.    Patih Jayabadra

Tarian ini mempunyai karakter setengah ponggawa (gagah dan agak kasar) kedok yang di pakai adalah kedok Patih yang berwarna merah jingga. Tokoh wayangnya adalah Patih Jayabadra dalam cerita Jaka Penjaring dan Jaka Buntek.

3.    Tumenggung Magangdiraja

Karakter dari tarian ini adalah ponggawa (gagah dan agak kasar), tokoh wayangnya adalah Tumenggung Magangdiraja dari negara Tumasik. Kedok yang dipergunakan mempunyai ekspresi galak dan berwarna putih.

4.    Klana Bandopati

Tari Klana Bandopati adalah tarian yang berkarakter kuat, gagah dan kasar sehingga membutuhkan stamina yang baik, karena jenis tariannya sangat dinamis dan lebih menitik beratkan pada penguasaan intesitas tenaga dan tekhnik gerak serta penjiwaan karakter. Tokoh wayanganya adalah Prabu Klana Bandopati dari cerita Jaka Buntek, kedoknya berwarna merah tua berparas raksasa Buas.

Ciri Khas Tari Topeng Losari
Tari Topeng gaya Losari yang membedakannya dengan tari topeng gaya Cirebon lain adalah adanya 3 gerak yang menjadi ciri khas. 

Gerak tersebut yakni gerak Galeyong, pasang Naga Seser (kuda-kuda menyamping lebar) menyerupai sikap Kathakali di India, serta sikap Gantung kaki yang mirip dengan kaki patung Dewa Shiwa sebagai Nataraja dari India yang mengharuskan penarinya memperlihatkan telapak kakinya ke samping.

Dalang tari Topeng Cirebon gaya Losari

Di dalam gaya Losari, dalang yang terkenal di antaranya adalah almarhumah Sawitri dan Dewi dari sanggar tari Topeng Cirebon Purwa Kecana, perjuangan melestarikan gaya Losari kemudian diteruskan kepada keturunannya, di antaranya Taningsih, Nur Anani, Kartini, Srinarti, Warsono dan Susana.

Sanggar Tari

Sanggar Seni Purwa Kencana, jalan batu, desa Astana Langgar, kecamatan Losari. kabupaten Cirebon.

PERBEDAAN TARI TOPENG KHAS CIREBON DAN BETAWI

Januari 01, 2020 0
     Tari Topeng Cirebon


Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian tradisional yang berkembang di wilayah parahyangan (daerah Sunda di Jawa Barat yang luasnya mencakup wilayah Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, dan Cianjur). Menurut cerita rakyat yang berkembang Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang.

Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian. Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya.

Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan.

Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang. Selain sebagai media hiburan, tarian ini juga pernah dijadikan sebagai media komunikasi dakwah Islam di Cirebon pada zaman dulu.

Perkembangan Tari Topeng Cirebon Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan, hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya. tarian ini dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe.

Kostum yang digunakan biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng. Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya. Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. 

Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari, warna topeng dan alunan musik tersebut adalah perlambangan dari tokoh yang di bawakan oleh sang penari, dengan topeng putih penari menjadi seorang yang alim dan lembut, sedangkan untuk topeng yang berwarna biru penari menggambarkan karakter putri yang agun dan untuk topeng berwarna merah selayaknya pementasan seni selalu ada peran antagonis dan topeng berwarna merah ini adalah perlambangan peran tersebut yang karakternya temperamen dan tidak sabaran.

Tari topeng cirebon sendiri dapat digolongkan ke dalam lima karakter pokok topeng yang berbeda yaitu :

a. Topeng Panji, digambarkan sebagai sosok manusia yang baru lahir, penuh dengan kesucian, gerakannya halus dan lembut. Tarian ini bagi beberapa pengamat tarian merupakan gabungan dari hakiki gerak dan hakiki diam dalam sebuah filosofi tarian.

b. Topeng Samba, menggambarkan fase ketika manusia mulai memasuki dunia kanak-kanak, digambarkan dengan gerakan yang luwes, lincah dan lucu.

c. Topeng Rumyang, merupakan gambaran dari fase kehidupan remaja pada masa akhil balig.

d. Topeng Tumenggung, gambaran dari kedewasaan seorang manusia, penuh dengan kebijaksanaan layaknya sosok prajurit yang tegas, penuh dedikasi, dan loyalitas seperti pahlawan.

e. Topeng Kelana/Rahwana, merupakan visualisasi dari watak manusia yang serakah, penuh amarah, dan ambisi. Sifat inilah yang merupakan sisi lain dari diri manusia, sisi “gelap” yang pasti ada dalam diri manusia. Gerakan topeng Kelana begitu tegas, penuh dengan ambisi layaknya sosok raja yang haus ambisi duniawi.

Kelima karakter tari topeng Cirebon bila dikaitkan dengan pendekatan ajaran agama Islam dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Topeng Panji, merupakan akronim dari kata MAPAN ning kang SIJI, artinya tetap kepada satu yang Esa atau dengan kata lain Tiada Tuhan selain Allah SWT.

b. Topeng Samba, berasal dari kata SAMBANG atau SABAN yang artinya setiap. Maknanya bahwa setiap waktu kita diwajibkan mengerjakan segala Perintah- NYA.

c. Topeng Rumyang, berasal dari kata Arum / Harum dan Yang / Hyang (Tuhan). Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir.

d. Topeng Temenggung, memberikan kebaikan kapada sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh.

e. Topeng Klana, kelana artinya Kembara atau Mencari. Bahwa dalam hidup ini kita wajib berikhtiar.

 Tari Topeng Betawi


Tari Topeng Betawi adalah salah satu tarian adat masyarakat betawi di Jakarta yang menggunakan topeng sebagai ciri khasnya. Tarian ini merupakan perpaduan antara seni tari, music, dan nyanyian. Seperti pertunjukan teater atau opera, penari menari dengan di iringi suara music dan nyanyian. Tari Topeng Betawi lebih bersifat teatrikal dan komunikatif lewat gerakan.

Tari Topeng Betawi awalnya di pentaskan secara berkeliling oleh para seniman. Mereka biasanya di undang sebagai pengisi hiburan dalam acara seperti pesta pernikahan, khitanan, dan lainnya. Menurut kepercayaan masyarakat betawi, tarian ini bisa menjauhkan dari mara petaka. Namun seiring dengan perubahan jaman, kepercayaan itu mulai luntur dan menjadikan tarian ini hanya hiburan dalam acara saja. Namun walaupun kepercayaan itu mulai hilang, tarian ini tetap di adakan untuk memeriahkan pesta atau acara adat.

Dalam pertunjukannya, Tari Topeng Betawi di awali dengan lagu yang di iringi oleh music pengiring. Setelah itu para penari keluar sambil menari menggunakan topeng. Gerakan yang di lakukan para penari tergantung pada tema yang di bawakan. Tema yang di bawakan dalam tarian ini tergolong variatif di antaranya adalah kehidupan masyarakat, cerita legenda, kritik sosial, dan cerita klasik lainnya. Tari Topeng Betawi merupakan tarian yang bersifat teatrikal. Sehingga terdapat pesan yang di sampaikan melalui gerakan dalam menari. Tarian ini biasanya di iringi dengan alat music tradisional betawi seperti rebab, gendang besar, kempul, kromong tiga, kecrek, kulanter dan gong buyung.

Kostum yang di gunakan dalam Tari Topeng Betawi juga tergantung pada tema yang di bawakan, namun masih tidak lepas dari busana khas betawi. Bagi penari pria biasanya menggunakan pakaian seperti pakaian hitam, kaos oblong, celana panjang, dan kain sarung. Selain itu di bagian kepala biasanya menggunakan peci atau ikat kepala. Bagi penari wanita biasanya menggunakan kain panjang dan pakaian kebaya yang di lengkapi dengan selendang. Selain bagian kepala memakai mahkota warna warni yang biasa di sebut dengan kembang topeng. Dan tidak lupa memakai topeng yang menutupi wajah para penarinya. Topeng yang di gunakan para penari terbuat dari kayu. Topeng ini tidak memakai pengikat pada kepala, namun penari menempelkan ke wajah mereka dengan cara di gigit di bagian dalam topengnya.

Untuk menarikan Tari Topeng Betawi ini tidak lah mudah. Ada 3 hal yang wajib di miliki para penari topeng betawi ini. pertama, penari harus gendes, yaitu luwes atau lemah gemulai. Penari juga harus ceria dan tidak boleh kelihatan sedih saat menari. Terakhir, penari harus lincah dan bergerak bebas.

Dalam perkembangannya, Tari Topeng Betawi tidak hanya di gunakan sebagai acara hiburan saat pesta pernikahan atau khitanan saja. Namun tarian ini juga sering di pentaskan pada acara besar adat betawi di Jakarta. Tari Topeng Betawi telah berkembang, sehingga banyak variasi dan jenis seperti tari lipet gandes, tari topeng tunggal, tari enjot-enjotan, tari gegot, tari topeng cantik, tari topeng putri, tari topeng ekspresi, dan tari kang aji.

Arsip Blog

Visit Us

https://senzeyizal.blogspot.com/