Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seni. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2020

ESTETIKA SENI TARI

A. Pengertian Seni Tari 

pengertian seni tari


Tari sendiri memiliki arti yaitu gerakan tubuh secara berirama yang dilakukan di suatu tempat dan waktu tertentu. Gerak adalah elemen pokok dalam seni tari, di dalamnya terdapat unsur ruang, tenaga, dan waktu. 

Sangat banyak sekali aneka ragam gerakan tari di Nusantara, setiap gerakannnya memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Gerak sendiri dapat diperoleh dari eksplorasi, dengan berimajinasi, berpikir, merespon dan merasakan suatu objek yang tertangkap oleh panca indera. 

B. Simbol Dalam Karya Seni Tari 

Simbol dalam karya tari merupakan makna yang terkandung dalam sebuah tarian. Fungsi dari simbol dalam tari ini adalah menunjukkan ekspresi jiwa dan maksud-maksud tertentu. Simbol dalam tari terbagi menjadi empat, yaitu simbol gerak, busana, dan tata rias. Berikut penjelasannya : 

1. Simbol gerak 

Simbol gerak ditunjukkan untuk menyampaikan perasaan atau sebuah cerita yang terkandung. Gerakan tari dilakukan dengan banyak cara, diantaranya secara lembut gemulai, dinamis, atau patah-patah. 

Teknis melakukan gerak tari juga bagian dari bentuk simbol. Tari yang digerakkan dengan lembut gemulai menunjukkan si penari menghayati dengan penuh perasaan dan kelembutan. Gerakan tari yang dilakukan secara dinamis, menunjukkan semangat, lincah, dan bertenaga. Tari yang digerakkan secara patah-patah menyimbolkan ketegasan dan kekuatan. 

2. Simbol Busana 

pengertian seni tari

Busana merupakan salah satu simbol dalam karya seni tari. Simbol busana dapat dilihati dari keunikan desain dan ragam warnanya. Secara umum, setiap warna busana memiliki makna simbolisme masing-masing. 

· Warna biru, memiliki makna kesetiaan. 

· Warna merah, memiliki makna keberanian. 

· Warna hitam, memiliki makna kebijaksanaan dan kematangan. 

· Warna merah, memiliki makna keberanian. 

· Warna putih, memiliki makna kesucian. 

Selain warna pada busana yang dikenakan, dilengkapi juga dengan aksesoris dan perlengkapan tambahan lainnya, seperti berikut : 

· Tambahan kain atau celana panjang. 

· Mahkota atau jamang. 

· Kemben 

· Gelang kaki dan tangan 

· Selendang 

Ada empat gerakan dalam tari, yaitu : 

· Gerak kepala, diantaranya : menunduk, menggeleng, menengok, berputar, menengadah. 

· Gerak tangan, diantaranya : memutar pergelangan, melenggang, dan merentang. 

· Gerak badan, diantaranya : condong, membungkuk, tegak, tegap. 

· Gerak kaki, diantaranya : melangkah ke kiri dan kanan, berlari, berjalan di tempat, menggesek. 

Contoh : 

Tari Baris dari Bali, gerakan dalam tari baris menceritakan ketangguhan para prajurit Bali saat dahulu. Kedua pundak penari diangkat hingga sejajar dengan telinga. Kedua lengan selalu pada posisi horizontal dengan gerak yang tegas. Lalu gerakan khas lainnya adalah selendet atau gerakan delik mata penari yang selalu berubah. Gerakan itu mendeskripsikan sifat prajurit yang senantiasa berhati-hati dengan situasi di sekitarnya. 

3. Simbol Tata Rias 

Tata rias sangat dibutuhkan untuk menghias wajah agar sesuai dengan karakter tari. Simbol tata rias ini dapat dilihat setelah penari dirias. Fungsi dari simbol ini adalah untuk mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh lakon yang akan dibawakan, dan paling utama untuk memperkuat kesan ekspresi serta menambah daya tarik. 

C. Nilai Estetis Karya Seni Tari 

pengertian seni tari

Estetika merupakan sebuah keindahan yang akan tercipta dalam sebuah karya seni. Nilai estetis dalam gerak tari merupakan kemampuan dari gerak tersebut untuk menciptakan sebuah pengalaman estetis. Setiap gerak tarian pasti mempunyai nilai estetis tersendiri yang dapat diulas dan dijelaskan secara cermat. 

Hal yang perlu kalian pahami dalam mengamati karya seni tari adalah adanya faktor subjektif dan faktor objektif. Terciptanya estetis itu karena adanya penilaian perasaan dari pengamat. So guys, estetis akan tercipta karena adanya proses relasi antara karya seni tari dan tanggapan orang yang mengamati. 

Masing-masing gerak tari di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, yang mana tidak bisa lepas dari pengaruh budaya yang terdapat didaerah tersebut. Contohnya seperti tari Jawa yang gerak matanya selalu mengarah ke bawah, tari Bali yaitu matanya yang melotot menjadi ciri khas tersendiri, lalu ada juga tari saman dari Aceh yang memiliki gerakan sangat cepat sebagai ciri khasnya. 

D. Jenis Jenis Tari Berdasarkan Penyajian 

1. Tari tradisional 

Tari tradisional merupakan tari yang berkembang dalam suatu daerah tertentu yang dilestarikan secara turun menurun oleh masyarakat setempat. Pada umumnya, tari tradisional mempunyai nilai sejarah yang kuat, pedoman yang luas dan bertahan pada adaptasi kebudayaan lingkungan sekitar terciptanya sebuah tari. 

Tari tradisional diklasifikasikan lagi menjadi 3, yaitu Tari Rakyat, Tari Klasik, dan Tari Kreasi baru. Berikut penjelasannya : 

a. Tari rakyat 

Tari rakyat adalah salah satu dari jenis tari tradisional. Tari rakyat ini merupakan karya seni tari yang tercipta dan lahir dari kebudayaan masyarakat lokal. Hidup dan berkembang sejak zaman primitif dan dilestarikan secara turun menurun hingga sekarang. Tari rakyat ini dikenal juga dengan sebutan tari Folklasik. 

Pada umumnya mempunyai beberapa ciri khas tersendiri, diantaranya yaitu kental akan nuansa kondisi masyarakat, mengacu pada kebudayaan dan adat masyarakat, serta gerak, rias, dan busana yang dikemas dengan sederhana. 

b. Tari Klasik 

Tari klasik adalah jenis dari tari tradisional yang tercipta dan lahir di lingkungan kerajaan atau bangsawan, seperti lingkungan keraton jika di Indonesia. Tari klasik ini berkembang sejak zaman feodal dan dilestarikan secara turun menurun di kalangan bangsawan. 

Ciri khas dari tari klasik adalah berpacu pada standardisasi tertentu, mengandung nilai estetis yang tinggi, dan disajikan dengan penampilan yang glamour atau mewah, mulai dari gerak, tata rias, hingga busana yang dikenakan. 

c. Tari Kreasi Baru 

Tari kreasi baru merupakan tari klasik yang diaransemen, lalu dikembangkan kembali menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun dalam mengaransemen tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 

Pada umumnya, tari kreasi baru diciptakan oleh para ahli karya seni tari, seperti Sauti dan Bagong Kusudiarjo. 

E. Jenis Jenis Tari Berdasarkan Fungsi 

Tari yang merupakan seni budaya juga memiliki fungsi. Gerakan tari yang menjadi media untuk menyampaikan fungsi tersebut. Berdasarkan fungsinya, tarian di Indonesia diklasifikasi menjadi 3, yaitu : 

1. Tari sebagai sarana upacara 

Tari sebagai upacara ini merupakan tarian yang biasa dipentaskan dalam upacara-upacara adat suatu daerah. Berikut contohnya : 

a. Tari Kecak 

Tari Kecak adalah tarian yang digunakan dalam upacara adat tertentu. Tari Kecak ini merupakan tarian khas Bali. Biasa dipentaskan saat upacara pembukaan atau penutupan sebuah acara besar. 

b. Tari Gambuh 

Tari Gambuh, juga merupakan tarian yang berasal dari Bali. Tarian ini dipentaskan saat upacara odalan, hajatan keluarga bangsawan, ngaben, dan lainnya. 

2. Tari sebagai sarana hiburan 

Tari sebagai sarana hiburan adalah tarian yang berfungsi dipentaskan untuk dijadikan sebagai sarana media hiburan para masyarakat. Berikut contohnya : 

a. Tari Topeng 

Tari Topeng merupakan tradisional yang berasal dari Jawa Barat, lebih tepatnya tarian ini lahir di Cirebon. Dinamakan tari topeng karena memang penarinya memakai topeng saat tampil. Tarian ini seringkali dipertunjukkan sebagai hiburan dalam acara hajat masyarakat Cirebon. 

b. Tari Merak 

Tari Merak adalah tari tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Tarian ini mendeskripsikan keindahan dan kecantikan burung merak, biasa dipertunjukkan sebagai saran hiburan masyarakat Jawa Barat. 

c. Tari Jaipong 

Tari Jaipong adalah tarian hiburan yang juga berasal dari Jawa Barat, tepatnya yaitu dari daerah Karawang. Tari Jaipong ini diciptakan oleh H. Juanda pada tahun 1976. 

3. Tari sebagai sarana media pertunjukan 

Tari sebagai sarana media pertunjukan merupakan tari yang memiliki fungsi untuk dipentaskan kepada masyarakat luas. Dengan pertunjukan yang benar-benar disiapkan sebelum dipentaskan, masyarakat akan menikmati keindahan-keindahan yang diungkapkan melalui gerak tari. Berikut contohnya : 

a. Tari Gambyong 

Tari Gambyong adalah tarian klasik yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tarian ini dipentaskan sebagai media pertunjukan, di mana tarian ini menggambarkan sifat wanita yang diungkapkan dengan gerak halus, terampil, dan lembut serta lincah. 

b. Tari Golek Menak 

Tari Golek, juga merupakan tarian klasik yang memiliki fungsi sebagai media pertunjukan. Tari Golek ini berasal dari Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. 

c. Tari Piring 

Tari piring atau biasa disebut dengan Tari Piriang dalam bahasa Minangkabau. Tari Piring ini berasal dari Kota Solok, Sumatera Barat. Tarian yang menggunakan media pokoknya piring ini merupakan tarian yang memiliki fungsi sebagai media pertunjukan.

Tari Topeng Tumenggung








Tari Topeng Cirebon adalah kesenian asli daerah Cirebon termasuk Indramayu, Losari, Brebes, dan Jatibarang. Tari Topeng Cirebon ini telah menginspirasi seniman Betawi bernama Djiun dalam menciptakan tari Topeng Tunggal yang kemudian dibawakan sendiri oleh isterinya, Mak Kinang. Jumlah karakter topeng dalam tari Topeng Tunggal hanya ada tiga, sedangkan Topeng Cirebon menggunakan enam sampai delapan topeng. Pada awal kemunculannya tari Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang sangat tertutup, sehingga ketika raja membawakan tari Topeng Panji dilakukan dalam ruang terbatas yang hanya disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, dan semedi. Tarian juga harus didahului oleh sajian, yang merupakan perlambang dualisme dan peng-esa-an. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, dan cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang dunia atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang dunia bawah, air putih lambang dunia atas, air teh lambang dunia tengah. Jadi dalam pertunjukan tari Topeng Cirebon sesajian merupakan lambang keanekaan yang ditunggalkan. Hal ini masih dipegang teguh hingga kini oleh para dalam topeng. 

Tari Topeng Cirebon mempunya peranan sebagai media penyebaran agama Islam di masa Sunan Kalijaga, yang bahkan menarikannya sendiri untuk menarik perhatian para pengikutnya. Konon putera Sunan Kalijaga yang bernama Pangeran Panggung mempunyai andil besar dalam penyebaran Islam melalui pertunjukan wayang dan topeng. Ketika keraton Cirebon dikuasai oleh Belanda dan raja-raja hanya diberi status pegawai, perlahan kesenian keraton mati suri lalu para penari serta penabuh gamelan berupaya mencari penghidupan di luar keraton. Topeng Cirebon yang semula bersifat sakral dan merupakan kesenian khusus di lingkungan keraton bergeser menjadi kesenian rakyat dengan segala perubahannya sesuai dengan gaya rakyat kebanyakan. Sejak itu setiap kali keraton akan mementaskan tari Topeng Cirebon maka pihak keraton terpaksa mengambil dari desa-desa hingga waktu yang cukup lama. Ketika pemerintah menggalakkan budaya daerah barulah bermunculan kembali keturunan langsung keraton yang belajar menari Topeng, bermain gamelan, dan seni keraton lainnya. 

Tari Topeng Cirebon sebenarnya menggunakan enam sampai delapan karakter dalam pertunjukkannya, tetapi yang dikenal secara luas hingga kini hanya ada lima. Pementasan tari Topeng Cirebon berlangsung dalam lima babak yang masing-masing memakan waktu ± 1 jam. Kelimanya dibawakan oleh satu orang yang disebut dalang topeng. 

Tari Topeng Tumenggung 

Topeng yang digunakan berwarna merah dengan banyak guratan, mata membulat dan terbuka, serta berkumis. Tari Topeng Tumenggung menggambarkan manusia dewasa yang telah menemukan jati dirinya. Karakter Tumenggung adalah gagah, tangguh, bersikap tegas, bertanggungjawab, dan memiliki jiwa korsa yang paripurna. Dalam struktur kerajaan, tumenggung adalah patih atau panglima perang. Kostum penari berwarna hitam yang bisa dikombinasikan dengan warna apapun sebagai penggambaran sikap bijak seorang tumenggung. Tari Topeng Tumenggung muncul di babak keempat yang biasanya dilanjutkan dengan peperangan melawan Jingga Anom. 

Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman. 

Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan. 

Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom. 

Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita. 

Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok. 

Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang. 

Filosofi Kesenian Topeng Cirebon 

Seperti disebut dalam kesejarahan tari ini, awalnya Tari Topeng Cirebon lebih dikonsentrasikan di lingkungan keraton. Seiring perkembangannya, lama-kelamaan kesenian ini kembali, melepaskan diri dan dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari tarian rakyat. 

Sementara itu, karena pada masa Islam tari ini lebih diupayakan untuk penyebaran agama, maka dikemaslah pertunjukan ini menjadi bermuatan filosofis dan berwatak atau wanda. 

Pengemasan yang dimaksud adalah lebih menggambarkan ketakwaan dalam beragama serta tingkatan sifat manusia, diantaranya sebagai berikut : 

· Makrifat (Insan Kamil) : Tingkatan tertinggi manusia dalam beragama dan sudah sesuai dengan syariat agama. 

· Hakikat : Pengambaran manusia yang berilmu, sehingga telah faham mana yang menjadi hak seorang hamba dan mana yang hak sang Khalik. 

· Tarekat : Gambaran manusia yang telah hidup dengan menjalankan agama dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. 

· Syariat : Sebagai gambaran manusia yang memulai untuk memasuki atau baru mengenal ajaran Islam. 

Sebagai hasil budaya, Tari Topeng Cirebon mengusung nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung. Unsur-unsur yang terkandung mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangatlah menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga memiliki nilai pendidikan. 

Aspek kehidupan dalam hal ini sangatlah bervariasi, termasuk kepribadian, kepemimpinan, cinta, angkara murka, serta penggambaran hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.

Kamis, 26 Desember 2019

Memahami Ragam Perwatakan Kedok Pada Seni Topeng Cirebon

Desember 26, 2019 0

Seni topeng sebagai salah satu kekayaan seni tradisi Cirebon telah lama mendapat perhatian dari masyarakat pendukungnya. Salah satu genre ini tak habis habisnya terus digali oleh para peneliti baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara. Dalam beberapa catatan para pakar peneliti yang pernah melakukan kajian terhadap seni topeng didalam negeri diantaranya; Toto Amsar Suanda, Toto Sudarto, Enoch Atmadibrata, Maman Suryaatmaja, Endo Suanda, Gaos Hardja Somantri, dan lain-lain. Sedangkan para peneliti mancanegara yang pernah melakukan penelitian seputar topeng Cirebon diantaranya; Dina Burton, Laurie Margot Rose dan lain-lain.

Para peneliti topeng ini melakukan kajiannya terfokus pada aspek yang cukup beragam namun dalam lingkup seputar topeng Cirebon. Toto Amsar Suanda misalnya mengkaji seni topeng Cirebon yang lebih memfokuskan pada topeng Panji yang berkaitan dengan kajian simbolisnya. Toto Sudarto salah seorang dosen ISI Surakarta pernah mengkaji seni topeng berjudul Topeng babakan Cirebon dari kurun waktu 1900-1990, selanjutnya Endo Suanda seorang pakar etnomusikologi lulusan Wesleyan University Amerika Serikat berjudul Topeng Cirebon In Its Social context. Sedangkan peneliti Asing seperti Laurie Margot Rose pada tahun 2009 pernah melakukan penelitan topeng Cirebon dengan judul Journeying, Adaption, and Translation: Topeng Cirebon at the Margis.

Berdasarkan catatan diatas betapa menariknya potensi topeng Cirebon untuk dikaji, seperti yang telah dilakukan oleh para peneliti dengan topic yang berbeda, ada yang mengkaji dari aspek tarinya, aspek simbolis, kajian sosial, bahkan ada pula yang mengkaji dari beberapa sudut pandang lain. Diantara potensi keunikan yang telah disebutkan diatas, ada sisi lain yang cukup potensial untuk dijadikan sebagai kajian dianataranya dari aspek seni kriya kedok sebagai proferti dalam tari topeng itu sendiri. Karena penggunakaan kedok pada seni topeng Cirebon merupakan bagian yang btidak dapat dipisahkan dari aspek pertunjukannya, disamping itu kedok juga sekaligus menunjukan symbol makna pilosofis yang diwujudkan dalam bentuk seni rupa.

Klasifikasi wanda kedok

Berdasarkan kebisaan dilingkungan para seniman topeng Cirebon penggunaan istilah seni topeng sebenarnya bukan pada proferti kedoknya akan tetapi kata topeng sendiri konon berdasarkan dari sebuah kata singkatan dari kata ketop-ketop gepeng ( bahasa Jawa-Cirebon), yaitu dari sebutan aksesoris logam pipih yang terselip pada bagian sobrah (tekes) pada bagian kepala penari topeng Cirebon. Sedangkan untuk property penutup wajah pada kesenian ini disebut kedok bukan topeng.

Kedok sebagai properti pada tari topeng secara turun temurun digunakan oleh para penari dibuat dari bahan kayu yang bertekstur halus, ringan dan tahan lama. Jenis kayu yang sering dipakai dalam membuat kedok dari kebanyakan para pengrajin yang terdapat di Cirebon diantaranya; kayu waru, kayu jaran, kayu lame, namun kayu yang paling sering digunakan biasanya jenis kayu jaran. Kayu-kayu ini kemudian mengalami proses pengasapan terlebihdahulu agar tingkat kekeringan pada kayu tersebut dapat memudahkan dalam proses pembuatannya.

Dalam lingkup jenis kedok itu sendiri dalam pertunjukan topeng Cirebon terdapat dua bentuk, yaitu jenis kedok yang digunakan untuk pertunjukan wayang wong dan jenis untuk pertunjukan topeng babakan. Di Cirebon jumlah kedod wayang wong bisa mencapai 40 macam karakter bahkan mungkin bisa lebih, sedangkan pada penyajian topeng babakan umum hanya dikenal 5 hingga 9 kedok. Namun dari jumlah tersebut sebenarnya secara garis besar karakter dasarnya terdiri dari 4 tipe, (1) halus dan/atau seleh, (2) halus tapi genit atau lincah (3) gagah tapi tenang, (4) gagah dan beringas atau galak. ( Endo Suanda 94:2005).

Empat tingkatan karakter dasar bisa diidentifikasi berdasarkan bahasa ungkap (gaya) secara berbeda beda. Sehingga gaya kedok daerah yang satu dengan daerah lainnya berbeda beda. Didalam mengidentifikasi tipe karakter kedok itu sendiri sebenarnya bisa diamati dari bentuk-bentuk fisik yang ada, misalnya bisa diperhatikan dari bentuk lengkungan alis, mata,hidung, rambut dan lain-lain. Memang bagi masyarakat awan bukanlah hal yang mudah, hal ini dikarenakan bentuk-bentuk kedok pada seni tradisi kita berbentuk distorsi dekoratif bukan bentuk piguratif atau bentuk nyata. Namun bagi para pemerhati seni tradisi yang akrab dengan bentuk seperti ini akan lebih mudah memahami untuk memahaminya, bahkan mungkin tidak terbatas pada bentuk tata rupa kedoknya itu sendiri mungking dapat mengidentifikasinya lewat sisi lain misalnya dari aspek suara atau gerakannya.

Jika kita amati kedok pada seni topeng Cirebon, maka kita akan menemukan ciri dari masing-masing tokoh yang menunjukan karakter atau dalam bahasa tatarupa tradisi sering disebut wanda secara khusus dan spesifik.

Klasifikasi wanda kedok ini bisa kita jumpai pada kedok yang memiliki tipe atau karakter yang beragam. Misalnya pada kedok Panji, Tumenggung dan Klana. Sedangkan hiasan atau ornament yang tertera pada bagian kedok menunjukan makna dan nalai pilosofis pada kedok tersebut seperti nilai kesucian, keluhuran budi, dan bijaksana dan lain-lain. Ragam bentuk ornament yang sering ditemukan dalam kedok pada seni topeng Cirebon dinataranya motif kembang kliyang/kembang tiba, pilis, dan jamang. Menurut Sujana Arja salah seorang maestro topeng Cirebon asal desa slangit, kedok pada seni topeng Cirebon diyakini memiliki nilai pilosofis masing-masing. Kedok Panji menurutnya melambangkan sosok manusia agung, lambang kesabaran, ketigian budi, dan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam bentuk wujudnya kedok Panji warnanya putih polos dengan mengunakan ornamentkembang kliyang/kembang tiba pada bagian dahinya. Pada kedok Rumyang Sujana Arja menggambarkannya bentuk keiklasan, kesadaran manusia menerima apa yang akan terjadi. Tumenggung digambarkannya sebagai wujud kemuan yang sangat keras dan lambang keberanian. Sedangkan tokoh Klana atau sering juga disebut Rahwana melambangkan keberanian, menunjukan kegagahan, dan berwatak royal.

Untuk mengenal tipe-tipe wanda pada kedok Cirebon disamping secara sepintas dapat kita amati dari garis alis, bentuk hidung bahkan gerakan, sebenarnya dapat pula dilihat dari aspek lain seperti pada perwatakan dari tokohnya. Dalam tradisi seni topeng Cirebon perwatakan tokoh pada tari topeng Cirebon dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya; karakter liyepan atau lenyepan seperti pada kedok Panji. Berdasarkan klasifikasi wandanya kedok Panji terdiri dari; wanda simadu, simangu, sirentang, dan sabuk inten. Pak kandeg mengklasifikasikanwanda kedok ini menjadi; simangu, sabuk inten, sigeger gandul, simadu dan sirentang. Wandasimangu kedok Panji oleh para seniman ukir digambarkan sebagai penggambaran tokoh Panji yang sedang birahi. Wujud kedok Panji ini putih polos beparas tampan penuh daya tarik posisi bibir tersenyum. Wanda lain dari tokoh Panji adalah tipe wanda simangu, yaitu Panji yang sedang menderita, sedih atau galau. Bentuk kedoknya tentu menunjukan karakter sedih, mulut agak rapat turun sedikit, mata agak sipit dahi agak turun, letak alis agak diturun. Panji wandasirentang menggambarkan panji yang sedang marah, dan terakhir Panji wanda sabuk intenmenggambarkan Panji yang sedang berbicara.

Selanjutnya tipe wanda lanyap atau ladak. Tipe wanda kedok ini terdapat pada Samba atau Pamindo. Adapun klasifikasi wandanya; Pamindo Gimbal untuk menggambarkan kelincahan dan kegairahan. Menurut cacatan Pak Kandeg wanda ini menggunakan kembang tiba/kembang kliyang terdapat pilis pada bagian dahi dan lebih menunjukan sipat genit. Selanjutnya Wanda sidadap menggambarkan Pamindo sedang birahi, nampak tampan menggairahkan dagu agak pendek mulut tersenyum lebar. Wanda dukuh jeruk bentuknya sama dengan wanda sidadap hanya dagu lebih panjang. Terakhir pada Pamindo terdapat wanda Pilang, menggambarkan Pamindo sedang berbicara serius.

Katagori selanjutnya adalah golongan Punggawa. Dalam tradisi topeng Cirebon penggambaran tokoh ini terdapat pada topeng Tumenggung dan Patih. Pak Royani pengukir kedok asal Indramayu menyebutnya topeng sanggan. Klasifikasi tipenya yaitu wanda pelor dan mimis.Namun ada pula yang membagi dalam beberapa tipe diantaranya wanda Seta, Sencaki, danwanda Jayadrata. Jika melihat nama yang digunakan maka tokoh tumenggung ini pengukir terpengaruh kuuat darii figure tokoh dalam pewayangan sehingga untuk mengklasifikasikan wandanya mengambil dari nama tokoh wayang kulit. Kedok Tumenggung wanda Seta agak menunduk, mata kedelen, mulut terkulum gigi rapat. Bentuk kedok aga kecil biasanya menggunakkan warna merah kecoklatan. Wanda Sencaki cirri-cirinya mata kedelen, mulut terkulum gigi rapat terkesan lincah, warna kedok merah jambu. Selanjutnya wanda Jayadratabentuknya agak besar, mata bulat, gigi rapat nampak berwibawa, warna kedok merah muda.

Katagori selanjutnya adalah golongan denawa. Jenis tari topeng ini terdapat pada tokoh Rahwana/Rewana atau sering disebut juga dengan sebutan topeng Klana. Adapun ragam wanda kedok Klana diantaranya:

wanda drodos yaitu tipe karakter Klana sedang jatuh cinta. Wanda wringut adalah menggambarkan Klana memikirkan persoalan serius, berkarakter galak, mata melotot mulut agak rapat. Wanda Barong kedoknya berukurann besar, wajah kedok merah tua menggunakan jamang dan jambang hingga ke bawah dagu. Wanda kedok ini nampak gagah dan berwibawa.

Sebagai salah satu genre seni tradisi kini keberadaan seni topeng Cirebon mendapat perhatian cukup luas. Tidak sedikit pada saat ini para generasi muda di Cirebon mempelajari jenis tarian ini baik dilingkungan sanggar maupun di sekolah. Pengenalan terhadap seni rupa kedok pada seni topeng Cirebon perlu ditanamkkan sebagai salah satu bentuk penghargaann akan kekayaan khasanah senir upa tradisi Cirebon khususnya disekitar kedok. Wanda kedok itu sendiri memberikan pemahaman bagi perajin untuk mengembang berbagai macan karakter kedok yang ada. Pemahan terhadap tipe-tipe kedok ini tentu akan memberikan dorongan bagi para penari untuk dapat mengekspresikan bentuk tarian agar bisa menghayati dan menghidupkan tokoh yang diperankan.

Selasa, 26 November 2019

Nilai-nilai pendidikan karakter dalam Tari Topeng Cirebon

November 26, 2019 0


A.Pengertian Nilai

Nilai dalam bahasa inggris disebut “value” yang berarti suatu yang berharga bagi kehidupan manusia. Menurut Mawardi nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan, dimiliki dan dipercaya.

Sedangkan menurut Sidi Gazalba nilai adalah sesuatu yyang bersifat abstrak, ia
ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar atau salah dan menurut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki, disenangi dan tidak disenangi.

Dengan demikian nilai adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya dan dianut serta dijadikan sebagai acuan dasar individu dan masyarakat dalam menentukan sesuatu yang dipandang baik, benar, bernilai maupun berharga.


B. Pengertian pendidikan dan karakter

Pendidikan menurut M. Al-Naquib Al-Attas adalah suatu proses penanaman sesuatu kedalam diri manusia. Dalam pengertian ini, suatu proses penanaman mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut pendidikan secara bertahap “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan dan “diri manusia” mengacu pada penerimaan proses dan kandungan itu. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan dengan penuh kesadaran untuk memberikan pembinaan dan bimibingan pada seorang individu, sehingga daya pikir, emosional dan tindakan individu tersebut berubah menjadi lebih baik. 

Karakter berasal dari bahasa yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan
memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Menurut Ibn Maskawaih, karakter adalah sifat alami bawaan manusia yang dapat berubah denga cepat atau lambat melalui pendisiplinan serta nasihat-nasihat yang mulia dan baik.

Dari beberapa pengertian di atas maka nilai pendidikan karakter adalah suatu yang penting berguna bagi manusia dalam menjalani kehidupannya sehingga tercipta kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai yang selaras dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia dan lingkungan. Kaitannya dengan nilai-nilai pendidikan karakter dalam Tari Topeng, yaitu sesuatu yang penting, yang terdapat dalam Tari Topeng dan berguna bagi kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan.

Dalam keseharian Hajjah Juni lekat dengan Tari Topeng. Beberapa nilai-nilai pendidikan karakter dalam Tari Topeng mempengaruhi dalam keseharian Hajjah Juni. Nilai karakter yang diterapakan, yaitu:

1. Memiliki Nilai Religiustik

Relijius merupakan sikap patuh seseorang menjalankan perintah Allah SWT. Perintah disini adalah ibadah. Ibadah ini terdapat dua bagian, yaitu yang bersifat vertikal, yakni ibadah yang berhubungan manusia dengan Allah SWT. dan yang bersifat horisontal, yaitu ibadah yang hubungannya manusia dengan manusia. Ibadah yang bersifat vertikal, seperti Sholat. Sholat merupakan ibadah yang diwajibkan
oleh Allah SWT. kepada umatnya. Sebagai hamba yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. pasti menjalankan Sholat. Nilai relijius Sholat atau berdoa ini dapat dilihat dari tokoh topeng rumyang yang menggambarkan seseorang yang selalu mengharumkan atau menyebut nama tuhan seperti Sholat, berdoa atau berdzikir.

Dalam keseharian Hajjah Juni yang mencerminkan nilai relijius dapat dilihat dari rutinitas beliau dalam menjalankan Sholat yang setiap waktu dilaksanakannya, dalam menjalakan sholat terkadang Hajjah Juni tidak tepat waktu, ini dikarenakan Hajjah Juni berjualan dan melatih anak-
anak menari. Contoh lain, yaitu ketika setiap Hajjah Juni akan tampil menari Hajjah Juni selalu membaca doa agar menarinya berjalan dengan lancar. Doa tersebut dilakukan sebelum naik panggung dan sewaktu akan memakai topeng. Dari sikap Hajjah Juni yang selalu menjalankan ibadah sholat dan berdoa sebelum menari itu membuktikan bahwa pesan atau nilai relijius dalam Tari Topengmempengaruhi karakter Hajjah Juni.

Adapun ibadah yang bersifat horisontal berupa sifat dan sikap yang ditunjukan pada orang lain, yaitu :
a. Sabar

Seseorang dikatakan sabar manakala orang tersebut mampu menahan dirinya agar tidak marah. Sabar ini mudah diucapkan tetapi sulit untuk dijalankan. Nilai sabar dalam Tari Topeng dapat dilihat dari gerakan Tari Topeng Panji Sutrawinanggun yang begitu halus dan lembut. Tari ini menggambarkan kesabaran seseorang. Sikap sabar Hajjah Juni dapat dilihat ketika Hajjah Juni maelihat anak-anak menari, jika ada gerakan yang salah Hajjah Juni
membenarkan gerakannya satu per satu, dan sesekali mencontohkan didepannya, Hajjah Juni juga tidak marah ketika ada anak yang gerakannya salah terus menerus, beliau memberikan pujian yang membuat anak tersebut semangat berlatih. Kesabaran Hajjah Juni juga dapat dilihat
ketika suaminya sakit 3 hari, Hajjah Juni merawat suaminya dengan baik, tidak pernah mengeluh ataupun memarahinya. Hajjah Juni terlihat biasa saja seperti tidak ada beban. Dari sikap dan kata-kata Hajjah Juni mencerminkan bahwa beliau memiliki karakter sabar.

b. Ikhlas

Seseorang dikatakan ikhlas manakala orang tersebut tulus hati untuk memberikan sesuatu baik tenaga, pikiran atau bentuk lainnya kepada orang lain tanpa mengingat-ingatnya. Nilai ikhlas ini dapat dilihat dari gerakan Tari TopengPanji Sutrawinangun yang begitu halus dan lembut, tarian yang memerlukan penahanan diri sejak awal sampai akhir dengan kelembutan dan kehalusan gerakannya. Butuh konsentrasi yang matang dan serta harus fokus. Sikap ikhlas Hajjah Juni dapat dilihat dari kegiatannya yang melatih anak-anak tetangga yang ada disekitar untuk menari topeng tanpa dipungut biaya, kegiatan ini biasanya dilakukan setiap hari minggu, Hajjah Juni mengajak anak-anak sekitar menari topeng dengan gratis.

2. Disiplin

Disiplin merupakan sifat yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Karena disiplin orang akan dapat mewujudkan apa yang diharapkan. Disiplin diri merupakan suatu mewujudkan apa yang kita lakukan secara berulang-ulang dan terus menerus sehingga menjadikan kita terbiasa melakukan secara konsisten. Nilai disiplin ini dapat dilihat dai karakter Panji Sutrawinangun dan Patih Jayabadra. Dalam karakter Panji Sutrawinangun, karakter disiplinnya bisa dilihat dari gerakannya yang dilihat dari awal sampai akhir itu tertib. Dalam karakter Patih Jayabadra,
karakter disiplinnya bisa dilihat dari makna topeng tersebut yang menggambarkan seseorang Patih yang tegas dan disiplin dalam menjalankan tugasnya menjadi seseorang Patih.
Karkter Hajjah Juni yang menggambarkan kedisiplinan bisa dilihat dari kebiasaan tepat waktu dalam melatih anak, bila kesepakatannya jam satu siang maka Hajjah Juni sudah siap melatih jam satu walaupun anak yang datang baru sedikit. Sikap disiplin Hajjah Juni juga dapat
dilihat dari kesehariannya yang selalu melakuakan aktifitas sama seperti hari-hari sebelumnya. Seperti bangun tidur, membereskan rumah, pergi ke pasar waktunya sama, kecuali bila Hajjah Juni sakit.

3.kerja Keras

Kerja keras merupakan sifat terpuji yang harus kita miliki. Karena kerja keras merupakan kunci untuk mencapai kesuksesan. Dengan kerja keras semua pekerjaan bisa cepat selesai, tanpa
adanya sifat tersebut manusia akan cepat putus asa dan mudah menyerah. Untuk itu manusia dituntut unuk selalu memiliki dan menjaga sifat tersebut agar menjadi kehidupan tetap optimis dan berpikir positif. Nilai kerja keras ini dapat dilihat dari karakter Jingga Anom, ia sungguh-
sungguh ketika melawan Tumenggung Magangdiraja, tanpa kenal lelah ia melawannya. Nilai kerja keras juga dapat dilihat dari makna Topeng Panji Sutrawinangun yang menggambarkan seorang yang kerja keras dilihat dari sudut geraknya yang memakan tenaga yang sangat serius. Karakter Hajjah Juni yang mengandung nilai-nilai kerja keras dapat dilihat dari kesehariannya yang tak kenal lelah sebagai Ibu Rumah Tangga dan juga mengasuh cucunya.

4. Cinta Tanah Air

Dalam keseharian setiap manusia memiliki rasa cinta terhadap siapapun baik kepada seseorang maupun terhadap Negara. Cinta terhadap tanah air merupakan kesadaran seseorang untuk rela berkorban dan berbakti terhadap bangsa Indonesia. Warga Negara Indonesia memiliki kewajiban untuk cinta terhadap tanah air, rasa cinta tanah air ini bisa ditumbuhkan melalui proses pendidikan ataupun melalui mengembangkan budaya yang ada di sekitar. Nilai cinta tanah air ini dapat dilihat dari karakter Patih Jayabadra, Jingga Anom dan Tumenggung Mangandiraja yang selalu siap menjalankan tugasnya menjaga kerajaan masing-masing. Karakter cinta tanah air Hajjah Juni dapat dilihat dari kepedulian beliau terhadap kesenian Tari Topengyang ada di Cirebon, yang sampai sekarang masih dikembangkan oleh
Hajjah Juni walaupun Tari Topeng sudah tergeser oleh hiburan-hiburan lain Hajjah Juni tetap melestarikan Tari Topengdengan cara masih mengajarkan kepada anak-anak menari topeng Cirebon.

5. Tanggung Jawab

Setiap manusia harus memiliki rasa tanggung jawab, dimana rasa tanggung jawab itu harus disesuaikan dengan apa yang telah kita lakukan. Tanggung jawab adalah ciri manusia yang beradab, manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk
perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengadilan atau pengorbanan. Nilai tanggung jawab ini dapat dilihat dari makna topeng Panji Sutrawinangun, Patih Jayabadra, Jingga Anom dan Tumenggung Magangdiraja menggambarkan seseorang yang
senantiasa melaksanakan tugas dan kewajibannya . Karakter tanggung jawab Hajjah Juni dapat dilihat dari kesehariannaya sebagai seorang istri, walaupun sibuk dengan aktifitas menjaga cucunya dan melatih Tari Topeng Hajjah Juni tidak lupa akan tugasnya menjadi seorang istri. Jika suaminya baru pulang dari kantor, Hajjah Juni menyambutnya dengan membuatkan minuman hangat, menyiapkan makanan dan menemani suaminya makan setiap hari, kecuali ada pentas Hajjah Juni tidak menemani suaminya. Dan sebelum menerima tawaran pentas Hajjah Juni meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya, jika dibolehkan Hajjah Juni berangkat, jika tidak dibolehkan Hajjah Juni tidak berangkat. Dari sikap Hajjah Juni yang seperti itu kita bisa tahu rasa tanggung jawab Hajjah Juni cukup besar.

6. Toleransi

Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,
pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Nilai toleransi dalam Tari Topeng dapat dilihat dari makna topeng Tumengggung Magangdiraja. Topeng Tumenggung ini
bermakna memberikan kebaikan kepada sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih asih.

Sikap toleransi Hajjah Juni dapat dilihat dari kebiasaannya bermusyawarah mengenai waktu latihan menari, Hajjah Juni memberikan kebebasan kepada anak-anak mengenai waktu latihan Tari Topeng, karena Hajjah Juni mengerti anak-anak masih sekolah namun bila Hajjah Juni ada keperluan waktunya bisa diganti dengan hari lain, sikap toleransi Hajjah Juni juga dapat dilihat dari kebiasaannya bermusyawarah dengan suaminya tentang masalah yang ada dirumah tangganya, baik itu masalah kecil maupun masalah besar. Sikap toleransi Hajjah Juni juga dapat
dilihat dari tutur katanya yang sopan santun. Dalam bertutur kata hendaknya kita sopan santun, karena sopan santun mencerminkan sikap seseorang. Orang yang memiliki sifat sopan santun,
berarti dia mempunyai etika dalam berinteraksi dan sopan santun sangat penting agar dapat keselarasan dalam berprilaku. Nilai karakter sopan santun dalam masyarakat atau bertetangga dapat dilihat dari karakter topeng Panji Sutrawinanggun, karakter ini dapat dilihat dari sudut geraknya. Gerakan Tari Panji
yang halus dan lembut serta ciri topengnya yang bermuka putih bersih dan sedikit merunduk mencerminkan seseorang yang halus dan sopan santun. Karakter Hajjah Juni menunjukkan sikap sopan santun dalam berbicara bisa dilihat dari kesehariannya ketika berjalan bertemu tetangga atau orang yang ia kenal Hajjah Juni menegurnya, setiap kali berjalan dikerumunan Hajjah Juni selalu mengucap „permisi‟. Hajjah Juni juga tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar.

7. Tolong Menolong

Tolong menolong merupakan suatu kewajiban bagi setiap manusia. Sifat tolong menolong ini akan dapat membantu orang lain. Jika kita memerlukan bantuan, tentunya orang lain akan menolong kita. Dengan tolong menolong ini kita dapat membina hubungan baik terhadap tetangga serta dapat memupuk kasih sayang terhadap tetangga.

Topeng dan Penari mempunyai hubungan yang sangat erat, topeng tanpa Penari tentunya tidak akan berarti apa-apa, yang menjadikan topeng berarti bagi masyarakat apabila topeng tersebut digunakan Penari untuk menari, dan Penarinya pun harus menari dengan penuh penghayatan dan benar-benar memahami karakter topeng tersebut agar masyarakat sekitar memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Posisi Tari Topeng bila dihubungkan masyarakat dewasa ini sangatlah penting. Mengingat pesan-pesan yang terkandung di dalamnya berkaitan erat dengan realitas yang dihadapi masyarakat sekitar. Perlu diingat sekarang karakter generasi muda mulai menurun apa lagi dihadapkan dengan globalisasi yang semakin maju. Tidak aneh jika pemuda saling tawuran,
pencurian, minum-minuman keras, seks bebas dan lain sebagainya. Setidaknya Tari

Topeng ini dapat memberi motivasi dan pembelajaran untuk masyarakat lewat pesan-pesan yang terkandung dalam topeng dan gerakannya.

Arsip Blog

Visit Us

https://senzeyizal.blogspot.com/