Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesenian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Desember 2019

Memahami Ragam Perwatakan Kedok Pada Seni Topeng Cirebon

Desember 26, 2019 0

Seni topeng sebagai salah satu kekayaan seni tradisi Cirebon telah lama mendapat perhatian dari masyarakat pendukungnya. Salah satu genre ini tak habis habisnya terus digali oleh para peneliti baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara. Dalam beberapa catatan para pakar peneliti yang pernah melakukan kajian terhadap seni topeng didalam negeri diantaranya; Toto Amsar Suanda, Toto Sudarto, Enoch Atmadibrata, Maman Suryaatmaja, Endo Suanda, Gaos Hardja Somantri, dan lain-lain. Sedangkan para peneliti mancanegara yang pernah melakukan penelitian seputar topeng Cirebon diantaranya; Dina Burton, Laurie Margot Rose dan lain-lain.

Para peneliti topeng ini melakukan kajiannya terfokus pada aspek yang cukup beragam namun dalam lingkup seputar topeng Cirebon. Toto Amsar Suanda misalnya mengkaji seni topeng Cirebon yang lebih memfokuskan pada topeng Panji yang berkaitan dengan kajian simbolisnya. Toto Sudarto salah seorang dosen ISI Surakarta pernah mengkaji seni topeng berjudul Topeng babakan Cirebon dari kurun waktu 1900-1990, selanjutnya Endo Suanda seorang pakar etnomusikologi lulusan Wesleyan University Amerika Serikat berjudul Topeng Cirebon In Its Social context. Sedangkan peneliti Asing seperti Laurie Margot Rose pada tahun 2009 pernah melakukan penelitan topeng Cirebon dengan judul Journeying, Adaption, and Translation: Topeng Cirebon at the Margis.

Berdasarkan catatan diatas betapa menariknya potensi topeng Cirebon untuk dikaji, seperti yang telah dilakukan oleh para peneliti dengan topic yang berbeda, ada yang mengkaji dari aspek tarinya, aspek simbolis, kajian sosial, bahkan ada pula yang mengkaji dari beberapa sudut pandang lain. Diantara potensi keunikan yang telah disebutkan diatas, ada sisi lain yang cukup potensial untuk dijadikan sebagai kajian dianataranya dari aspek seni kriya kedok sebagai proferti dalam tari topeng itu sendiri. Karena penggunakaan kedok pada seni topeng Cirebon merupakan bagian yang btidak dapat dipisahkan dari aspek pertunjukannya, disamping itu kedok juga sekaligus menunjukan symbol makna pilosofis yang diwujudkan dalam bentuk seni rupa.

Klasifikasi wanda kedok

Berdasarkan kebisaan dilingkungan para seniman topeng Cirebon penggunaan istilah seni topeng sebenarnya bukan pada proferti kedoknya akan tetapi kata topeng sendiri konon berdasarkan dari sebuah kata singkatan dari kata ketop-ketop gepeng ( bahasa Jawa-Cirebon), yaitu dari sebutan aksesoris logam pipih yang terselip pada bagian sobrah (tekes) pada bagian kepala penari topeng Cirebon. Sedangkan untuk property penutup wajah pada kesenian ini disebut kedok bukan topeng.

Kedok sebagai properti pada tari topeng secara turun temurun digunakan oleh para penari dibuat dari bahan kayu yang bertekstur halus, ringan dan tahan lama. Jenis kayu yang sering dipakai dalam membuat kedok dari kebanyakan para pengrajin yang terdapat di Cirebon diantaranya; kayu waru, kayu jaran, kayu lame, namun kayu yang paling sering digunakan biasanya jenis kayu jaran. Kayu-kayu ini kemudian mengalami proses pengasapan terlebihdahulu agar tingkat kekeringan pada kayu tersebut dapat memudahkan dalam proses pembuatannya.

Dalam lingkup jenis kedok itu sendiri dalam pertunjukan topeng Cirebon terdapat dua bentuk, yaitu jenis kedok yang digunakan untuk pertunjukan wayang wong dan jenis untuk pertunjukan topeng babakan. Di Cirebon jumlah kedod wayang wong bisa mencapai 40 macam karakter bahkan mungkin bisa lebih, sedangkan pada penyajian topeng babakan umum hanya dikenal 5 hingga 9 kedok. Namun dari jumlah tersebut sebenarnya secara garis besar karakter dasarnya terdiri dari 4 tipe, (1) halus dan/atau seleh, (2) halus tapi genit atau lincah (3) gagah tapi tenang, (4) gagah dan beringas atau galak. ( Endo Suanda 94:2005).

Empat tingkatan karakter dasar bisa diidentifikasi berdasarkan bahasa ungkap (gaya) secara berbeda beda. Sehingga gaya kedok daerah yang satu dengan daerah lainnya berbeda beda. Didalam mengidentifikasi tipe karakter kedok itu sendiri sebenarnya bisa diamati dari bentuk-bentuk fisik yang ada, misalnya bisa diperhatikan dari bentuk lengkungan alis, mata,hidung, rambut dan lain-lain. Memang bagi masyarakat awan bukanlah hal yang mudah, hal ini dikarenakan bentuk-bentuk kedok pada seni tradisi kita berbentuk distorsi dekoratif bukan bentuk piguratif atau bentuk nyata. Namun bagi para pemerhati seni tradisi yang akrab dengan bentuk seperti ini akan lebih mudah memahami untuk memahaminya, bahkan mungkin tidak terbatas pada bentuk tata rupa kedoknya itu sendiri mungking dapat mengidentifikasinya lewat sisi lain misalnya dari aspek suara atau gerakannya.

Jika kita amati kedok pada seni topeng Cirebon, maka kita akan menemukan ciri dari masing-masing tokoh yang menunjukan karakter atau dalam bahasa tatarupa tradisi sering disebut wanda secara khusus dan spesifik.

Klasifikasi wanda kedok ini bisa kita jumpai pada kedok yang memiliki tipe atau karakter yang beragam. Misalnya pada kedok Panji, Tumenggung dan Klana. Sedangkan hiasan atau ornament yang tertera pada bagian kedok menunjukan makna dan nalai pilosofis pada kedok tersebut seperti nilai kesucian, keluhuran budi, dan bijaksana dan lain-lain. Ragam bentuk ornament yang sering ditemukan dalam kedok pada seni topeng Cirebon dinataranya motif kembang kliyang/kembang tiba, pilis, dan jamang. Menurut Sujana Arja salah seorang maestro topeng Cirebon asal desa slangit, kedok pada seni topeng Cirebon diyakini memiliki nilai pilosofis masing-masing. Kedok Panji menurutnya melambangkan sosok manusia agung, lambang kesabaran, ketigian budi, dan bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Dalam bentuk wujudnya kedok Panji warnanya putih polos dengan mengunakan ornamentkembang kliyang/kembang tiba pada bagian dahinya. Pada kedok Rumyang Sujana Arja menggambarkannya bentuk keiklasan, kesadaran manusia menerima apa yang akan terjadi. Tumenggung digambarkannya sebagai wujud kemuan yang sangat keras dan lambang keberanian. Sedangkan tokoh Klana atau sering juga disebut Rahwana melambangkan keberanian, menunjukan kegagahan, dan berwatak royal.

Untuk mengenal tipe-tipe wanda pada kedok Cirebon disamping secara sepintas dapat kita amati dari garis alis, bentuk hidung bahkan gerakan, sebenarnya dapat pula dilihat dari aspek lain seperti pada perwatakan dari tokohnya. Dalam tradisi seni topeng Cirebon perwatakan tokoh pada tari topeng Cirebon dibagi menjadi beberapa bagian diantaranya; karakter liyepan atau lenyepan seperti pada kedok Panji. Berdasarkan klasifikasi wandanya kedok Panji terdiri dari; wanda simadu, simangu, sirentang, dan sabuk inten. Pak kandeg mengklasifikasikanwanda kedok ini menjadi; simangu, sabuk inten, sigeger gandul, simadu dan sirentang. Wandasimangu kedok Panji oleh para seniman ukir digambarkan sebagai penggambaran tokoh Panji yang sedang birahi. Wujud kedok Panji ini putih polos beparas tampan penuh daya tarik posisi bibir tersenyum. Wanda lain dari tokoh Panji adalah tipe wanda simangu, yaitu Panji yang sedang menderita, sedih atau galau. Bentuk kedoknya tentu menunjukan karakter sedih, mulut agak rapat turun sedikit, mata agak sipit dahi agak turun, letak alis agak diturun. Panji wandasirentang menggambarkan panji yang sedang marah, dan terakhir Panji wanda sabuk intenmenggambarkan Panji yang sedang berbicara.

Selanjutnya tipe wanda lanyap atau ladak. Tipe wanda kedok ini terdapat pada Samba atau Pamindo. Adapun klasifikasi wandanya; Pamindo Gimbal untuk menggambarkan kelincahan dan kegairahan. Menurut cacatan Pak Kandeg wanda ini menggunakan kembang tiba/kembang kliyang terdapat pilis pada bagian dahi dan lebih menunjukan sipat genit. Selanjutnya Wanda sidadap menggambarkan Pamindo sedang birahi, nampak tampan menggairahkan dagu agak pendek mulut tersenyum lebar. Wanda dukuh jeruk bentuknya sama dengan wanda sidadap hanya dagu lebih panjang. Terakhir pada Pamindo terdapat wanda Pilang, menggambarkan Pamindo sedang berbicara serius.

Katagori selanjutnya adalah golongan Punggawa. Dalam tradisi topeng Cirebon penggambaran tokoh ini terdapat pada topeng Tumenggung dan Patih. Pak Royani pengukir kedok asal Indramayu menyebutnya topeng sanggan. Klasifikasi tipenya yaitu wanda pelor dan mimis.Namun ada pula yang membagi dalam beberapa tipe diantaranya wanda Seta, Sencaki, danwanda Jayadrata. Jika melihat nama yang digunakan maka tokoh tumenggung ini pengukir terpengaruh kuuat darii figure tokoh dalam pewayangan sehingga untuk mengklasifikasikan wandanya mengambil dari nama tokoh wayang kulit. Kedok Tumenggung wanda Seta agak menunduk, mata kedelen, mulut terkulum gigi rapat. Bentuk kedok aga kecil biasanya menggunakkan warna merah kecoklatan. Wanda Sencaki cirri-cirinya mata kedelen, mulut terkulum gigi rapat terkesan lincah, warna kedok merah jambu. Selanjutnya wanda Jayadratabentuknya agak besar, mata bulat, gigi rapat nampak berwibawa, warna kedok merah muda.

Katagori selanjutnya adalah golongan denawa. Jenis tari topeng ini terdapat pada tokoh Rahwana/Rewana atau sering disebut juga dengan sebutan topeng Klana. Adapun ragam wanda kedok Klana diantaranya:

wanda drodos yaitu tipe karakter Klana sedang jatuh cinta. Wanda wringut adalah menggambarkan Klana memikirkan persoalan serius, berkarakter galak, mata melotot mulut agak rapat. Wanda Barong kedoknya berukurann besar, wajah kedok merah tua menggunakan jamang dan jambang hingga ke bawah dagu. Wanda kedok ini nampak gagah dan berwibawa.

Sebagai salah satu genre seni tradisi kini keberadaan seni topeng Cirebon mendapat perhatian cukup luas. Tidak sedikit pada saat ini para generasi muda di Cirebon mempelajari jenis tarian ini baik dilingkungan sanggar maupun di sekolah. Pengenalan terhadap seni rupa kedok pada seni topeng Cirebon perlu ditanamkkan sebagai salah satu bentuk penghargaann akan kekayaan khasanah senir upa tradisi Cirebon khususnya disekitar kedok. Wanda kedok itu sendiri memberikan pemahaman bagi perajin untuk mengembang berbagai macan karakter kedok yang ada. Pemahan terhadap tipe-tipe kedok ini tentu akan memberikan dorongan bagi para penari untuk dapat mengekspresikan bentuk tarian agar bisa menghayati dan menghidupkan tokoh yang diperankan.

Senin, 23 Desember 2019

Sejarah Topeng Cirebon

Desember 23, 2019 0
Topeng Cirebon adalah topeng yang terbuat dari kayu yang cukup lunak dan mudah dibentuk namun tetap dibutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar dalam proses pembuatannya. Bahkan seorang pengrajin yang sudah ahli pun untuk membuat satu topeng membutuhkan waktu hingga satu hari. Kayu yang biasa digunakan adalah kayu jarang . Topeng ini biasanya digunakan untuk kesenian tari topeng

Semua jenis topeng ini akan dikenakan pada saat pementasan tari topeng Cirebonan yang diiringi dengan gamelan. Tepeng Cirebon yang paling pokok ada lima yang disebut juga Topeng Panca Wanda :

1. Panji, wajahnya yang putih bersih melambangkan kesucian bayi yang baru lahir

2. Samba (Pamindo), topeng anak-anak yang berwajah ceria, lucu, dan lincah

3. Rumyang, wajahnya menggambarkan seorang remaja

4. Patih (Tumenggung), topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab

5. Kelana (Rahwana), topeng yang menggambarkan seseorang yang sedang marah

Menurut Hasan Nawi, salah seorang pengrajin topeng Cirebon dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia seperti mengenakan topeng, misalnya saja pada saat marah seperti sudah mengganti topeng berwajah ceria dengan topeng kemarahan. Kalau ada orang dewasa yang sikapnya kekanak-kanakan maka ia seperti sedang mengganti topeng dewasanya dengan topeng anak-anak.

Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng Cirebon, seperti Losari, Selangit, Kreo, Palimanan dan lain-lain.

Untuk merekonstruksi kembali Topeng Cirebon yang baku, diperlukan studi perbandingan seni. Berbagai gaya Topeng Cirebon tadi harus diperbandingkan satu sama lain sehingga tercapai pola dan strukturnya yang mendasarinya. Dengan metode demikian, maka akan kita peroleh bentuk yang mendekati “aslinya”. Namun metode ini tak dapat dilakukan tanpa berbekal dasar filosofi tariannya.

Dari mana filsafat tari Topeng Cirebon itu dapat dipastikan? Tentu saja dari serpihan-serpihan tarian yang sekarang ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Untuk itu diperlukan penelusuran historis terhadapnya.

Siapakah Empu pencipta tarian ini? Sampai kiamat pun kita tak akan mengetahuinya, lantaran masyarakat Indonesia lama tidak akrab dengan budaya tulis. Meskipun budaya tulis dikenal di Keraton-keraton Indonesia, tetapi tidak terdapat kebiasaan mencatat pencipta-pencipta kesenian, kecuali dalam beberapa karya sastranya saja.

Di zaman mana?

Kalau pencipta tidak dikenal, sekurang-kurangnya di zaman mana Topeng Cirebon ini telah ada? Kepastian tentang ini tidak ada. Namun ada dugaan bahwa di zaman Raja Majapahit, Hayam Wuruk, tarian ini sudah dikenal. Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja ini menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit. Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja).

Dengan demikian dapat diduga bahwa Topeng Cirebon ini sudah populer di zaman Majapahit antara tahun 1300 sampai 1400 tarikh Masehi. Mencari dasar filosofi tarian ini harus dikembalikan pada sistem kepercayaan Hindu-Budha-Jawa zaman Majapahit. Tetapi mengapa sampai di Keraton Cirebon? Setelah jatuhnya kerajaan Majapahit (1525), tarian ini rupanya dihidupkan oleh Sultan-sultan Demak yang mungkin mengagumi tarian ini atau memang dibutuhkan dalam kerangka konsep kekuasaan yang tetap spiritual. Dalam babad dikisahkan bahwa Raden Patah menari Klana di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Ini justru membuktikan bahwa Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

Dari Demak tarian ini terbawa bersama penyebaran pengaruh politik Demak. Demak yang pesisir ini memperluas pengaruh kekuasaan dan Islamisasinya di seluruh daerah pesisir Jawa, yang ke arah barat sampai di Keraton Cirebon dan Keraton Banten. Inilah sebabnya berita-berita Belanda menyebutkan keberadaan tarian in di Istana Banten. Banten dan Cirebon, sedikit banyak membawa kebudayaan Jawa-Demak, terbukti dari penggunaan bahasa Jawa lamanya. Sedangkan Demak sendiri dilanjutkan oleh Pajang yang berada di pedalaman, kemudian digantikan oleh Mataram yang juga di pedalaman.

Topeng Majapahit ini, dengan demikian, hanya hidup di daerah pesisir Jawa Barat, sedangkan di Jawa pedalaman topeng tidak hidup kecuali bentuk dramatik lakon Panjinya. Kalau topeng tetap hidup dalam fungsi ritualnya, tentunya juga berkembang di kerajaan-kerajaan Islam Jawa pedalaman. Rupanya topeng dipelihara di Jawa Barat karena pesona seninya. Topeng sangat puitik dan kurang mengacu pada mitologi Panji yang hinduistik. Topeng lebih dilihat sebagai simbol yang mengacu pada realitas transenden. Inilah sebabnya sultan-sultan di Jawa Barat yang kuat Islamnya masih memelihara kesenian ini.

Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan asli, di mana pun di Indonesia, dalam hal penciptaan, adalah emanasi. Paham emanasi ini diperkaya dengan kepercayaan Hindu dan Budha. Paham emanasi tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.

Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi. Pemahaman ini umum di seluruh Indonesia purba, bahkan di Asia Tenggara dan Pasifik. Dan filsuf-filsuf Yunani pra-Sokrates, filsuf-filsuf alam, juga mengenal pemahaman ini. Boleh dikatakan, pandangan bahwa segala sesuatu ini terdiri dari pasangan kembar yang saling bertentangan tetapi merupakan pasangan, adalah universal manusia purba.

Mengandung semua sifat ciptaan Sang Hyang Tunggal Indonesia purba ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tiak ada perbedaan, tunggal mutlak. Di Cina purba, Sang Hyang Tunggal ini disebut Tao.

Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan laut. Dalam tarian ini digambarkan lewat tari Panji, yakni tarian yang pertama. Tarian Panji ini merupakan masterpiece rangkaian lima tarian topeng Cirebon. Tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang aneka dalam pasangan-pasangan.

Inilah sebabnya kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah Kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.

Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni “Pamindo-Rumyang”, dan “Patih-Klana”. Inilah sebabnya kedok “Pamindo-Rumyang” berwarna cerah, sedangkan “Patih-Klana” berwarna gelap (merah tua).

Gerak tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

Topeng Panji menyimbolkan peristiwa besar universal, yakni terciptanya alam semesta beserta manusia ini pada awal mulanya. Topeng Panjing atau topeng Cirebon ini mengulangi peristiwa primordial umat manusia, bagaimana “penciptaan” terjadi. Tidak mengherankan kalau di zaman dahulu hanya ditarikan oleh para raja. Raja mewakili kehadiran Sang Hyang Tunggal itu sendiri, karena dalam paham kekuasaan Jawa, Raja adalah Dewa itu sendiri, yang dikenal dengan paham dewa-Raja.

Topeng Cirebon adalah gambaran sangat puitik tentang hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya. Tari Panji adalah tarian Sang Hyang Tunggal itu sendiri, dan tarian-tarian lainnya yang empat adalah perwujudan dari emanasi diriNya menjadi pasangan-pasangan sifat yang saling bertentangan.

Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa raja menarikan Panji dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

Tarian juga harus didahului oleh persediaan sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesaan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.


Selasa, 17 Desember 2019

Estetika Dalam Tari Topeng

Desember 17, 2019 0
Topeng merupakan benda yang dipakai di atas wajah. Pada umumnya topeng dipakai untuk mengiringi musik kesenian daerah yang melambangkan nilai-nilai penghormatan, sesembahan atau memperjelas watak serta karakter dalam mengiringi kesenian. Topeng telah ada di Indonesia sejak zaman prasejarah. Secara luas digunakan dalam tari topeng yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur.


Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Pada masa modern saat ini topeng merupakan salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, namun sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit diterjemahkan dengan bahasa logika.

Sama halnya dengan topeng Cirebon Jawa barat, terbuat dari kayu hasil bumi hutan Cirebon seperti kayu pule dan kayu sengon yang memiliki kriteria lunak dalam pengerjaannya awet dan kuat, akan tetapi harus membutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta waktu yang cukup dalam proses penciptaannya. Secara turun temurun kerajianan khas topeng Cirebon yang merupakan hasil kebudayaan Kota Cirebon tidak hanaya dipandang sebagai kedok, topeng atau penutup wajah. Sejarah menunjukkan kemunculan seni karya Topeng Cirebon di mulai pada masa kesultanan Cirebon yang bermuatan seni bernafaskan ajaran agama islam dan dipergunakan untuk kepentingan dakwah.

Menurut literatur, Topeng Cirebon merupakan gambaran sangat puitik mengenai hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangan berbeda-beda sifatnya.

Topeng Cirebon pada awalnya berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon dengan cepat mengalami transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaan yang terjadi pada saat ini, yakni berkembangnya berbagai gaya Topeng Cirebon seperti, Losari, Selangit, Kalianyar, Kreo, Palimanan serta berkembang di pelosok-pelosok Kecamatan Klangenan, Plumbon, serta Arjawinangun.

Topeng Cirebon dikenal sebagai Panca Wanda (Lima Rupa) yang merupakan alat bantu Tarian Topeng Cirebon. Berdasarkan kepercayaan dari sejarah dan budaya Cirebon, Topeng Babakan Lima Wanda memiliki fakta-fakta yang dapat diukur dengan pendekatan spiritual dan sifat-sifat manusia di Cirebon, sehingga di dalamnya memiliki muatan makna keilmuan yang dimiliki oleh peradaban budaya asli Cerebon, kelima jenis Topeng Babakan Cirebon, diantaranya adalah :

Topeng Panji, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang halus. Topeng Panji memiliki simbol berhati putih, bersih, tabularasa ibarat bayi yang baru lahir. Warna topengnya putih polos hingga pakaian serba putih. Komposisi gerakan tari di praktekkan secara lembut, tenang dan sederhana, walaupun alunan musiknya sangatlah dinamis, yang memebri arti akan dedikasi manusia yang suci dan tidak mudah tersentuh oleh hiruk pikuk duniawi yang mengarah kepada hal negatif.

Topeng Samba, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang sedang teduh. Topeng Samba juga dikenal sebagai topeng anak-anak dalam menggambarkan kehidupan manusia Cirebon yang dapat dilihat dari fase biologis anak-anak. Dengan gerakan keceriahan yang menunjukkan adanya gaya hidup yang bahagia, hal ini dibuktikan mutu tariannya yang centil, lucu, genit dan kekanak-kanakan menunjukkan kesegaran ekspresi topeng Samba, yang berwarna putih serta berkarakter hiasan dibagian wajah atas seperti rambut, yang dibalut dengan lincahnya gerakan tari mengikuti irama musik.

Topeng Rumyang, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang sudah melepaskan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang harum. Topeng Rumyang memiliki warna merah jambu yang merupakan asal kata dari Arum / Harum dan Yang / Hyang (Tuhan). Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir. Menggambarkan kehidupan tentang anak manusia pada masa pencarian ati diri. Memiliki posisi karakter yang selalu penasaran akan Kebesaran Tuhan, dan menjadikan simbol klasik bagi manusia yang lahir di tanah Cirebon, dimana dirinya telah memasuki fase remaja. Serta menunjukkan kepribadian yang tegas, dan terstruktur dengan baik selayaknya pendewasaan umat manusia.

Topeng Patih (Tumenggung), merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang sudah dewasa. Topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab. Topeng Temenggung memaknai simbol dari kebaikan kapada sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh, senantiasa berbuat baik untuk sesamanya. Sehingga konsep karakter topeng Tumenggung mengindikasikan dari gambaran kehidupan tentang para bangsawan kraton.

Topeng Kelana (Rahwana), merupakan topeng yang menggambarkan jiwa manusia yang penuh dengan hawa nafsu dan emosi. Sebagian besar masyarakat Cirebon memaknai topeng Kelana ini sebagai simbol angkara murka, kerakusan manusia. Kriteria antara adanya simbol angkara murka ini menjadi ragam pendapat dan menjadi pusat perhatian seniman, budayawan dan pengamat topeng. Pesan yang umum dari bentuk topeng berwarna serba merah dengan kumis tebal dan tatapan mata tajam serta gagah. Mampu mengekspresikan diri secara pribadi dengan menggambarkan sebagai manusia yang mampu mengendalikan nafsu amarah. 
 Simbol yang kuat dalam karekter penciptaan Topeng Cirebon adalah bentuk nyata dari ragam penciptaan semesta berdasarkan kepercayaan Indonesia purba dimasa peradaban Hindu-Budha-Majapahit, yang mampu memahami segala bentuk ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal, yang telah menyempurnakan umat manusia di muka bumi. Secara khusus, Topeng Cirebon membangun pahamisme dari diri manusia tentang gambaran yang sangat puitik, dari hadirnya alam semesta serta umat manusia. Kemudian ditangkap oleh akal manusia bahwa, Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya, bergerak lambat dan pasti mampu menghasilkan kolaborasi seni dari rupa berkarakter unsur kemanusiaan, yang tersusun dari kerajianan seni berbentuk topeng yang dikenal saat ini.

Implementasi nyata yang dikembnagkan dalam dimensi Topeng Cirebon yang dikomunikasikan kepada masyarakat adalah dengan menggunakan media pendukung seperti, olah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu, diiringi oleh tetabuhan atau bunyi-bunyian, dan disebut musik sebagai pengiring gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Ekspresi tari yang terbalut dengan karakter penokohan topeng menjadi alat utama komunikasi untuk menyampaikan pesan sakral dan yang mampu menjiwai diseluruh benak para penikmat seni olah gerak ini.

Rekontruksi Topeng Cirebon dilihat dari kacamata sejarah dan budaya, tidak terlepas dari unsur kesenian tari. Dapat dipastikan bahwa, serpihan-serpihan tarian yang saat ini ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Artinya gerakan tari bermuatan dari unsur karakter penokohan yang terdapat dalam penjiwaan bentuk topeng tersebut sehingga, simbol yang memadukan unsur tari dan seni musiknya tidak terlepas dari dimensi keharmonisasian wajah topeng yang di komunikasikan kepada publik diatas pentas seni khasa kecirebonan.

Tari Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Bukanlah hiasan, tontonan maupun hiburan rakyat, berdasarkan catatan kitab-kitab lama seperti Babatan Jawa menjelaskan dimana ketika seni tari di pertunjukanan didalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya kalangan bangsawan kerajaan, dan untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

Sejak terciptanya Tari Topeng Cirebon, dimasa lalu menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh kalangan bangsawan atau kerajaan.

Namun, di zaman modernisassi saat ini, kesenian khas kota Cirebon terwariskan secara alamian dan turun temurun, sehingga kekayaan budaya dari seni tari topeng Cirebon, mampu membangun sistem ekonomi kelompok seni yang telah menguasai seni keceribonan secara menyeluruh dan diperkuat dengan tingginya kesadaran, akan menjunjung harkat, derajat serta martaban dari peradaban seni budaya lokal khas Cirebon. Hingga kini seni Tari Topeng Cirebon mulai dikenal diseluruh penjuru tanah Pasundan, khususnya wilayah Utara Jawa Barat. Pengembangan seni budaya terus digiatkan oleh sinergi berkuatan dari Pemerindah Daerah (pemda) Kota Cirebon (Agus Sukmadi)

Kamis, 12 Desember 2019

MENGENAL INDONESIA MELALUI BUDAYA

Desember 12, 2019 0




Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdapat sebanyak 17.504 buah pulau. Salah satu pulau terbersar yang terletak di Indonesia yaitu, pulau Sumatera. Sumatera ini mempunyai budaya-budaya yang unik dan bervariasi. Indonesia terdiri dari 33 provinsi yang tersebar di berbagai pulau dan pulau-pulau tersebut dipisahkan oleh lautan. Wilayah yang dibatasi oleh lautan tersebut menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang masyarakatnya sangat heterogen. Masyarakat Indonesia terdiri atas beratus-ratus suku bangsa, maka kebudayaan yang berkembang di Indonesia pun beraneka ragam sebagaimana tercermin dalam ungkapan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Masing-masing suku bangsa di Indonesia mengembangkan kerangka acuan yang dapat dipergunakan sebagai ciri pengenal yang membedakan kelompok sosial yang satu dengan yang lainnya. Kerangka acuan itu terwujud dan tercermin dalam tujuh unsur kebudayaan yang universal. Adapun unsur-unsur kebudayaan yang universal itu ialah bahasa, organisasi sosial, ekonomi, pengetahuan, teknologi, kesenian dan religi. Ciri pengenal yang berbeda di setiap daerah ini menghasilkan kebudayaan yang beranekaragam di Indonesia yang menjadi kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah ini ialah kebudayaan-kebudayaan lama dan asli yang terdapat di daerah-daerah di seluruh Indonesia. Kebudayaan daerah tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh daerah di Indonesia.

Masyarakat Indonesia yang terdiri dari suku-suku bangsa yang besar maupun yang kecil masing-masing mengembangkan kebudayaan sebagai perwujudan berbangsa aktif mereka terhadap lingkungan pendukungnya masing-masing. Keanekaragaman budaya Indonesia diantaranya adalah bahasa, agama dan kepercayaan, lagu, tari-tarian, alat musik, kuliner dan sebagainya. Keragaman budaya ini menjadi aset yang tak ternilai harganya, sehingga keragaman budaya ini harus dilestarikan serta dikembangkan.

Kebudayaan cenderung untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan serta perkembangan masyarakat pendukungnya. Masing-masing masyarakat akan menanggapi, menerima, mengolah dan menyerap unsur-unsur kebudayaan asing dalam kerangka acuan yang menguasai mereka selama ini. Kemajuan teknologi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kebudayaan. Teknologi dewasa ini berkembang sangat cepat. Budaya asing berpotensi untuk masuk dan berkembang di Indonesia. Budaya asing ini dapat merupakan budaya yang positif maupun budaya negatif. Kebudayaan asing yang positif dapat menambah kekayaan budaya Indonesia akan tetapi tidak semua kebudayaan asing dapat diterima di Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu mencegah dan mengantisipasi kebudayaan asing yang bersifat negatif agar tidak merusak kebudayaan asli Indonesia.

Dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia, proses pembangunan bangsa atau integrasi nasional justru menuntut perubahan, pergeseran, dan penyesuaian nilai-nilai budaya. Di kota-kota besar ataupun di daerah dimana pergaulan antar suku berlangsung, bukan tidak mungkin disamping kebudayaan-kebudayaan suku bangsa yang bersangkutan berkembang, juga berkembang kebudayaan baru yang dapat dipergunakan sebagai referensi dalam tindakan sosial masing-masing anggota masyarakat suku bangsa yang terlibat. Kebudayaan nasional dapat menjadi sistem referensi atau kebudayaan yang memadai.
Kebudayaan nasional dapat dipahami sebagai kebudayaan bangsa yang sudah berada pada posisi yang memiliki makna bagi seluruh bangsa Indonesia. Dalam kebudayaan nasional terdapat unsur pemersatu dari Banga Indonesia yang sudah sadar dan menglami persebaran secara nasional. Di dalamnya terdapat unsur kebudayaan bangsa dan unsur kebudayaan asing, serta unsur kreasi baru atau hasil invensi nasional.
Kebudayaan nasional secara mudah dimengerti sebagai kebudayaan yang diakui sebagai identitas nasional. Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni: Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Dengan demikian Pembangunan Nasional merupakan pembangunan yang berbudaya. Disebutkan juga pada pasal selanjutnya bahwa kebudayaan nasional juga mencermikan nilai-nilai luhur bangsa. Tampaklah bahwa batasan kebudayaan nasional yang dirumuskan oleh pemerintah berorientasi pada pembangunan nasional yang dilandasi oleh semangat Pancasila.

Kesadaran akan adanya perbedaan kebudayaan diantara penduduk di kepulauan Nusantara ternyata cukup tebal. Setidak-tidaknya mereka menyadari akan adanya perbedaan bahasa suku bangsa maupun beberapa adat istiadat yang menjadi kerangka acuan dalam kegiatan sosial mereka sehari-hari, sehingga masyarakat Indonesia memerlukan alat pemersatu yaitu kebudayaan nasional. Dengan cara demikian kebudayaan nasional tidak hanya akan kuat berakar pada kebudayaan lama dan asli melainkan juga terjamin kelestariannya karena menjadi milik para pendukung kebudayaan daerah yang merasa ikut mengembangkan dengan sumbangan unsur-unsur kebudayaan daerah masing-masing.

Nilai-nilai budaya Indonesia saat ini mulai terkikis karena adanya kebudayaan asing terutama budaya barat (westernisasi) yang masuk. Kemjuan teknologi yang tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup dan kesadaran yang tinggi untuk menggunakan teknoilogi dengan bijak juga menjadi pemicu semakin tersisihnya kebudayaan daerah dan nasional. Selain itu, beberapa kebudayaan asli Indonesia juga sempat diklaim oleh negara lain sebagai kebudayaan asli mereka hal ini tentu saja harus ditindaklanjuti. Kebudayaan nasional merupakan alat pemersatu bangsa yang harus selalu dipelihara, akan tetapi kebudayaan daerah juga perlu dilestarikan dan diperhatikan karena kebudayaan yang beraneka ragam di Indonesia merupakan modal utama yang dapat dipasarkan lewat pariwisata untuk meningkatkan penghasilan devisa. Melestarikan dan mempertahankan kebudayaan ini adalah tanggung jawab bersama bangsa Indonesia yaitu pemerintah bersama dengan seluruh lapisan masyarakat.
Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk dapat melestarikan kebudayaan Indonesia. Kecintaan pada kebudayaan Indonesia harus mulai ditumbuhkan kembali dari sekarang pada seluruh lapisan masyarakat terutama generasi muda. Terutama pada usia dini agar rasa nasionalisme itu lebih bertahan lama dalam diri masyarakat. Pengenalan Indonesia sejak dini juga dapat menumbuhkan jiwa patrotisme, yang diharapkan anak-anak tersebut memiliki keinginan untuk memperbaiki Indonesia serta mengembangkannya dan lebih mencintai Indonesia.

Banyak upaya yang bisa dilakukan mulai saat ini seperti kerjasama antara lembaga pendidikan dan organisasi-organisasi kemasyarakatan untuk memperkenalkan kembali kebudayaan Indonesia ke seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia.

Jumat, 06 Desember 2019

Upaya melestarikan kebudayaan melalui seni tari

Desember 06, 2019 0
Negara Indonesia adalah salah satu negara yang kaya akan keberagamannya. Terlihat bahwa dari Sabang sampai Merauke terdapat banyak keberagaman baik suku, bahasa, budaya dan agama. Dengan keberagaman yang ada diharapkan tidak menjadi suatu penghambat untuk tetap menjadi sebuah Negara yang kokoh menggenggam erat persatuan dan kesatuan antara suku satu dengan yang lainnya sehingga akan tercipta suatu Negara yang damai. Dengan keberagaman suku yang dimiliki oleh Negara Indonesia ternyata memunculkan budaya yang bermacam ragam, salah satunya yaitu keberagaman tari tradisional. Tari Tradisional merupakan tarian yang berasal dari gerakan anggota badan yang berirama, biasanya diiringi bunyi-bunyian, dilakukan secara turun temurun sehingga menjadi adat kebiasaan.

Bangsa kita juga memiliki kurang lebih 742 bahasa daerah, 33 pakaian adat dan ratusan tarian adat,. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang harus kita syukuri dan lestarikan. Dengan keanekaragaman kebudayaannya, Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.

Namun yang berkembang saat ini banyaknya mayoritas orang yang sudah mulai mengabaikan bahkan melupakan kebudayaan bangsa. Generasi muda sekarang lebih tertarik dengan tarian-tarian modern dari pada tari tradisional seperti salah satunya yaitu banyak kalangan muda banyak yang menyukai Dance. Padahal tarian tradisional merupakan salah satu asset bangsa Indonesia yang sangat berharga. Untuk meningkatkan minat generasi muda untuk mempelajari tarian tradisional bisa dilakukan dengan cara memberikan wadah di sekolah-sekolah seperti di jenjang pendidikan SD, SMP dan SMA/K berupa organisasi sebagai sarana untuk mengajarkan tarian tradisional bagi para siswa untuk mengikuti pelatihan tari tradisional. Atau bahkan mewajibkan siswa di jenjang pendidikan untuk mengikuti ekstrakurikuler atau pengembangan diri tari tradisional. Seperti di sekolah SMP 1 Arjawinangun yang mengadakan pengembangan diri tari topeng dengan tujuan menanamkan rasa cinta terhadap kebudayaan seni tradisional serta melestarikan budaya seni tari yang khas cirebon salah satunya yaitu tari topeng, siswa siswa tersebut dilatih oleh ibu BAedah salah satu seorang yang memiliki sanggar tari yaitu Sanggar Purbasari khususnya Tari Topeng. Beliau berasal dari gegesik yang bertempat tinggal di cirebon, beliau mengajarkan tari topeng cirebon versi gegesik. Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon.

Berikut dokumentasi saya bersama teman teman saat melakukan observasi tentang tari topeng.

















Dokumentasi Poto tersebut diambil di SMP 1 Arjawinangun, dimana jadwal mereka berlatih, mereka mengikuti pengembangan diri disekolah tersebut yaitu tari topeng, yang diajarkan oleh bu BaEdah yaitu beberapa jenis tari topeng diantaranya samba, panji, rumyang, tumenggung, klana. Ini merupakan upaya melestarikan dalam lingkungan sekolah.

Berikut penjelasan jenis jenis tari topeng yang dipelajari:

1. Tari Topeng Panji

Tarian jenis ini melambangkan kesucian anak yang baru lahir. Motif topengnya berwarna putih bersih, hanya ada mata, hidung, dan mulut, belum ada guratan lain.

Gerakan tari jenis ini masih sangat sederhana, hanya "adeg-adeg", menggunakan baju dan atribut serba putih.

2. Tari Topeng Samba

Jenis tarian ini melambangkan perkembangan balita atau kelincahan manusia di masa kanak-kanak. Gerakannya mulai genit, lincah, dan lucu tetapi, kurang luwes atau masih ragu. Wujud topengnya sudah mulai ada goretannya, warnanya pink keputihan. Untuk kostum sendiri berwarna hijau daun.

3. Tari Topeng Rumyang

Tari topeng ini punya ukiran sederhana, dengan warna dasar merah muda.

Tarian ini memiliki makna remaja yang sudah mulai mencari jati dirinya. Akan terlihat dari gerakannya yang "labil", dengan pengulangan-pengulangan.

4. Tari Topeng Tumenggung

Tarian ini menggambarkan manusia yang sudah menginjak dewasa dan telah menemukan jati dirinya. Sikapnya tegas, berkepribadian, bertanggung jawab dan memiliki jiwa korsa yang paripurna.

Topengnya berkumis, dengan banyak guratan yang berwibawa. Kostum penari berwarna hitam, yang bisa bijak menyesuaikan dengan warna mana pun, seperti makna sikapnya.
Dalam struktur kerajaan, tumenggung merupakan patih atau panglima perang.

5. Tari Topeng Kelana


Memiliki ukiran topeng yang paling rumit, juga banyak ikatannya di atas topeng. Topeng dan kostum penari berwarna merah.

Tariannya agresif dan enerjik karena merupakan akumulasi gerakan dari semua tari topeng tadi. Tarian ini melambangkan sifat angkara murka yang terdapat dalam manusia.

Berikut upaya melestariikan kebudayaan tari tradiisonal :

1. Mementaskan tari tradisional tersebut pada acara acara penting

2. Mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa betapa pentingnya melestarikan kebudayaan

3. Mengajarkan tari tradisional kepada anak anak agar kebudayaan tersebut tidak hilang

4. Mengadakan lomba lomba tari tradisional antar kabupaten atau provinsi

5. Menanamkan rasa cinta masyarakat terhadap seni tari

6. Mengenalkan seni tari tradisional kepada masyarakat luas

7. Ikut serta dalam upaya pelestarian nilai nilai budaya

8. Mengadakan sekolah tari atau menyertakan dalam ekstrakulikuler

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya tradisional, khususnya di bidang seni tari. Seni Tari merupakan warisan leluhur yang perlu dilestarikan jangan sampai seni tari yang beragam di negara Indonesia diakui oleh negara lain. Sehingga dengan adanya pelatihan atau kegiatan belajar menari dikalangan masyarakat atau siswa siswa dapat mengembangkan potensi karya seni tari. Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia khususnya pelajar dan mahasiswa, harus bisa memilah apa yang masuk dari luar artinya kita harus bisa memilih dan menyaring mana yang lebih baik dan positif untuk kita ikuti. Bukan sekedar ingin mengikuti tren yang sudah ada tanpa memfilter terlebih dahulu. Sudah saatnya kita kembangkan dan lestarikan kembali tarian tradisional yang sudah mulai tertutupi oleh tarian modern, karena bagaimanapun itu adalah hasil cipta karya bangsa kita.

Maka marilah generasi muda, kita mulai tanamkan rasa cinta akan budaya kita sendiri! Jangan sampai tari tradisional kita diakui oleh negara lain untuk kesekian kalinya. Ayo, lestarikan tari tradisional indonesia sekarang juga!

Arsip Blog

Visit Us

https://senzeyizal.blogspot.com/