Tampilkan postingan dengan label perkembangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perkembangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2019

Tradisi Tari Topeng Gegesik Cirebon

Desember 23, 2019 0

Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian di wilayah kesultanan Cirebon. Tari Topeng Cirebon, kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Subang, Indramayu, Jatibarang, Majalengka, Losari, dan Brebes. Disebut tari topeng karena penarinya menggunakan topeng di saat menari. Pada pementasan tari Topeng Cirebon, penarinya disebut sebagai dalang, dikarenakan mereka memainkan karakter topeng-topeng tersebut.
Dalam tari Topeng Cirebon gaya Gegesik ini tersebar di sekitaran Kecamatan Gegesik yang berada dalam Kabupaten Cirebon. Dalam gaya Gegesik ini yang terlihat berbeda adalah ekspresi wajah dari topengnya.

Topeng Panji dalam gaya Gegesik ini memiliki raut wajah yang tenang, wajahnya berwarna putih, senyumnya terkulum, hidung mancung dan memiliki mata yang sipit dengan tatapan yang menunduk tajam.

Gegesik ini merupakan salah satu pusat perkembangan kesenian yang ada di Cirebon. Tarian ini juga termasuk menjadi salah satu kesenian yang ada di pusat perkembangan kesenian di sana. Di saat masa jayanya, para penduduk yang ada di Gegesik ini bisa menari topeng. Entah itu memang keturunan dari penari topeng atau hanya seorang petani biasa. Hingga topeng menjadi hal yang wajib dipunyai di sana kala itu. Namun, sekarang sudah berubah. Sudah ada tiga dekade hal itu tidak berlaku. Sekarang jumlah penari topeng atau dalang yang ada di Gegesik bisa dihitung oleh jari. Pada perkembangan sebuah kesenian termasuk tari Topeng Cirebon gaya Gegesik, perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Perubahan yang terjadi pada tari Topeng Cirebon gaya Gegesik kebanyakan dipengaruhi oleh struktur masyarakat urban serta berperannya sekolah kesenian, modernisasi, peristiwa, politik dan perubahan pandangan pewaris topeng, terutama sekitar tahun 1980 hingga tahun 2000. Perubahan tari Topeng Cirebon gaya Gegesik terutama terjadi pada cara dan bentuk penyajiannya, sehingga pada masa itu pertunjukan topeng dicampur dengan dangdut atau yang oleh masyarakat disebut sebagai topeng-dangdut.

Gegesik merupakan salah satu daerah di Cirebon yang memiliki tradisi topeng. Menurut sumber, Gegesik diambil dari nama leluhur yaitu Pangeran Gesang. Topeng Gegesik memiliki mempunyai gaya tersendiri yang berbeda dengan Topeng Cirebon lainnya.

Karakteristik Topeng Gegesik:

1. Topeng Panji

Berwarna putih dengan raut muka yang memancarkan keagungan dan ketenangan. Bentuk mulutnya renyah dengan senyum yang terkulum, matanya sipit dan hidungnya mancung. Sorot matanya terkesan selalu merunduk tajam, serta memiliki bentuk muka yang memancarkan kewibawaan. Topeng ini jika dipakai untuk menari, tatapannya akan menyudut 45 derajat. Topeng Panji berkarakter halus, kerap disamakan dengan tokoh Arjuna dalam cerita Mahabharata atau tokoh Rama dalam Ramayana.

Macam-macam Wanda pada Topeng Panji:

a. Sabuk Inten

b. Si Mangfu

c. Si Rentang

d. Si Madu

e. Si Pekik

f. Si Geger

g. Geger Gandul

Gerakan dalam Topeng Panji seringkali dihubungkan dengan cerita Panji dan dianggap sebagai perwujudan dari tokoh Panji Inukertapati, terkadang disebut pula Panji Asmarabangun atau Panji Gagak Pernala. Gerakan-gerakan dalam Topeng Panji memiliki beberapa interpretasi, antara lain:

a. Gerakan tangan temple bahu diartikan sebagai tiruan pada jalannya Dewi Anggraeni.

b. Cantel diartikan bahwa Raden Panji akan berhasil menikah dengan Dewi Anggraeni.

c. Gerakan tangan di samping telinga diartikan sebagai saat-saat Raden Panji sedang memanggil-manggil Dewi Anggraeni.

Terdapat pula versi yang menyatakan bahwa Topeng Panji tidak berkaitan dengan cerita Panji. Disebutkan bahwa Panji diartikan sebagai yang pertama, berasal dari kata ‘siji’ yang artinya satu. Siji memiliki arti bahwa dalam tradiri Topeng Cirebon ini, Topeng Panji menjadi pengawal tarian atau urutan pertama dari tari topeng. Simbolisasi gerakan Topeng Panji dimaknai sebagai gerakan bayi karena cenderung kecil dan lebih banyak diam. Kepercayaan masyarakat pada latar belakang cerita merupakan bagian dari variasi kearifan lokal masing-masing daerah yang berbeda satu dengan lainnya.

2. Topeng Pamindo atau Samba

Topeng Pamindo umumnya berwarna putih dan memiliki raut wajah ceria, tatapan mata yang lurus ke depan dan sorot mata yang lincah. Terdapat hiasan rambut dan hiasan yang melengkung pada sisi pipi kiri dan kanan, disebut pilis. Di atas hidung terdapat hiasan Kembang Tiba yang menjadi pusat lengkungan hiasan pilis. Karakter Topeng Pamindo adalah banyak gaya, diartikan sebagai tokoh yang lincah atau ganjen. Topeng Pamindo yang berwarna merah muda dikaitkan dengan watak manusia yang rendah hati dan setia kawan.

Wanda pada Topeng Pamindo atau Samba, yaitu:

a. Cibrak

b. Wisunah

c. Si Jimat

d. Gondrong

Pamindo sendiri berasal dari kata “mindo” yang berarti kedua. Topeng Pamindo umumnya ditarikan pada kesempatan kedua dalam pertunjukan Topeng Cirebon. Gerakan-gerakan Topeng Pamindo digambarkan sebagai seorang remaja yang ingin tahu. Bentuk gerakannya cenderung lincah, berirama cepat dan patah-patah.

3. Topeng Rumyang

Topeng Rumyang berwarna merah muda tanpa hiasan rambut, karakter yang dimiliki pun menyerupai Topeng Pamindo yang lincah.

Wanda dalam Topeng Rumyang, yaitu:

a. Semang

b. Golek

c. Cibrak

Rumyang berasal dari kata ramyang-ramyang, artinya mulai terang. Bahasa Sunda menyebut ramyang-ramyang sebagai carancang tihang, suatu keadaan menjelang pagi yang masih samar atau remang-remang. Topeng Rumyang merepresentasikan kondisi ketika seseorang sudah mulai terang dalam melihat kehidupan di sekelilingnya. Topeng Rumyang umumnya ditarikan pada tarian ketiga, namun di beberapa daerah ditarikan sebagai tarian terakhir.

4. Topeng Tumenggung-Patih

Berwarna kembang terong muda atau dadu kelang, ada pula yang berwarna merah muda. Paranya gagah berani dengan kumis dan mata terbelalak. Topeng Tumenggung memiliki kumis yang terbuat dari kulit, sementara Topeng Patih kumisnya terbuat dari rambut. Terdapat pula hiasan tlenggong, tlingus dan pepasu.

Tari Tumenggung merupakan satu-satunya tarian yang mengandung unsur-unsur literer. Hal ini terlihat dari dialog antara Tumenggung Magangdiraja dengan Jingga Anom.

Tarian ini mengisahkan Tumenggung Magangdiraja yang hendak menaklukkan Jingga Anom yang tidak mau tunduk terhadap kekuasaan Raja Bawarna. Jingga Anom menolak untuk tunduk sehingga timbul peperangan. Membedakan Topeng Tumenggung dan Patih dapat diamati dari perbedaan bentuk kumisnya, juga terdapat perbedaan pada wanda:

a. Patih

· Tatag

· Perkicil

· Pelor

· Mimis

b. Tumenggung

· Slasi

· Drodos

· Sanggan

5. Topeng Jingga Anom

Berwarna jingga atau kuning kemerahan dengan karakter tari Buta (Danawa) yang berwatak kasar serta nakal.

Wanda pada Topeng Jingga Anom:

a. Garjita

b. Si Kekes

c. Si Moreg

d. Barong

6. Topeng Klana atau Rowana

Topeng Klana memiliki warna merah tua dengan raut muka yang galak, mata membelalak, mulut menyeringai, kumis melingkar, berjambang dan berjenggot. Karakter Topeng Klana disebut gagah perkasa atau gagah kasar. Topeng Klana kerapkali disamakan pula dengan tokoh pewayangan Burisrawa atau Rahwana.

Wanda pada Topeng Klana antara lain:

a. Barong

b. Wringut

c. Drodos

d. Golek

Topeng Klana menggambarkan seseorang yang sedang dilanda angkara murka, serakah dan zalim. Tarian Topeng Klana sering dikaitkan dengan cerita Panji. Unsur cerita dalam Topeng Klana mengisahkan seorang raja yang gagah perkasa bernama Klana Budanegara yang tergila-gila pada putri dari Bawarna yang bernama Dewi Tunjung Ayu, anak dari Prabu Lembu Amiluhur. Ragam gerak yang muncul dalam tarian ini terlihat dari gerakan depole atau pasir muih (pasir memutar).




Senin, 16 Desember 2019

Tari Topeng Klana

Desember 16, 2019 0
Tari topeng kelana - selamat beraktivitas para seniman tari jawa indonesia. kota cirebon merupakan kota yang yang indah akan pariwisatanya. bukan hanya iti cirebon pun mempunyai sebuah tari tradisional yang hingga saat ini masih buming dan banyak di minati para pecinta tari tradisional, yak Tari Topeng Kelana. kali ini saya akan membegikan artikel tentang tari Topeng Kelana.. ini dia.



Tari topeng Klana adalah gambaran seseorang yang bertabiat buruk, serakah, penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, namun tarinya justru paling banyak disenangi oleh penonton. Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang tengah marah, mabuk, gandrung, tertawa terbahak-bahak, dan sebagainya. Lagu pengiringnya adalah Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Struktur tarinya seperti halnya topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) dan bagian ngedok (tari yang memakai kedok).


Beberapa dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang. Bagian kedua, adalah Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.

Tari topeng Klana sering pula disebut topeng Rowana. Sebutan itu mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji. Di Cirebon, topeng Klana dan Rowana kadang-kadang diartikan sebagai tarian yang sama, namun bagi beberapa dalang topeng, misalnya Sujana dan Keni dari Slangit; Sutini dari Kalianyar dan Tumus dari Kreo; membedakan kedua tarian tersebut, hanya kedoknya saja yang sama. Jika kedok Klana yang ditarikan itu memakai kostum irah-irahan atau makuta Rahwana di bagian kepalanya dan di bagian punggungnya memakai badong atau praba, maka itulah yang disebut topeng Rowana. Kostumnya jauh berbeda dengan topeng Klana dan kelihatan sangat mirip dengan kostum tokoh Rahwana dalam wayang wong.


Dalam pertunjukan topeng hajatan, yakni setelah tari topeng tersebut selesai, penari biasanya melakukan nyarayuda atau ngarayuda, yakni meminta uang kepada para penonton, tamu undangan, pemangku dan panitia hajat, para pedagang, dan lain-lain. Ia berkeliling seraya mengasong-asongkan kedok yang dipegang terbalik–bagian dalamnya terbuka dan bagian wajahnya menghadap ke bawah–dan kedok berubah fungsi menjadi wadah uang. Mereka memberikan uang seikhlasnya tanpa merasa ada suatu paksaan. Setelah merasa cukup, penari kembali ke panggung dan sebagai rasa terima kasih, ia kembali mempersembahkan beberapa gerakan tari topeng Klana, sebagai tarian ekstra.


Nyarayuda atau ngarayuda adalah sebuah pesan moral atau simbol yang mengingatkan kita .tentang bagaimana sebaiknya berkehidupan di masyarakat. Klana adalah seorang raja yang kaya raya, yang tak kurang suatu apapun, namun ia masih merasa kekurangan, merasa segalanya belum cukup, sehingga ia tetap berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya harta tanpa memperdulikan apakah itu hak atau batil. Itulah sebenarnya pesan yang ingin disampaikan nyarayuda, yang artinya bukan semata-mata mengemis. Hidup, sebaiknya lebih banyak memberi daripada lebih banyak meminta.

Sejarah tari topeng klana

Tari Topeng Cirebon adalah salah satu tarian di tatar Parahyangan. Kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Indramayu, Jatibarang, Losari, dan Brebes. Di Cirebon, tari topeng ini sendiri banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Salah satu jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan bersama, biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.

Tari Topeng Klana merupakan rangkaian gerakan tari yang menceritakan Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan Ratu Kencana Wungu, hingga kemudian berusaha mendapatkan pujaan hatinya. Namun upaya pengejarannya tidak mendapat hasil.

Kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikannya keno komudian membeberkan segala tabiat buruknya. 

Pada dasarnya, bentuk dan warna topeng mewakili karakter atau watak tokoh yang dimainkan. Klana, dengan topeng dan kostum yang didominasi warna merah mewakili karakter yang tempramental. Dalam tarian ini, Klana yang merupakan orang yang serakah, penuh amarah, dan tidak bisa menjaga hawa nafsu divisualisasikan dalam gerakan langkah kaki yang panjang-panjang dan menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka, serta jari-jari yang selalu mengepal.

Topeng-cirebon

1. Tari Topeng Panji

Tarian jenis ini melambangkan kesucian anak yang baru lahir. Motif topengnya berwarna putih bersih, hanya ada mata, hidung, dan mulut, belum ada guratan lain.

Gerakan tari jenis ini masih sangat sederhana, hanya "adeg-adeg", menggunakan baju dan atribut serba putih.

2. Tari Topeng Samba

Jenis tarian ini melambangkan perkembangan balita atau kelincahan manusia di masa kanak-kanak. Gerakannya mulai genit, lincah, dan lucu tetapi, kurang luwes atau masih ragu.

Wujud topengnya sudah mulai ada goretannya, warnanya pink keputihan. Untuk kostum sendiri berwarna hijau daun.

3. Tari Topeng Rumyang

Tari topeng ini punya ukiran sederhana, dengan warna dasar merah muda.

Tarian ini memiliki makna remaja yang sudah mulai mencari jati dirinya. Akan terlihat dari gerakannya yang "labil", dengan pengulangan-pengulangan.

4. Tari Topeng Tumenggung

Tarian ini menggambarkan manusia yang sudah menginjak dewasa dan telah menemukan jati dirinya. Sikapnya tegas, berkepribadian, bertanggung jawab dan memiliki jiwa korsa yang paripurna.

Topengnya berkumis, dengan banyak guratan yang berwibawa. Kostum penari berwarna hitam, yang bisa bijak menyesuaikan dengan warna mana pun, seperti makna sikapnya.

Dalam struktur kerajaan, tumenggung merupakan patih atau panglima perang.

5. Tari Topeng Kelana

Memiliki ukiran topeng yang paling rumit, juga banyak ikatannya di atas topeng. Topeng dan kostum penari berwarna merah.

Tariannya agresif dan enerjik karena merupakan akumulasi gerakan dari semua tari topeng tadi. Tarian ini melambangkan sifat angkara murka yang terdapat dalam manusia.

Lazimnya berbagai daerah di Nusantara, Cirebon juga memiliki tarian tradisional yakni Tari Topeng, yang memiliki beragam jenis dengan keunikan dan maknanya masing-masing.

Sebagian gerak tarinya menggambarkan seseorang yang gagah, mabuk, marah, atau tertawa terbahak-bahak. Tarian ini biasa dipadukan dengan irama Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) dan bagianngedok (tari yang memakai topeng).

Tepat sebelum bagian akhir tarian ini, penari biasanya berkeliling kepada tamu yang datang untuk meminta uang. Ia berkeliling dengan mengasonkan topeng yang dipakainya sebagai wadah uang pemberian penonton. Bagian ini disebut dengan Ngarayuda atau Nyarayuda, simbol dari raja kaya raya yang masih tidak merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, hingga terus merampas sebanyak-banyaknya harta rakyat kecil tanpa mempeduikan hak-haknya.

Inilah kiranya yang menginspirasi Nugraha Soeradiredja ketika menciptakan Tari Klana.

Minggu, 24 November 2019

Sejarah dan Perkembangan Tari topeng Cirebon

November 24, 2019 0
A. SEJARAH TARI TOPENG CIREBON



Pada masa kerajaan Majapahit tarian dengan menggunakan Kedok atau Topeng dilakukanoleh Raja-raja sebagai simbol kekuasaan. Disebutkan dalam kitab Negara kertagama dan Pararaton bahwa Raja-raja Majapahit, termasuk juga Hayam Wuruk, menarikan tarian dengan menggunakan Kedok dari Emas.

Setelah Majapahit runtuh dan berkuasa kerjaan Demak yang Islam, alam pikiran Majapahit tidak lenyap, termasuk di antaranya ″ingatan kolektif″ tentang Tari Topeng dengan kemasanyang dibarukan. Dari Demak inilah Tari Topeng kemudian menyebar ke seluruh pulau Jawa dan mengalami transformasi dengan budaya lokal sehingga muncullah berbagai variasi Tari Topeng yang berbeda-beda di hampir seluruh pulau Jawa, sebut saja Tari Topeng Panji di Surakarta dan Yogyakarta, Topeng Malang, Topeng Madura dan sebagainya.
Tari Topeng Cirebon bila ditelusuri dari pola dan struktur tariannya dapat dikatakan relatif lebih terpelihara dari pada Tari Topeng di daerah lain. Menurut sejarah hal ini dimungkinkanterjadi karena Cirebon selama beberapa tahun pernah berada di bawah kekuasaan Demak dan mempunyai hubungan kekerabatan yang cukup dekat sehingga keaslian Tari Topeng yang diciptakan di kalangan istana Demak tetap terpelihara di istana Cirebon.

Berbeda dengan data di atas, para Dalang Topeng Cirebon menyebutkan bahwa Topeng yang sekarang diwarisi masyarakat Cirebon diciptakan oleh Sunan Panggung. Sunan Panggungini diyakini sebagai Sunan Kali Jaga. Bahkan Babad Cirebon menyebutkan bahwa Sunan Panggung adalah putera Sunan Kali Jaga yang oleh Sultan Demak diangkat menjadi Pangeran
yang mengurusi pertunjukan Wayang dan Topeng. Sunan Panggung menurunkan keahliannya kepada Pangeran Bagusan dan tokoh inilah yang mengajarkan anak cucunya seni Topeng danWayang yang berfungsi sebagai tuntunan dalam menyebarkan agama Islam kepada masyarakat.

Adapun menurut buku yang berjudul “Cirebon falsafah, tradisi dan adat budaya” karya Mohammed Sugianto Prawiraredja, Tari Topeng konon diciptakan oleh Ki Danalaya, salah seorang murid Sunan Kali Jaga, yang kemudian mewariskannya kepada tokoh-tokoh SenimanCirebon. Pada masa sekarang terdapat dua Cengkok (gaya) dalam pementasan seni Tari Topeng, yaitu Cengkok Arjawinangun (Slangit) dan Cengkok Losari (astanalanggar). Tari Topeng Cirebon yang disebut Topeng Babakan (tahapan) karena terdiri dari empat babak (tahapan) yang menampilkan empat tokoh berlainan karakter, yaitu Panji, Samba, (Pamindo), Patih (Tumenggung) dan Klana (Rahwana). Masing-masing tokoh melambangkan perjalan hidupmanusia dari mulai masa bayi, kanak-kanak, remaja dan dewasa.

Menurut Babad Cirebon, pada saat berkuasanya Sunan Gunung Jati sebagai penguasa Islam di Cirebon, maka datanglah percobaan untuk meruntuhkan kekuasaan Cirebon di Jawa Barat. Tokoh pelakunya adalah Pangeran Welang dari daerah Karawang. Tokoh ini ternyatasangat sakti dan memiliki pusaka sebuah pedang bernama Curug Sewu. Penguasa Cirebon beserta para pendukungnya tidak ada yang bisa menandingi kesaktian Pangeran Welang. Dalam keadaan kritis maka diputuskan bahwa untuk menghadapi musuh yang demikian saktinya harus dihadapi dengan diplomasi kesenian. Setelah disepakati bersama antara Sunan Gunung Jati,Pangeran Cakra Buana dan Sunan Kali Jaga maka terbentuklah tim kesenian dengan Penari yang sangat cantik, yaitu Nyi Mas Ganda Sari dengan syarat Penarinya memakai Kedok/Topeng.
Mulailah tim kesenian ini mengadakan pertunjukan ke setiap tempat seperti lazimnya sekarang disebut Ngamen. Dalam waktu singkat tim kesenian ini menjadi terkenal sehingga Pangeran Welang pun penasaran dan tertarik untuk menontonnya. Setelah Pangeran Welang menyaksikan sendiri kebolehan sang Penari, seketika itu pula dia jatuh cinta. Nyi Mas Ganda Sari pun berpura-pura menyambut cintanya dan pada saat Pangeran Welang melamar maka Nyi Mas Ganda Sari minta dilamar dengan pedang Curug Sewu. Pangeran Welang tanpa pikir panjang menyerahan pedang pusaka tersebut, bersamaan dengan itu maka hilang semua kesaktian Pangeran Welang. Dalam keadaan lemah lunglai tidak berdaya Pangeran Welang menyerah total kepada sang Penari Nyi Mas Gandasari dan memohon ampun kepada Sunan Gunung Jati agar tidak dibunuh.
Sunan Gunung Jati memberi ampun dengan syarat harus memeluk agama Islam. Setelahmemeluk agama Islam Pangeran Welang dijadikan petugas Pemungut Cukai dan dia berganti nama menjadi Pangeran Graksan. Sedangkan para pengikut Pangeran Welang yang tidak mau memeluk agama Islam tetapi ingin tinggal di Cirebon, oleh Sunan Gunung Jati diperintahkan untuk menjaga Keraton-Keraton Cirebon dan sekitarnya.
Pembuatan Topeng pada Islam lama merupakan kegiatan untuk mementaskan tradisi kesenian lama. Topeng menjadi bahasa rupa, sebagai media komunikasi pendidikan yang meleburkan diri dengan tarian yang diiringi dengan Gamelan. Drama dan tarian ini bermula dari pusat-pusat kegiatan seni budaya, yaitu di istana dan tempat tinggal para Bangsawan. Lakon cerita yang dipertunjukkan biasanya bersumber pada siklus Ramayana dan Mahabarata. Sebagai karya seni istana dengan ketentuan-ketentuan kaidah seni yang serba mengikat, maka pembuatan dan wujud Topeng dikenakan peraturan-peraturan. Karena bakat seni yang berbeda di pusat-pusat kesenian tersebut, maka timbul perbedaan gaya Topeng yang kemudian berpengaruh terus dalam perkembangan Topeng pada zaman Islam. Perbedaan gaya tersebut tampak pada unsur-unsur ekspresi dan ungkapan artistik seperti pada warna, garis dan atribut Topeng. Ekspresi Topeng adalah pencerminan dari wajah kedalam perlambangan tipologis.
Para Sultan dan Bangsawan pada zaman Islam lama sesuai dengan tradisi kebudayaan istana, terus berusaha untuk mengembangkan dan menyempurnakan tarian Topeng yang telah dirintis pada zaman sebelumnya. Usaha ini disertai dengan memasukkan ajaran hidup berdasarkan agama Islam yang disesuaikan dengan falsafah agama masa lampau. Ketika Raja-raja Cirebon diberi status ″pegawai″ oleh Gubernur Jenderal Daendels dan tidak diperkenankan memerintah secara otonom lagi maka sumber dana untuk memelihara semua kesenian Keraton tidak dimungkinkan lagi. Para Abdi Dalem Keraton terpaksa dibatasi sampai yang amat diperlukan sesuai dengan “gaji” yang diterima Raja dari pemerintah Hindia Belanda. Begitulah Penari-Penari dan Penabuh Gamelan Keraton harus mencari sumber hidupnya di rakyat pedesaan. Topeng Cirebon yang semula berpusat di Keraton-Keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat Petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka

Topeng Cirebon juga dengan cepat mengalami transformasi-transformasi. Proses tranformasi itu berakhir dengan keadaannya yang sekarang, yakni berkembangnya berbagai “gaya” Topeng
Cirebon.

Namun semua Seniman yang berada di luar Keraton masih tetap menjalin suatu ikatan
yang berdasar pada pola pikir bahwa Keraton adalah sumber budaya dan sumbernya para Guru Seni. Pengembangan seni Tari Topengsejak masa itu di dalam Keraton sendiri kurang menggembirakan sehingga apabila Keraton memerlukan Penari Topeng dengan terpaksa mengambil dari desa-desa. Pada kurun waktu yang lama di Keraton tidak lagi mempunyai Penari, Nayaga, Dalang, Pengukir, Penyungging yang langsung keturunan Keraton. Baru setelah pemerintah mengalahkan budaya daerah maka pihak Keraton mulai banyak yang belajar menari Topeng, memukul Gamelan dan seni lainnya. Gurunya tetap mengambil dari desa-desa.

Secara filosofis Topeng Cirebon adalah simbol penciptaan semesta yang berdasarkan sistem kepercayaan Indonesia purba dan Hindu-Budha-Majapahit. Paham kepercayaan itu adalah emanasi yang tidak membedakan Pencipta dan ciptaan, karena ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal. Yang dimaksudkan Sang Hyang Tunggal adalah ketidak-berbedaan. Dalam diriNya adalah ketunggalan mutlak. Sedangkan semesta ini adalah keberbedaan. Semesta itu suatu aneka, keberagaman. Dan keanekaan itu terdiri dari pasangan sifat-sifat yang saling bertentangan tetapi saling melengkapi.
Sang Hyang Tunggal ini mengandung semua sifat ciptaan. Karena semua sifat yang dikenal manusia itu saling bertentangan, maka dalam diri Sang Hyang Tunggal semua pasangan oposisi kembar tadi hadir dalam keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi
satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga sifat itu tidak dikenal manusia alias kosong mutlak.
Paradoksinya justru kosong itu kepenuhan sejati karena dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu penuh, penuh itu kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tidak ada perbedaan, tunggal mutlak.
Topeng Cirebon menyimbolkan bagaimana asal mula Sang Hyang Tunggal ini
memecahkan diriNya dalam pasangan-pasangan kembar saling bertentangan itu, seperti terang dan gelap, lelaki dan perempuan, daratan dan lautan. Konsep tersebut digambarkan lewat Tari
Panji yang merupakan masterpiece rangkaian lima tarian Topeng Cirebon. Meskipun ditampilkan pertama tetapi tarian Panji justru merupakan klimaks pertunjukan. Itulah peristiwa transformasi Sang Hyang Tunggal menjadi semesta. Dari yang tunggal belah menjadi yang
aneka dalam pasangan-pasangan.

Inilah sebabnya Kedok Panji tak dapat kita kenali secara pasti apakah itu perwujudan lelaki atau perempuan. Apakah gerak-geriknya lelaki atau perempuan. Kedoknya sama sekali putih bersih tanpa hiasan, itulah kosong. Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan Gamelannya gemuruh. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya
sebuah paradoks. Itulah puncak Topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu.
Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya kedalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni “Pamindo-Rumyang”dan “Patih-Klana”. Inilah sebabnya Kedok “Pamindo-Rumyang” berwarna cerah, sedangkan “Patih-Klana” berwarna gelap (merah tua). Gerak Tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan Bulan. tetapi
harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah panji mengandung unsur-unsur tarian Panji.

Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Tarian ini sama sekali bukan
tontonan hiburan. Itulah sebabnya dalam kitab-kitab lama disebutkan, bahwa Raja menarikanPanji dalam dalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan Topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para Dalang Topeng di daerah Cirebon. Tarian juga harus didahului oleh persedian sajian. Dan sajian itu bukan persembahan makanan untuk Sang Hyang Tunggal. Sajian adalah lambang-lambang dualisme dan pengesahan. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai Bedak, Sisir, Cermin, yang merupakan lambang Perempuan, didampingi oleh Cerutu atau Rokok sebagai lambang Lelaki. Bubur Merah lambang dunia Manusia, Bubur Putih lambang dunia Atas. Cowek Batu yang kasar sebagai lambang Lelaki, Buah Jambu lambang Perempuan. Air Kopi lambang Dunia Bawah, Air Putih lambang Dunia Atas, Air Teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan


B. Perkembangan Tari Topeng Cirebon

Topeng adalah salah satu kesenian tradisional Indonesia yang telah tumbuh danberkembang sejak abad ke 10 s/d 11 M. Pada saat Cirebon menjadi pusat pengembangan syiar agama Islam, Sunan Gunung Jati bersama dengan Sunan Kali Jaga, mengangkat kesenian Wayang dan Tari Topengmenjadi tontonan di Keraton yang juga berfungsi sebagai tuntunan dalam penyebaran agama Islam.

Pada mulanya, pergelaran seni Tari Topengdan Wayang Kulit di Keraton Cirebon selalu berdampingan erat. Pergelaran Topeng pada siang hari dan Wayang Kulit pada malam harinya
dilakukan oleh orang yang sama. Dengan demikian, Dalang Topeng pada siang hari adalah seorang laki-laki yang merangkap sebagai Dalang Wayang Kulit pada malam harinya.
Disamping itu, kesenian ini (dahulu) biasa digelar pada upacara-upacara adat yang
diselenggaraan masyarakat seperti Mapag Sri, Sedekah Bumi, Ruwatandan lain-lain.

Dalam perkembangan selanjutnya, Topeng menjadi salah satu seni pertunjukkan (jenis
tarian) yang memiliki bentuk penyajian tersendiri yang disebut “Topeng Babakan” atau “Topeng Binaan” yang para Penarinya memekai Kedok (Topeng) sebagai penutup muka, biasanya Kedok yang ditampilkan pada satu kali pertunjukkan Topeng terdiri dari: Panji, Pamindo (Samba),Rumyang, Tumenggungdan Klana (Rahwana).

Arsip Blog

Visit Us

https://senzeyizal.blogspot.com/