Tampilkan postingan dengan label Tari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tari. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2020

ESTETIKA SENI TARI

A. Pengertian Seni Tari 

pengertian seni tari


Tari sendiri memiliki arti yaitu gerakan tubuh secara berirama yang dilakukan di suatu tempat dan waktu tertentu. Gerak adalah elemen pokok dalam seni tari, di dalamnya terdapat unsur ruang, tenaga, dan waktu. 

Sangat banyak sekali aneka ragam gerakan tari di Nusantara, setiap gerakannnya memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Gerak sendiri dapat diperoleh dari eksplorasi, dengan berimajinasi, berpikir, merespon dan merasakan suatu objek yang tertangkap oleh panca indera. 

B. Simbol Dalam Karya Seni Tari 

Simbol dalam karya tari merupakan makna yang terkandung dalam sebuah tarian. Fungsi dari simbol dalam tari ini adalah menunjukkan ekspresi jiwa dan maksud-maksud tertentu. Simbol dalam tari terbagi menjadi empat, yaitu simbol gerak, busana, dan tata rias. Berikut penjelasannya : 

1. Simbol gerak 

Simbol gerak ditunjukkan untuk menyampaikan perasaan atau sebuah cerita yang terkandung. Gerakan tari dilakukan dengan banyak cara, diantaranya secara lembut gemulai, dinamis, atau patah-patah. 

Teknis melakukan gerak tari juga bagian dari bentuk simbol. Tari yang digerakkan dengan lembut gemulai menunjukkan si penari menghayati dengan penuh perasaan dan kelembutan. Gerakan tari yang dilakukan secara dinamis, menunjukkan semangat, lincah, dan bertenaga. Tari yang digerakkan secara patah-patah menyimbolkan ketegasan dan kekuatan. 

2. Simbol Busana 

pengertian seni tari

Busana merupakan salah satu simbol dalam karya seni tari. Simbol busana dapat dilihati dari keunikan desain dan ragam warnanya. Secara umum, setiap warna busana memiliki makna simbolisme masing-masing. 

· Warna biru, memiliki makna kesetiaan. 

· Warna merah, memiliki makna keberanian. 

· Warna hitam, memiliki makna kebijaksanaan dan kematangan. 

· Warna merah, memiliki makna keberanian. 

· Warna putih, memiliki makna kesucian. 

Selain warna pada busana yang dikenakan, dilengkapi juga dengan aksesoris dan perlengkapan tambahan lainnya, seperti berikut : 

· Tambahan kain atau celana panjang. 

· Mahkota atau jamang. 

· Kemben 

· Gelang kaki dan tangan 

· Selendang 

Ada empat gerakan dalam tari, yaitu : 

· Gerak kepala, diantaranya : menunduk, menggeleng, menengok, berputar, menengadah. 

· Gerak tangan, diantaranya : memutar pergelangan, melenggang, dan merentang. 

· Gerak badan, diantaranya : condong, membungkuk, tegak, tegap. 

· Gerak kaki, diantaranya : melangkah ke kiri dan kanan, berlari, berjalan di tempat, menggesek. 

Contoh : 

Tari Baris dari Bali, gerakan dalam tari baris menceritakan ketangguhan para prajurit Bali saat dahulu. Kedua pundak penari diangkat hingga sejajar dengan telinga. Kedua lengan selalu pada posisi horizontal dengan gerak yang tegas. Lalu gerakan khas lainnya adalah selendet atau gerakan delik mata penari yang selalu berubah. Gerakan itu mendeskripsikan sifat prajurit yang senantiasa berhati-hati dengan situasi di sekitarnya. 

3. Simbol Tata Rias 

Tata rias sangat dibutuhkan untuk menghias wajah agar sesuai dengan karakter tari. Simbol tata rias ini dapat dilihat setelah penari dirias. Fungsi dari simbol ini adalah untuk mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh lakon yang akan dibawakan, dan paling utama untuk memperkuat kesan ekspresi serta menambah daya tarik. 

C. Nilai Estetis Karya Seni Tari 

pengertian seni tari

Estetika merupakan sebuah keindahan yang akan tercipta dalam sebuah karya seni. Nilai estetis dalam gerak tari merupakan kemampuan dari gerak tersebut untuk menciptakan sebuah pengalaman estetis. Setiap gerak tarian pasti mempunyai nilai estetis tersendiri yang dapat diulas dan dijelaskan secara cermat. 

Hal yang perlu kalian pahami dalam mengamati karya seni tari adalah adanya faktor subjektif dan faktor objektif. Terciptanya estetis itu karena adanya penilaian perasaan dari pengamat. So guys, estetis akan tercipta karena adanya proses relasi antara karya seni tari dan tanggapan orang yang mengamati. 

Masing-masing gerak tari di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, yang mana tidak bisa lepas dari pengaruh budaya yang terdapat didaerah tersebut. Contohnya seperti tari Jawa yang gerak matanya selalu mengarah ke bawah, tari Bali yaitu matanya yang melotot menjadi ciri khas tersendiri, lalu ada juga tari saman dari Aceh yang memiliki gerakan sangat cepat sebagai ciri khasnya. 

D. Jenis Jenis Tari Berdasarkan Penyajian 

1. Tari tradisional 

Tari tradisional merupakan tari yang berkembang dalam suatu daerah tertentu yang dilestarikan secara turun menurun oleh masyarakat setempat. Pada umumnya, tari tradisional mempunyai nilai sejarah yang kuat, pedoman yang luas dan bertahan pada adaptasi kebudayaan lingkungan sekitar terciptanya sebuah tari. 

Tari tradisional diklasifikasikan lagi menjadi 3, yaitu Tari Rakyat, Tari Klasik, dan Tari Kreasi baru. Berikut penjelasannya : 

a. Tari rakyat 

Tari rakyat adalah salah satu dari jenis tari tradisional. Tari rakyat ini merupakan karya seni tari yang tercipta dan lahir dari kebudayaan masyarakat lokal. Hidup dan berkembang sejak zaman primitif dan dilestarikan secara turun menurun hingga sekarang. Tari rakyat ini dikenal juga dengan sebutan tari Folklasik. 

Pada umumnya mempunyai beberapa ciri khas tersendiri, diantaranya yaitu kental akan nuansa kondisi masyarakat, mengacu pada kebudayaan dan adat masyarakat, serta gerak, rias, dan busana yang dikemas dengan sederhana. 

b. Tari Klasik 

Tari klasik adalah jenis dari tari tradisional yang tercipta dan lahir di lingkungan kerajaan atau bangsawan, seperti lingkungan keraton jika di Indonesia. Tari klasik ini berkembang sejak zaman feodal dan dilestarikan secara turun menurun di kalangan bangsawan. 

Ciri khas dari tari klasik adalah berpacu pada standardisasi tertentu, mengandung nilai estetis yang tinggi, dan disajikan dengan penampilan yang glamour atau mewah, mulai dari gerak, tata rias, hingga busana yang dikenakan. 

c. Tari Kreasi Baru 

Tari kreasi baru merupakan tari klasik yang diaransemen, lalu dikembangkan kembali menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun dalam mengaransemen tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 

Pada umumnya, tari kreasi baru diciptakan oleh para ahli karya seni tari, seperti Sauti dan Bagong Kusudiarjo. 

E. Jenis Jenis Tari Berdasarkan Fungsi 

Tari yang merupakan seni budaya juga memiliki fungsi. Gerakan tari yang menjadi media untuk menyampaikan fungsi tersebut. Berdasarkan fungsinya, tarian di Indonesia diklasifikasi menjadi 3, yaitu : 

1. Tari sebagai sarana upacara 

Tari sebagai upacara ini merupakan tarian yang biasa dipentaskan dalam upacara-upacara adat suatu daerah. Berikut contohnya : 

a. Tari Kecak 

Tari Kecak adalah tarian yang digunakan dalam upacara adat tertentu. Tari Kecak ini merupakan tarian khas Bali. Biasa dipentaskan saat upacara pembukaan atau penutupan sebuah acara besar. 

b. Tari Gambuh 

Tari Gambuh, juga merupakan tarian yang berasal dari Bali. Tarian ini dipentaskan saat upacara odalan, hajatan keluarga bangsawan, ngaben, dan lainnya. 

2. Tari sebagai sarana hiburan 

Tari sebagai sarana hiburan adalah tarian yang berfungsi dipentaskan untuk dijadikan sebagai sarana media hiburan para masyarakat. Berikut contohnya : 

a. Tari Topeng 

Tari Topeng merupakan tradisional yang berasal dari Jawa Barat, lebih tepatnya tarian ini lahir di Cirebon. Dinamakan tari topeng karena memang penarinya memakai topeng saat tampil. Tarian ini seringkali dipertunjukkan sebagai hiburan dalam acara hajat masyarakat Cirebon. 

b. Tari Merak 

Tari Merak adalah tari tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Tarian ini mendeskripsikan keindahan dan kecantikan burung merak, biasa dipertunjukkan sebagai saran hiburan masyarakat Jawa Barat. 

c. Tari Jaipong 

Tari Jaipong adalah tarian hiburan yang juga berasal dari Jawa Barat, tepatnya yaitu dari daerah Karawang. Tari Jaipong ini diciptakan oleh H. Juanda pada tahun 1976. 

3. Tari sebagai sarana media pertunjukan 

Tari sebagai sarana media pertunjukan merupakan tari yang memiliki fungsi untuk dipentaskan kepada masyarakat luas. Dengan pertunjukan yang benar-benar disiapkan sebelum dipentaskan, masyarakat akan menikmati keindahan-keindahan yang diungkapkan melalui gerak tari. Berikut contohnya : 

a. Tari Gambyong 

Tari Gambyong adalah tarian klasik yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tarian ini dipentaskan sebagai media pertunjukan, di mana tarian ini menggambarkan sifat wanita yang diungkapkan dengan gerak halus, terampil, dan lembut serta lincah. 

b. Tari Golek Menak 

Tari Golek, juga merupakan tarian klasik yang memiliki fungsi sebagai media pertunjukan. Tari Golek ini berasal dari Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. 

c. Tari Piring 

Tari piring atau biasa disebut dengan Tari Piriang dalam bahasa Minangkabau. Tari Piring ini berasal dari Kota Solok, Sumatera Barat. Tarian yang menggunakan media pokoknya piring ini merupakan tarian yang memiliki fungsi sebagai media pertunjukan.

Wayang Topeng Malangan

Hasil gambar untuk tari topeng malangan


Kesenian ini merupakan salah satu jenis tari topeng tradisional yang khas dari kabupaten Malang, Jawa Timur. Namanya adalah Tari Topeng Malangan. 

Tari Topeng Malangan adalah pertunjukan kesenian tari dimana semua pemerannya menggunakan topeng. Kesenian ini merupakan salah satu kesenian tradisional dari Malang, Jawa Timur. Tari Topeng Malangan ini hampir sama dengan Wayang wong, namun yang membedakan adalah pemerannya menggunakan topeng dan cerita yang sering dibawakan merupakan cerita panji. 

Tari Topeng Malangan ini dilakukan oleh beberapa orang dalam satu kelompok seni atau sanggar tari dengan menggunakan topeng dan kostum sesuai tokoh dalam cerita yang dibawakan. Cerita yang angkat dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan biasanya adalah cerita panji dengan tokoh –tokoh seperti Raden Panji Inu Kertapati (Panji Asmarabangun), Galuh Candrakirana, Dewi Ragil Kuning, Raden Gunungsari dan lain – lain. 

Dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan ini biasanya dibagi menjadi beberapa sesi. Pertama dilakukan Gending giro yaitu iringan musik gamelan yang dilakukan oleh pengrawit untuk menandakan pertunjukan akan dimulai atau memanggil penonton untuk menyaksikan. Kedua dilakukan salam pembukaan, dalam salam pembuka ini biasanya dilakukan oleh salah satu anggota pertunjukan untuk menyapa penonton dan menceritakan sinopsis cerita yang akan dibawakan. Pada bagian ketiga dilakukan sesajen, yaitu ritual yang dilakukan agar pemain dan penonton diberi keselamatan dan pertunjukan berlangsung lancar. Dan yang terakhir adalah inti acara yaitu pertujukan Tari Topeng Malangan. 

Dalam cerita yang dibawakan tersebut biasanya terdapat beberapa babak, diantaranya adalah jejer jawa, jejer sabrang, perang gagal, gunungsari – patrajaya, perang brubuh dan bubaran. Selain itu seperti halnya cerita dalam pewayangan, tokoh dalam cerita Tari Topeng Malangan ini juga terbagi menjadi beberapa ragam, diantaranya seperti bolo tengen (kesatria jawa), bolo kiwo (raksasa/klono), dewa, penari putri, dan punakawan. Untuk memerankan tokoh - tokoh pada Tari Topeng Malangan ini dibutuhkan kemampuan dalam visualisasi tokoh yang diperankan, ekspresi gerak, dan fisik yang cocok dengan tokoh. 

Dalam pertunjukan Tari Topeng Malangan juga ada seorang Dalang. Selain mengatur jalannya cerita, Dalang Dalang juga bertugas untuk memberikan sesaji dan membacakan doa pada saat sesajen. Untuk musik pengiring pertunjukan Tari Topeng Malangan ini, biasanya diiringi oleh iringan musik tradirisional seperti kendang, bonang, gong dan instrument gamelan lainnya. Selain itu, pertunjukan akan semakin meriahkan dengan adanya Panjak dan Sinden. Khusus untuk Panjak biasanya dilakukan oleh salah satu penabuh musik pengiring. Selain bertugas memainkan musik dan menyanyi, Panjak juga sering berkomunikasi dengan Dalang dan penonton untuk memeriahkan acara. 

Dalam perkembangannya, Tari Topeng Malangan mulai meredup seiring dengan perkembangan jaman. Kurangnya regenerasi dan kesadaran masyarakat sangat mempengaruhi eksistensi dari kesenian satu ini. Namun beberapa sanggar tari di kabupaten Malang masih mempertahankan warisan budaya satu ini. Usaha pelestarian tersebut terbukti dengan mengadakan pertunjukan secara teratur dan dengan berbagai modifikasi dan penambahan variasi dalam pertunjukannya agar lebih menarik, namun tidak meninggalkan pakem yang ada. Usaha tersebut tidak bisa berjalan sendirian, tentunya peran masyarakat dan pemerintah sangat di butuhkan dalam menjaga dan melestarikan kesenian satu ini. 

Wayang Topeng Malang Salah satu kesenian tradisional Malang yang cukup populer adalah Wayang Topeng. Sesuai namanya, wayang ini dimainkan oleh orang yang wajahnya ditutupi oleh topeng dengan diiringi oleh alunan gamelan dan tari-tarian. 

Disebutkan bahwa Wayang Topeng atau disebut juga Tari Topeng Malang termasuk salah satu dari 8 Kesenian Jawa Timur yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Penyajian Wayang Topeng Malang biasanya membawakan lakon-lakon Panji (Siklus Panji/Roman Panji) yakni Malat, Wasing, Wangbang-Wideha dan Kisah Angraeni (Zoetmulder [1974] terjemahan Dick Hartoko, 1983:532-539). 

Mula-mula tata urutan penyajian diawali dengan Gending Giro dengan terlebih dahulu menabuh gending eleng-eleng, Krangean, Loro-loro, Gending Gondel dan terakhir adalah Gending Sapu Jagad. 

Sebagai pembukaan Wayang Topeng Malang biasa dimulai dengan Tari Beskalan Lanang (Topeng Bangtih). Kemudian secara berturut-turut dilanjut dengan Jejer Jawa (Kediri), Perang Gagal (Selingan Tari Bapang), Adengan Gunungsari-Patrajaya, Adegan Jejer Sabrang (Klana Sewandana) dan Adegan Perang Brubuh dan Bubaran (Supriyanto & Adipramono, 1997:4). 

Sejarah Wayang Topeng Malang 

Tari Topeng Malang bisa dikatakan sebagai Tradisi Budaya dan Religiusitas Masyarakat Jawa yang diketahui telah ada sejak sekitar abad ke-8 M. Masa tersebut adalah masa Kerajaan Kanjuruhan dibawah pimpinan Raja Gajayana. 

Di zaman itu topeng dibuat dari batu dan merupakan bagian dari acara persembahyangan. Kemudian topeng dikontruksi menjadi sebuah sajian seni tari pada masa Raja Erlangga. 

Merujuk pada buku Henri Supriyanto, pada awalnya Tari Topeng Malang ini dihadirkan dengan pola pikir India mengingat perkembangan sastra pada waktu itu didominasi oleh Sastra India. Selain itu juga dikarenakan nenek moyang masyarakat Jawa pada masa itu masih menganut agama Hindu Jawa. 

Wayang Topeng Malang juga mengambil cerita-cerita dari India, seperti kisah-kisah Mahabarata dan Ramayana. Wayang Topeng ini dipakai sebagai media komunikasi antara kawulo dan gusti, antara raja dan rakyatnya. 

Perubahan cerita-cerita dalam Wayang Topeng bermula di jaman Kertanegara di Singasari. Pada waktu itu cerita yang diambil dialihkan ke cerita-cerita Panji yang mengisahkan kepahlawanan dan kebesaran kesatria-kesatria Jawa, terutama masa Jenggala dan Kediri. 

Beralihnya cerita di dalam kesenian ini adalah sebagai bentuk identitas kebesaran raja-raja yang pernah berkuasa di Tanah Jawa. Adapun rekontruksi cerita Panji oleh Singosari adalah suatu kebutuhan untuk membangun legitimasi kekuasaan Singasari yang mulai berkembang. 

Wayang Topeng Malangan berkembang pesat hingga masa Kerajaan Majapahit sampai ketika agama Islam masuk ke Pulau Jawa. Di masa ini, pembawaan Tari Topeng Malang kembali berubah dan lebih difokuskan sebagai media dakwah dengan menampilkan cerita-cerita Islam. 

Sunan Kalijaga pada masa Kerajaan Demak telah menciptakan topeng yang mirip dengan Wayang Purwa pada tahun 1586 (Sumintarsih dkk, 2012: 27). Topeng oleh Raden Wijaya digunakan sebagai media rekonsiliasi antara Kediri, Singosari, dan Majapahit dalam merebut kekuasaan. 

Pasang surut pun mengiringi perjalanan kesenian ini, hingga pada akhir abad XVIII tercatat adanya Wayang Topeng dipertunjukkan di Pendapa Kabupaten Malang. Saat itu Malang dipimpin oleh A.A. Surya Adiningrat atau Raden Bagoes Muhamad Sarib, 1898-1934 (Pigeaud, 1938,Supriyanto & Adi Pramono, 1997, Onghokham,1972). 

Pigeaud pada kisaran tahun 1930 telah mencatat beberapa perkumpulan Wayang Topeng yang ada di Jawa. Satu diantaranya adalah Wayang Topeng di daerah Malang Selatan yakni di Desa Senggreng, Jenggala, Wijiamba dan Turen. 

Sedikitnya jumlah seniman pengukir topeng waktu itu menjadikan kontak antar perkumpulan tetap terjalin karena tidak semua perkumpulan mempunyai pengukir topeng. Beberapa nama pengukir wayang yang dikenal waktu itu adalah Yai Nata (Dusun Slelir), Mbah Reni (Malang Utara) dan Mbah Wiji (Malang Selatan). 

Pada tahun 1950-an muncul pengukir topeng bernama Kangseng dari Dusun Jabung. Sementara Karimoen dari Dusun Kedungmonggo mulai dikenal masyarakat luas sebagai pengukir topeng sejak tahun 1970-an (Murgiyanto,Sal. 1982/1983). 

Penyebaran Wayang Topeng Malang 

· Malang Utara meliputi Polowijen, Jatimulyo, Kalisurak. 

· Malang Timur meliputi Jabung, Precet, Pucungmangsa, Wangkal, Glagahdewa, Gubugklakah, Jambesari, Cada. 

· Malang Selatan meliputi Pojok, Gedog, Undaan, Pagelaran, Kedungmonggo, Jenggala, Senggreng, Jatiguwi, Jambuer, Kopral, Pujiombo (Sumintarsih dkk, 2012: 28).

Tari Topeng Tumenggung








Tari Topeng Cirebon adalah kesenian asli daerah Cirebon termasuk Indramayu, Losari, Brebes, dan Jatibarang. Tari Topeng Cirebon ini telah menginspirasi seniman Betawi bernama Djiun dalam menciptakan tari Topeng Tunggal yang kemudian dibawakan sendiri oleh isterinya, Mak Kinang. Jumlah karakter topeng dalam tari Topeng Tunggal hanya ada tiga, sedangkan Topeng Cirebon menggunakan enam sampai delapan topeng. Pada awal kemunculannya tari Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang sangat tertutup, sehingga ketika raja membawakan tari Topeng Panji dilakukan dalam ruang terbatas yang hanya disaksikan saudara-saudara perempuannya. Untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, dan semedi. Tarian juga harus didahului oleh sajian, yang merupakan perlambang dualisme dan peng-esa-an. Inilah sebabnya dalam sajian sering dijumpai bedak, sisir, dan cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang dunia atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang dunia bawah, air putih lambang dunia atas, air teh lambang dunia tengah. Jadi dalam pertunjukan tari Topeng Cirebon sesajian merupakan lambang keanekaan yang ditunggalkan. Hal ini masih dipegang teguh hingga kini oleh para dalam topeng. 

Tari Topeng Cirebon mempunya peranan sebagai media penyebaran agama Islam di masa Sunan Kalijaga, yang bahkan menarikannya sendiri untuk menarik perhatian para pengikutnya. Konon putera Sunan Kalijaga yang bernama Pangeran Panggung mempunyai andil besar dalam penyebaran Islam melalui pertunjukan wayang dan topeng. Ketika keraton Cirebon dikuasai oleh Belanda dan raja-raja hanya diberi status pegawai, perlahan kesenian keraton mati suri lalu para penari serta penabuh gamelan berupaya mencari penghidupan di luar keraton. Topeng Cirebon yang semula bersifat sakral dan merupakan kesenian khusus di lingkungan keraton bergeser menjadi kesenian rakyat dengan segala perubahannya sesuai dengan gaya rakyat kebanyakan. Sejak itu setiap kali keraton akan mementaskan tari Topeng Cirebon maka pihak keraton terpaksa mengambil dari desa-desa hingga waktu yang cukup lama. Ketika pemerintah menggalakkan budaya daerah barulah bermunculan kembali keturunan langsung keraton yang belajar menari Topeng, bermain gamelan, dan seni keraton lainnya. 

Tari Topeng Cirebon sebenarnya menggunakan enam sampai delapan karakter dalam pertunjukkannya, tetapi yang dikenal secara luas hingga kini hanya ada lima. Pementasan tari Topeng Cirebon berlangsung dalam lima babak yang masing-masing memakan waktu ± 1 jam. Kelimanya dibawakan oleh satu orang yang disebut dalang topeng. 

Tari Topeng Tumenggung 

Topeng yang digunakan berwarna merah dengan banyak guratan, mata membulat dan terbuka, serta berkumis. Tari Topeng Tumenggung menggambarkan manusia dewasa yang telah menemukan jati dirinya. Karakter Tumenggung adalah gagah, tangguh, bersikap tegas, bertanggungjawab, dan memiliki jiwa korsa yang paripurna. Dalam struktur kerajaan, tumenggung adalah patih atau panglima perang. Kostum penari berwarna hitam yang bisa dikombinasikan dengan warna apapun sebagai penggambaran sikap bijak seorang tumenggung. Tari Topeng Tumenggung muncul di babak keempat yang biasanya dilanjutkan dengan peperangan melawan Jingga Anom. 

Pakaian serba hitam, mengikuti iringan lagu gamelan menjadi sebuah persembahan penari di daerah Cirebon, Jawa Barat. Mengenakan celana sebatas lutut dan penutup kepala atau yang disebut sobra sebagai hiasan yang melekat di kepala. Topeng merah dengan kumis tebal memperlihatkan karakter yang gagah juga berwibawa. Itulah kira-kira gambaran tari Topeng Temenggung, sebuah tari yang menceritakan ksatria berjiwa arif juga budiman. 

Tari Topeng Temenggung merupakan salah satu dari lima tari topeng Cirebon, selain Tari Topeng Panji, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Rumyang, dan Tari Topeng Kelana. Kelima tari topeng Cirebon tersebut memiliki karakter dan unsur yang berbeda-beda saat dipentaskan. 

Khusus Tari Temenggung, tari ini menceritakan sebuah ksatria yang gagah berani berperang melawan angkara murka. Sosok ksatria tersebut disimbolkan oleh Temenggung, yaitu seorang Adipati dari Magadiraja yang berjiwa pemberani, dihadapkan oleh sang perusuh yang bernama Jinggaanom. 

Dalam gerakan Tari Temenggung, tubuh sang penari terlihat tegap juga elegan. Ini melambangkan sang penari tengah menjadi ksatria yang gagah dan tangkas. Gerakan punggung dan tangan sangat tegas, memperlihatkan tarian ini adalah tarian yang melambangkan seorang ksatria. Walaupun melambangkan ksatria yang gagah, namun tidak jarang tari ini di bawakan oleh kaum wanita. 

Tari Topeng Tumenggung diiringi oleh musik gamelan yang dipadukan dengan gendang. Sementara lagu yang biasa digunakan untuk mengiringi pementasan adalah lagu temenggungan, barendodoan, dan barenkering. Tari tradisional Cirebon ini biasa dipentaskan baik secara perorangan maupun kelompok. 

Bagi masyarakat Cirebon, topeng dianggap sakral. Selain sebagai simbol dari tanggung jawab, topeng juga dianggap sebagai jati diri seseorang. 

Filosofi Kesenian Topeng Cirebon 

Seperti disebut dalam kesejarahan tari ini, awalnya Tari Topeng Cirebon lebih dikonsentrasikan di lingkungan keraton. Seiring perkembangannya, lama-kelamaan kesenian ini kembali, melepaskan diri dan dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari tarian rakyat. 

Sementara itu, karena pada masa Islam tari ini lebih diupayakan untuk penyebaran agama, maka dikemaslah pertunjukan ini menjadi bermuatan filosofis dan berwatak atau wanda. 

Pengemasan yang dimaksud adalah lebih menggambarkan ketakwaan dalam beragama serta tingkatan sifat manusia, diantaranya sebagai berikut : 

· Makrifat (Insan Kamil) : Tingkatan tertinggi manusia dalam beragama dan sudah sesuai dengan syariat agama. 

· Hakikat : Pengambaran manusia yang berilmu, sehingga telah faham mana yang menjadi hak seorang hamba dan mana yang hak sang Khalik. 

· Tarekat : Gambaran manusia yang telah hidup dengan menjalankan agama dalam perilaku kehidupannya sehari-hari. 

· Syariat : Sebagai gambaran manusia yang memulai untuk memasuki atau baru mengenal ajaran Islam. 

Sebagai hasil budaya, Tari Topeng Cirebon mengusung nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung. Unsur-unsur yang terkandung mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangatlah menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga memiliki nilai pendidikan. 

Aspek kehidupan dalam hal ini sangatlah bervariasi, termasuk kepribadian, kepemimpinan, cinta, angkara murka, serta penggambaran hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.

Sabtu, 21 Desember 2019

Fungsi simbol dan Unsur estetika seni tari

Desember 21, 2019 0
     
  A. Jenis Jenis Tari Berdasarkan Fungsi 
 
Tari yang merupakan seni budaya juga memiliki fungsi. Gerakan tari yang menjadi media untuk menyampaikan fungsi tersebut. Berdasarkan fungsinya, tarian di Indonesia diklasifikasi menjadi 3, yaitu : 
1. Tari sebagai sarana upacara 
Tari sebagai upacara ini merupakan tarian yang biasa dipentaskan dalam upacara-upacara adat suatu daerah. Berikut contohnya :
a. Tari Kecak
Tari Kecak adalah tarian yang digunakan dalam upacara adat tertentu. Tari Kecak ini merupakan tarian khas Bali. Biasa dipentaskan saat upacara pembukaan atau penutupan sebuah acara besar.
b. Tari Gambuh
Tari Gambuh, juga merupakan tarian yang berasal dari Bali. Tarian ini dipentaskan saat upacara odalan, hajatan keluarga bangsawan, ngaben, dan lainnya.
c. Tari Lawung Ageng
Tari Lawung adalah tarian khas Yogyakarta. Tarian ini diciptakan oleh Sri Sultan Hemengkubuwono I. Nama Lawung diberikan karena dalam pentasnya penari menggunakan properti lawung atau tombak. 
2. Tari sebagai sarana hiburan 
Tari sebagai sarana hiburan adalah tarian yang berfungsi dipentaskan untuk dijadikan sebagai sarana media hiburan para masyarakat. Berikut contohnya :
a. Tari Topeng
Tari Topeng merupakan tradisional yang berasal dari Jawa Barat, lebih tepatnya tarian ini lahir di Cirebon. Dinamakan tari topeng karena memang penarinya memakai topeng saat tampil. Tarian ini seringkali dipertunjukkan sebagai hiburan dalam acara hajat masyarakat Cirebon.
b. Tari Merak
Tari Merak adalah tari tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Tarian ini mendeskripsikan keindahan dan kecantikan burung merak, biasa dipertunjukkan sebagai saran hiburan masyarakat Jawa Barat.
c. Tari Jaipong
Tari Jaipong adalah tarian hiburan yang juga berasal dari Jawa Barat, tepatnya yaitu dari daerah Karawang. Tari Jaipong ini diciptakan oleh H. Juanda pada tahun 1976. 
3. Tari sebagai sarana media pertunjukan 
Tari sebagai sarana media pertunjukan merupakan tari yang memiliki fungsi untuk dipentaskan kepada masyarakat luas. Dengan pertunjukan yang benar-benar disiapkan sebelum dipentaskan, masyarakat akan menikmati keindahan-keindahan yang diungkapkan melalui gerak tari. Berikut contohnya :
a. Tari Gambyong
Tari Gambyong adalah tarian klasik yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tarian ini dipentaskan sebagai media pertunjukan, di mana tarian ini menggambarkan sifat wanita yang diungkapkan dengan gerak halus, terampil, dan lembut serta lincah.
b. Tari Golek Menak
Tari Golek, juga merupakan tarian klasik yang memiliki fungsi sebagai media pertunjukan. Tari Golek ini berasal dari Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
c. Tari Piring
Tari piring atau biasa disebut dengan Tari Piriang dalam bahasa Minangkabau. Tari Piring ini berasal dari Kota Solok, Sumatera Barat. Tarian yang menggunakan media pokoknya piring ini merupakan tarian yang memiliki fungsi sebagai media pertunjukan. 
B. Simbol Dalam Seni Tari 
Gerak dalam tari mengandung tenaga atau energi yang dikeluarkan dan mencakup ruang dan waktu. Gerak adalah aktivitas yang dilakukan manusia didalam kehidupan. Artinya manusia dalam mengungkapan segala perasaan marah, kecewa, takut, senang, akan nampak pada perubahan – perubahan yang ditimbulkan melalui gerakan anggota tubuh. Gerak berasal dari pengolahan hasil dari perubahan dan akan melahirkan dua jenis gerak yaitu gerak murni dan gerak maknawi yang dirangkai menjadi sebuah tarian.
Tari adalah ekspresi jiwa, oleh sebab itu didalam tari mengandung maksud-maksud tertentu. Dari maksud yang jelas dan dapat dirasakan oleh manusia. Maksud atau simbol gerak yang dapat dimengerti atau abstrak yang sukar untuk dapat dimengerti tetapi masih tetap dapat dirasakan keindahannya.
C. Unsur Nilai Estetika Seni Tari  
Tari adalah gerakan berirama yang dilakukan dalam suatu ruang. Suatu gerakan dikatakan tari jika terdapat mengandung suatu ungkapan tertentu, mempunyai ekspresi, dilakukan secara berirama, dilakukan dalam suatu ruangan, memiliki nilai estetika, gerakan itu dapat dinikmati oleh penari dan orang yang melihat tarian itu.
Namun untuk menilai estetika suatu tari dapat menggunakan 4 dasar yaitu sebagai berikut: 
1. Wiraga
Wiraga adalah dasar keterampilan gerak tubuh/fisik penari yang dapat menyalurkan ekspresi batin dalam bentuk gerak tari. Gerakan anggota tubuh itu antara lain:
Jari-jari tangan
Pergelangan tangan
Siku-siku tangan
Bahu
Leher
Muka dan kepala
Lutut
Mulut
Jari-jari kaki
Dada
Perut
Pinggul
Biji mata
Alis
Pergelangan kaki 
2. Wirama
Wirama adalah suatu pola untuk mencapai gerakan yang harmonis di dalam tari. Di dalamnya terdapat pengaturan dinamika seperi aksen dan tempo tarian. ada dua macam Wirama pada tari, yaitu:
Wirama tandak : adalah wirama yang ajeg (tetap) dan murni dengan ketukan dan aksen yang berulng-ulang dan teratur. dalam wirama tandak, gerak tari dan musik lebih mudah disusun. seorang dapat bergerak langsung mengikuti ketukan sekali, ketukan mengganda, ketukan menigakali, atau dapat pula membuat gerakan sinkop (berlawanan dengan gerakan musiknya)
Wirama bebas : adalah wirama yang tidak selalu memiliki ketukan dengan akses yang berulang-ulang dan teratur. 
3. Wirasa
Wirasa adalah ekspresi raut muka /mimik yang menggambarkan karakter tarian, penghayatan gerak sesuai dengan tuntutan tarian. Wirasa merupakan tingkatan penghayatan dan penjiwaan dalam tarian. seperti : tegas, lembut, gembira dan sedih, yang mengekspresikan melalui gerakan dan mimik wajah sehingga melahirkan keindahan. 
4. Wirupa
Adalah penampilan penari dari ujung atas sampai ujung bawah . Wirupa adalah unsur yang memberikan kejelasan karakter gerak tari yang ditunjukan melalui warna, busana dan tata rias.
Untuk melengkapi keempat unsur di atas, sebuah tari hendaknya dibangun dengan kesesuaian dari tata rias, kostum, tata lampu, dan tata pangung. Tarian yang mengekspresikan kisah sedih misalnya, tidak cocok ditampilkan dengan tata rias yang menor serta kostum yang berwarna cerah. Sebaliknya, tarian yang mengekspresikan kegembiraan, sangat cocok ditampilkan dengan kostum yang gemerlap.

Senin, 16 Desember 2019

TARI TOPENG NUSANTARA

Desember 16, 2019 0
Mengenal jenis tari topeng (Serupa tapi tak sama)


Indonesia memang kaya akan budaya dan setiap jengkal dari Indonesia memiliki adat istiadat yang unik dan berbeda-beda. Nah, dari adat istiadat dan budaya tersebut terurai kembali jadi ragam seni yang memukau. Tari adalah salah satunya. Sudah bukan rahasia lagi jika negara ini punya banyak sekali tari yang memiliki gerakan-gerakan memukau. Terlihat sederhana tapi penuh makna.

Salah satu tari yang jadi ciri khas Indonesia adalah tari topeng. Eits, jangan salah, di antara tari-tari lain bisa dibilang tari topeng nusantara ini paling punya variasi yang beragam. Tergantung siapa dan dari mana penari berasal. Tari topeng dari Jakarta akan jauh berbeba dengan tari topeng Bali. Begitu juga tari topeng Cirebon akan jauh berbeda dengan tari topeng Magelang. Kekayaan itu yang mesti kita pelajari. Setidaknya kalau tak sempat belajar menari, kita mengerti perbedaan-perbedaan tari topeng dari satu daerah dan daerah lain. Nah, karena itulah Ublik coba sajikan beberapa macam tari topeng nusantara dari berbagai daerah di indonesia, supaya kamu dapat membedakan tari topeng yang satu dan yang lain.


1. Tari Topeng Betawi




mulai dari Ibukota Jakarta. Masyarakat Betawi memang memiliki kesenian tari tradisional yang cukup termasyhur. Selain Lenong, Tari Topeng juga masuk ke dalam list budaya unggulan orang-orang betawi. Tari Topeng Betawi biasanya dimulai dengan alunan musik yang dimainkan. Setelah itu para penari masuk dan sudah mengenakan topeng. Topeng-topeng ini disematkan diwajah dengan cara digigit. Mereka menari sesuai dengan tema yang dibawakan. Mulai dari legenda, kritik sosial, sampai dengan kehidupan masyarakat. Tari ini memang seperti memiliki cerita. Kini Tari Topeng Betawi banyak dipentaskan sebagai pertunjukan budaya. Keunikan dan kekayaan gerakan membuat tarian ini tetap digemari masyarakat.


2. Tari Topeng Bali





Kita beranjak ke pulau Dewata. Pulau seribu wisata ini juga menyimpan keanekaragaman budaya. Tari topeng Bali adalah satu daya pikat bagi provinsi yang beribukota Denpasar itu. Nah, Tari Topeng Bali ini mirip dengan pagelaran drama, yakni ada jalan ceritanya. Meski begitu semua dilakukan dengan gerakan. Terlebih, Tari Topeng Bali ini memang memiliki alur cerita. Biasaya ada narator yang menjabarkan tentang lakon cerita tari topeng ini. Narator juga mengenakan topeng, bedanya topeng yang dipakai adalah topeng separuh wajah. Nah, Tari Topeng Bali ini dimainkan dengan latar belakang musik gamelan. Penggunaan topeng dalam tarian khas Bali ini adalah wujud pemujaan untuk para leluhur masyarakat. Tiap tarian ini dipentaskan, maka jaminannya adalah banyaknya penonton yang hadir untuk menikmati.


3. Tari Topeng Cirebon



Kota udang ini juga memiliki tarian yang mesti menggunakan topeng. Bahkan bisa dibilang tari topeng jadi tontonan budaya andalan di Kota paling timur Jawa Barat ini. Tari Topeng Cirebon memang memiliki banyak sekali variasi. Mulai dari variasi daerah sampai dengan variasi topeng. Ya, gerakan tarian ditentukan dari topeng apa yang dipakai. Ada lima macam topeng yang biasanya dikenakan; Topeng Panji, Topeng Patih, Topeng Rumiyang, Topeng Samba dan tentu yang paling terkenal Topeng Kelana. Kelima topeng tersebut memiliki filosofinya masing-masing. Filosofi itu akan masuk pula dan memengaruhi gerakan pada tarian. Tari Topeng Cirebon juga pernah di tulis oleh Thomas Stamford Rafflesh dalam bukunya yang berjudul The History of Java.


4. Tari Topeng Magelang





Magelang juga punya karya tarinya tersendiri, dan topeng menjadi bagian yang tak bisa dilepaskan dari Tari Topeng Magelang. Tari Topeng Magelang atau biasa orang menyebutnya juga Tari Topeng Ireng adalah tarian yang dilakukan beramai-ramai, bisa 10 orang atau lebih. Salah satu daya pikat tari topeng ini adalah kostum yang dipakai penari. Benar-benar di luar pakaian atau kostum Jawa. Kostum yang dipakai ini justru lebih identik dengan pakaian adat suku Dayak Kalimantan. Nah, Tari Topeng Magelang ini adalah hiburan bagi masyarakat. Jika tari ini sudah mentas, maka keriuhan akan terjadi. Dalam tarian ini, mulut para penari akan berteriak-teriak. Kaki mereka yang sudah disematkan benda seperti gelang akan terus dihentakkan sehingga timbul suara gemerincing. Belum lagi tepukan tangan penonton sebagai apresiasi. Tari Topeng Magelang ini memang selalu seru untuk ditonton.


5. Tari Topeng Malang




Kota Apel ini juga memiliki kesenian khas tari bertopeng. Kota yang terletak di Jawa Timur ini memiliki Tari Topeng Malangan. Tari topeng ini juga memiliki alur cerita seperti halnya dengan tari topeng yang berasal dari Bali. Tapi, jika dilihat tari ini juga mirip dengan kesenian adat Jawa lain yaitu wayang orang. Ya, dalam Tari Topeng Malangan, terdapat seorang dalang yang mengatur jalan cerita. Selain itu, ada empat sesi untuk mementaskan tarian ini. Sesi pertama adalah Gending Giro. Sesi ini adalah sesi di mana alat musik seperti gamelan dimainkan. Gending giro dilakukan untuk mengundang masyarakat untuk menyaksikan. Kedua ada salam pembukaan. Sesi ini dilakukan untuk menceritakan sinopsis dari lakon yang akan dimainkan. Ketiga ada sesajen. Hal ini adalah ritual permohonan agar acara dilancarkan, dan yang keempat adalah acara inti pagelara.
     Meski unik dan terbilang cukup epic, Kesenian asli Malang ini kini mulai sepi pementasan dan terancam punah. Karena itu, sudah selayaknya sebagai masyarakat asli Indonesia kita turut melestarikan dan menjaga agar segala budaya kita dapat terus abadi.

Makna Pada Unsur Kostum Tari Topeng

Desember 16, 2019 0

Warna topeng merah muda, menunjukan tingkat manusia yang pasrah, ikhlas dan nrimo. Rumyang adalah paduan sifat duniawi dan surgawi, hal ini terlihat dari hiasan Kembang Kliyang, Pilis dan stilasi gelungan rambut. Motif Pilis dianggap atribut duniawi pada tokoh wanita., dimana sifatnya masih dapat di pengaruhi oleh hal yang bersifat duniawi. Dalam falsafah Jawa, Rumyang, berada di utara, ia bergerak dari timur ke utara, arah Timur-Utara ini memiliki arti turunnya dunia atas ke dalam dunia material. Patih, gambaran pejabat negara atau kerajaan yang selalu bergerak di area luar. Sosok Patih adalah lambang kedewasaan zaman. Ia berada di posisikan Barat, sebagai pihak luar, duniawi, pihak musuh, kematian, kasar dan kelelakian.

Warna topeng adalah warna kembang terong muda atau dadu pelang, namun ada, paras wajah menunjukkan sifat gagah dengan bentuk mata terbelalak dan berkumis, simbol dari kemauan yang keras, ambisius dan berani.Gerak tari bebas, gagah berani dan kelaki-lakian, kontras dengan tarian sebelumnya, yaitu Pamindo, Rumyang dan Panji.

Topeng Patih memperlihatkan watak manusia dewasa yang telah menemukan pribadi dan watak yang baik. Dalam falsafah Jawa, tokoh Patih memiliki sifat luwamah dengan arah Barat, dan gambaran watak manusia dewasa, dalam filosifi Islam ia telah mencapai tingkatan tarekat, dimana semua perilaku sehari-hari mengacu pada sunnah dan hadist nabi, serta Al Quran sebagai petunjuk hidup, serta tegas dan konsekuen. 

Klana, karakter yang penuh dinamika dengan hasrat jasmani-duniawi, ia melambangkan nafsu yang terkekang manusia. Warna topeng merah tua, mata membelalak, mulut menyeringai, kumis melingkar, berjambang dan berjanggut. Klana digambarkan figur gagah dengan hidung panjang, mata melotot, mulut monyong menganga, rambut godekan. Gerakan dalam tarian Klana menunjukan kegagahan, kasar, penuh nafsu hidup jasmani dan duniawi, berwatak angkara murka, serakah dan dzalim. Gerakan mengangkat kaki dan rentangan tangan yang melebar merupakan gambaran jiwa yang keras, kuat serta berkesan meraih atau mengambil sesuatu.

Tokoh Klana ditempatkan sebagai arah Selatan, dan sifat Amarah yang berarti penuh keduniawian, jiwa tidak tenang dan berpetualang. Warna topeng menunjukkan watak angkuh dan kejam, hingga merah diasosiasikan dengan darah, nafsu dan kemarahan. Dalam ajaran Islam, Klana berada di Syariah yang memiliki pembawaan serba ingin menonjolkan kepandaian, ingin tahu, dan bila kurang mendapat bimbingan penari akan masuk neraka karena tindakannya dianggap lepas kontrol. 

Tari Topeng Babakan di Slangit-Cirebon Pertunjukan topeng yang menceritakan hikyat Panji dan Damar Wulan menjadi awal perkembangan dari pertunjukan topeng babakan. Pertunjukan kesenian ini tidak menampilkan cerita yang utuh, melainkan menampilkan adegan babak demi babak. Perihal keberadaan pertunjukan topeng babakan ini diungkap pula dalam buku ’Kawruh Asalipun Ringgit Sarta Gegepokanipun Kaliyan Agami Ing Jaman Kina’ (Hazeu dalam Toto Sudarto, 2001:53), yang menuliskan bahwa topeng babakan adalah pertunjukan topeng yang berkelana kemana-mana untuk mencari uang, dapat ditanggap di tepi jalan atau dimana saja, dan orang yang menanggap topeng membayar perbabak. Dapat disimpulkan pengertian topeng babakan sendiri:

a. Adalah tarian yang penyajiannya terdiri atas beberapa babak/tahap.

b. Setiap penyajian menampilkan lima atau enam karakter tokoh, dapat dilakukan oleh satu atau enam orang.

c. Lebih mengutamakan kualitas gerak dan nilai artistik dari gerakan tarian, sedangkan unsur cerita dalam pertunjukan tarian tersebut tidak menjadi perhatian utama. 

Urutan pertunjukan tari topeng di Slangit, hampir sama dengan urutan di wilayah lain, yaitu dimulai dari topeng Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung, dan Klana. Sedangkan jenis tari topeng babakan adalah suatu pertunjukan lepas yang menampilkan fragmen atau potongan dari Hikayat Panji, yang diyakini sebagai ‘pahlawan budaya’ bagi masyarakat Hindu-Budha pada masa Mahapahit, serta menjadi dasar terbentuknya karakter-karakter dalam pertunjukan ini. Ciri khas dari pertunjukan topeng di wilayah ini adalah gerakan bahu dan pinggang yang kuat, gesit dan detail pada setiap perpindahan gerakan satu ke gerakan berikutnya. Urutan dalam setiap pertunjukan biasanya terdiri dari: tetalu atau gagalan, yaitu musik yang dimainkan sebelum penari topeng muncul, penampilan pokok tarian, bodoran atau lawakan, lakon atau drama dan penutup atau Rumyang. 

Tokoh dan lagu pengiring dalam Tari Topeng: 1. Panji Kembang Sungsang,2. Pamindo Singa Kawung, 3. Rumyang Kembang Kapas, 4. Patih Tumenggungan atau bendrong,5. Klana Gonjing. Penari topeng yang berada di wilayah Slangit mayoritas berasal dari generasi Arja, ia dianggap memiliki garis keturunan dari Sunan Panggung. Walaupun sudah tidak dapat diurutkan lagi, tetapi pada intinya leluhur mereka berasal dari Buyut Ki Kijar yang menyebarkan kesenian ini di wilayah Cirebon. Salah satu penari topeng turunan Arja yang masih hidup adalah Keni Arja, selama ini banyak kalangan yang tidak mengetahui keberadaanya, karena ia lebih mengutamakan pentas di kalangan masyarakat, sehingga sosoknya jarang terpublikasi seperti penari yanglain. Keni Arja adalah salah satu penari yang sampai saat ini masih mempertahankan ritual tradisi, yang bertujuan untuk menjaga nilai-nilai magis yang ada dalam pertunjukan ini. Ritual tersebut antaralain Mapag Tanggal, yang dilakukan setiap menyambut pergantian bulan dan Buka Panggung, ritual yang berkenaan dengan di mulainya musim hajatan. 

Secara umum gambaran kostum tari topeng yang hingga kini dipakai adalah gambaran kostum para bangsawan atau kalangan raja. Karena terlihat berbeda dengan pakaian yang dikenakan oleh rakyat jelata. Contohnya adalah dari cara penggunaan kain panjang dan banyaknya aksesoris pada beberapa bagian tubuh, hal ini tampaknya berkaitan dengan awal kesenian topeng lahir, yaitu dikalangan kerajaan. Keberadaan kostum dalam sebuah pertunjukan bersifat mutlak, karena pada dasarnya suatu tarian dapat terungkap dengan sempurna, bila seluruh unsur pendukung hadir di dalamnya, yaitu musik pengiring, tata rias, busana termasuk ungkapan gerak dan ekspresinya. Dengan kata lain penggunaan busana selain untuk menambah keindahan tampilan, juga menggambarkan identitas si penarinya. Dalam kostum tari topeng, ada beberapa unsur pokok yang harus digunakan oleh penarinya saat melakukan pertunjukan, yang terbagi atas bagian atas, tengah dan bawah, sebagai berikut: Tabel 3 Bagian dan kelengkapan pada kostum Tari Topeng Cirebon. Bagian Atas Bagian Tengah Bagian Bawah Terdiri hiasan kepala, yaitu: 1. Topeng 2. Sobrah atau Tekes Terdiri dari aksesoris dan baju, yaitu: 

1. Kalung

2. Kelat bahu

3. Sabuk

4. Gelang

5. Baju Terdiri dari:

1. Ikat pinggang atau sabuk

2. Tutup rasa atau katok

3. Kain yang disebut dodot, dan selendang yang disebut soder.

Rambut wig Makuta Jamang Kembang melok Rawis atau sumpingKetop-ketop Peci-Bendo, dipakai pada karakter Patih, perubahan pada penggunaan peci-bendo sebagai pengganti sobrah dan penggunaan kacamata adalah bentuk serapan dari masa kolonialisme. 
Bagian Tengah Unsur visual yang ada pada bagian tengah adalah penutup tubuh berupa baju, krodong sebagai penutup punggung, dan aksesoris yang digunakan pada bagian leher, yaitu kalung, gelang tangan, tutup rasa yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Uraiannya sebagai berikut: Baju sebagai penutup tubuh, warna baju yang digunakan Keni Arja terbagi menjadi dua karakter, yaitu baju berwarna terang untuk karakter baik, dan warna gelap untuk karakter jahat. 

Bentuk baju yang digunakan oleh Keni Arja. Bentuk baju dan detail bagian lengan Keterangan Detail pada lengan : biku-biku berbentuk segitiga, terbuat dari benang emas .Topeng Cirebon Wayang Wong Penggunaan hiasan pada bagian pangkal lengan yang disebut biku-biku ini tersebut digunakan sebagai pengganti kelat bahu, dan dianggap membedakan penggunaan antara Krodong yang berfungsi sebagai penutup punggung, terbuat dari kain batik lokcan dari Juwana-Jawa Tengah, dengan motif burung phoenix.Motif burung Phoenix dengan ekor dan sayap yang sangat panjang, dan disekelilingnya terdapat pancaran sinar matahari Burung phoenix adalah simbol binatang penghuni Surga Motif bunga dan buah-buahan, yaitu motif buah delima atau salakan. Motif tumbuhan disebut juga motif semen, berasal dari istilah semi yang artinya tumbuhnya bagian dari tanaman. Pada bagian tepi terdapat dua baris motif banji, dan motif segitiga. Tiap tingkat dihiasi motif bunga bintang. Pada bagian pinggir terdapat ornamen sawut berupa deretan garis-garis

Aksesoris pada leher dan dada Pinggang Kalung mutiara Kalung yang digunakan adalah mutiara putih, pada masa sebelumnya kalung dalam topeng adalah bentuk Wulan Tumanggal Kace. Kain berwarna emas yang dilekatkan di dada, digunakan pada tokoh Panji, Pamindo dan Rumyang Tutup Rasa Berfungsi sebagai ikat pinggang, terbuat dari bludru, motif sulur-sulur dan teratai,digunakan pada tokoh Panji, Pamindo, Rumyang dan Patih Digunakan pada tokoh Klana, motif bunga teratai Klambi Gulu Kain tambahan yang di adaptasi dari bentuk jas safari para pejabat di masa kolonial Dasi Digunakan pada karakter Panji, Pamindo, Rumyang dan Patih, dan Klana tidak menggunakan dasi Ombyok Hiasan dada terbuat dari kain bludru dengan motif teratai, digunakan pada tokoh Klana. 

Bagian Bawah Unsur visual pada bagian bawah adalah kain dodot sebagai penutup bagian bawah, celana sontog, yaitu celana sebatas lutut, dan soder atau sampur, yaitu kain yang diikatkan pada bagian pinggang dan dibiarkan lepas di bagian kiri-kanan pinggang. Kain dodot lancar gelar untuk Panji Kain dodot lancar cangcut untuk Pamindo, Rumyang Kain dodot lancar cangcut untuk Patih dan Klana. Paksi gubahan burung phoenix, lambang kerajaan, Naga (ular) simbol kehidupan Mega Mendung lambang awan hitam/hujan pemberi kehidupan, Tirtamaya., serta Pusar Bumi, sebuah lubang di wilayah keramat Cirebon,yaitu puncak Gunung Jati.

Penggunaan celana adalah pengembangan dari penutup kaki, diduga penggunaan penutup kaki berbentuk celana terjadi pada masa abad 18, hal ini terlihat dalam naskah Damar Wulan yang menggambarkan ia sedang menari topeng dan menggunakan celana panjang. Pada kostum tari Keni Arja, celana yang digunakan panjangnya sampai batas lutut, diduga pengurangan penggunaan celana ini berkaitan dengan aktivitas bebarang yang dilakikan di lapangan terbuka, sehingga penari membutuhkan keleluasan gerak serta aspek kebersihan.

Tari Topeng Klana

Desember 16, 2019 0
Tari topeng kelana - selamat beraktivitas para seniman tari jawa indonesia. kota cirebon merupakan kota yang yang indah akan pariwisatanya. bukan hanya iti cirebon pun mempunyai sebuah tari tradisional yang hingga saat ini masih buming dan banyak di minati para pecinta tari tradisional, yak Tari Topeng Kelana. kali ini saya akan membegikan artikel tentang tari Topeng Kelana.. ini dia.



Tari topeng Klana adalah gambaran seseorang yang bertabiat buruk, serakah, penuh amarah dan tidak bisa mengendalikan hawa nafsu, namun tarinya justru paling banyak disenangi oleh penonton. Sebagian dari gerak tarinya menggambarkan seseorang yang tengah marah, mabuk, gandrung, tertawa terbahak-bahak, dan sebagainya. Lagu pengiringnya adalah Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Struktur tarinya seperti halnya topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) dan bagian ngedok (tari yang memakai kedok).


Beberapa dalang topeng, misalnya Rasinah dan Menor (Carni), membagi tarian ini menjadi dua bagian. Bagian pertama, adalah tari topeng Klana yang diiringi dengan lagu Gonjing dan sarung Ilang. Bagian kedua, adalah Klana Udeng yang diiringi lagu Dermayonan.

Tari topeng Klana sering pula disebut topeng Rowana. Sebutan itu mengacu pada salah satu tokoh yang ada dalam cerita Ramayana, yakni tokoh Rahwana. Secara kebetulan, karakternya sama persis dengan tokoh Klana dalam cerita Panji. Di Cirebon, topeng Klana dan Rowana kadang-kadang diartikan sebagai tarian yang sama, namun bagi beberapa dalang topeng, misalnya Sujana dan Keni dari Slangit; Sutini dari Kalianyar dan Tumus dari Kreo; membedakan kedua tarian tersebut, hanya kedoknya saja yang sama. Jika kedok Klana yang ditarikan itu memakai kostum irah-irahan atau makuta Rahwana di bagian kepalanya dan di bagian punggungnya memakai badong atau praba, maka itulah yang disebut topeng Rowana. Kostumnya jauh berbeda dengan topeng Klana dan kelihatan sangat mirip dengan kostum tokoh Rahwana dalam wayang wong.


Dalam pertunjukan topeng hajatan, yakni setelah tari topeng tersebut selesai, penari biasanya melakukan nyarayuda atau ngarayuda, yakni meminta uang kepada para penonton, tamu undangan, pemangku dan panitia hajat, para pedagang, dan lain-lain. Ia berkeliling seraya mengasong-asongkan kedok yang dipegang terbalik–bagian dalamnya terbuka dan bagian wajahnya menghadap ke bawah–dan kedok berubah fungsi menjadi wadah uang. Mereka memberikan uang seikhlasnya tanpa merasa ada suatu paksaan. Setelah merasa cukup, penari kembali ke panggung dan sebagai rasa terima kasih, ia kembali mempersembahkan beberapa gerakan tari topeng Klana, sebagai tarian ekstra.


Nyarayuda atau ngarayuda adalah sebuah pesan moral atau simbol yang mengingatkan kita .tentang bagaimana sebaiknya berkehidupan di masyarakat. Klana adalah seorang raja yang kaya raya, yang tak kurang suatu apapun, namun ia masih merasa kekurangan, merasa segalanya belum cukup, sehingga ia tetap berusaha untuk mengambil sebanyak-banyaknya harta tanpa memperdulikan apakah itu hak atau batil. Itulah sebenarnya pesan yang ingin disampaikan nyarayuda, yang artinya bukan semata-mata mengemis. Hidup, sebaiknya lebih banyak memberi daripada lebih banyak meminta.

Sejarah tari topeng klana

Tari Topeng Cirebon adalah salah satu tarian di tatar Parahyangan. Kesenian ini merupakan kesenian asli daerah Cirebon, termasuk Indramayu, Jatibarang, Losari, dan Brebes. Di Cirebon, tari topeng ini sendiri banyak sekali jenisnya, dalam hal gerakan maupun cerita yang ingin disampaikan. Terkadang tari topeng dimainkan oleh saru penari tarian tunggal, atau bisa juga dimainkan oleh beberapa orang.

Salah satu jenis tari topeng yang berasal dari Cirebon adalah Tari Topeng Klana. Tarian ini merupakan semacam bagian lain dari tari topeng cirebon lainnya yaitu Tari Topeng Kencana Wungu. Adakalanya kedua tari Topeng ini disajikan bersama, biasa disebut dengan Tari Topeng Klana Kencana Wungu.

Tari Topeng Klana merupakan rangkaian gerakan tari yang menceritakan Prabu Minakjingga (Klana) yang tergila-gila pada kecantikan Ratu Kencana Wungu, hingga kemudian berusaha mendapatkan pujaan hatinya. Namun upaya pengejarannya tidak mendapat hasil.

Kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikannya keno komudian membeberkan segala tabiat buruknya. 

Pada dasarnya, bentuk dan warna topeng mewakili karakter atau watak tokoh yang dimainkan. Klana, dengan topeng dan kostum yang didominasi warna merah mewakili karakter yang tempramental. Dalam tarian ini, Klana yang merupakan orang yang serakah, penuh amarah, dan tidak bisa menjaga hawa nafsu divisualisasikan dalam gerakan langkah kaki yang panjang-panjang dan menghentak. Sepasang tangannya juga terbuka, serta jari-jari yang selalu mengepal.

Topeng-cirebon

1. Tari Topeng Panji

Tarian jenis ini melambangkan kesucian anak yang baru lahir. Motif topengnya berwarna putih bersih, hanya ada mata, hidung, dan mulut, belum ada guratan lain.

Gerakan tari jenis ini masih sangat sederhana, hanya "adeg-adeg", menggunakan baju dan atribut serba putih.

2. Tari Topeng Samba

Jenis tarian ini melambangkan perkembangan balita atau kelincahan manusia di masa kanak-kanak. Gerakannya mulai genit, lincah, dan lucu tetapi, kurang luwes atau masih ragu.

Wujud topengnya sudah mulai ada goretannya, warnanya pink keputihan. Untuk kostum sendiri berwarna hijau daun.

3. Tari Topeng Rumyang

Tari topeng ini punya ukiran sederhana, dengan warna dasar merah muda.

Tarian ini memiliki makna remaja yang sudah mulai mencari jati dirinya. Akan terlihat dari gerakannya yang "labil", dengan pengulangan-pengulangan.

4. Tari Topeng Tumenggung

Tarian ini menggambarkan manusia yang sudah menginjak dewasa dan telah menemukan jati dirinya. Sikapnya tegas, berkepribadian, bertanggung jawab dan memiliki jiwa korsa yang paripurna.

Topengnya berkumis, dengan banyak guratan yang berwibawa. Kostum penari berwarna hitam, yang bisa bijak menyesuaikan dengan warna mana pun, seperti makna sikapnya.

Dalam struktur kerajaan, tumenggung merupakan patih atau panglima perang.

5. Tari Topeng Kelana

Memiliki ukiran topeng yang paling rumit, juga banyak ikatannya di atas topeng. Topeng dan kostum penari berwarna merah.

Tariannya agresif dan enerjik karena merupakan akumulasi gerakan dari semua tari topeng tadi. Tarian ini melambangkan sifat angkara murka yang terdapat dalam manusia.

Lazimnya berbagai daerah di Nusantara, Cirebon juga memiliki tarian tradisional yakni Tari Topeng, yang memiliki beragam jenis dengan keunikan dan maknanya masing-masing.

Sebagian gerak tarinya menggambarkan seseorang yang gagah, mabuk, marah, atau tertawa terbahak-bahak. Tarian ini biasa dipadukan dengan irama Gonjing yang dilanjutkan dengan Sarung Ilang. Pola pengadegan tarinya sama dengan topeng lainnya, terdiri atas bagian baksarai (tari yang belum memakai kedok) dan bagianngedok (tari yang memakai topeng).

Tepat sebelum bagian akhir tarian ini, penari biasanya berkeliling kepada tamu yang datang untuk meminta uang. Ia berkeliling dengan mengasonkan topeng yang dipakainya sebagai wadah uang pemberian penonton. Bagian ini disebut dengan Ngarayuda atau Nyarayuda, simbol dari raja kaya raya yang masih tidak merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, hingga terus merampas sebanyak-banyaknya harta rakyat kecil tanpa mempeduikan hak-haknya.

Inilah kiranya yang menginspirasi Nugraha Soeradiredja ketika menciptakan Tari Klana.

Jumat, 13 Desember 2019

Tentang tari topeng (Panji)

Desember 13, 2019 0


Tari Topeng (Panji) dan Penjelasannya




Setiap daerah yang ada di negara kita tercinta Indonesia ini tentunya memiliki ciri khas tersendiri yang menjadi kekayaan dari daerah tersebut dan juga menjadi kekayaan terhadap negara kita Indonesia ini secara umum.
Salah satu jenis kekayaan yang bisa kita lihat adalah contoh budaya daerah yang tentunya berbeda dari daerah yang satu dengan daerah yang satunya pula. Dan apabila kita berbicara mengenai budaya , tentunya kita juga akan membahas mengenai jenis tarian yang berasal dari daerah tersebut, karena seperti yang sudah kita ketahui bersama, tarian ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan dari budaya tersebut.

Oke, pada postingan kali ini kita akan membahas mengenai contoh seni tari khususnya tari yang berasal dari daerah Cirebon, yakni tari topeng ( panji ). Nah sobat semua, agar tidak penasaran.

A. Asal Usul Cerita Topeng Panji

Seperti yang sudah kita kerahui bersama sobat, topeng tidak hanya sekedar sebuah sifat yang menakutkan atau menyimpan banyak rahasia. Namun disamping itu sobat, topeng juag disajikan lewat sebuah karya seni tarian yang selalu menyimpan cerita mistis.
Adapun tari topeng panji ini menggambarkan turunan dari kisah asrama Panji dan Dewi sekartaji yang pda umumnya berkembang di Jawa. Pada dasarnya sobat, Panji adalah sekumpulan cerita pada masa Hindu – Budha di Jawa tengah yang berkisar asrama panji Asmorobangun dengan Dewi Seakrtaji tersebut. Nah sobat, itulah yang menjadi asal muasal dari tari topeng panji tersebut.

B. Makna Dibalik Topeng Panji

Tarian Panji sebagai pahlawan budaya Jawa ini, memakai topeng atau kedok. Hal ini merupakan kesatuan dua konsep religi lama dan Hindu. Adapun Topeng Panji tersebut merupakan simbol kehadiran roh raja atau dewa yang menjelma dalam diri sang raja, yang sesusai dengan mitos panji yang selalu menyamar selama pengemabaraan yang sedang mencari kekasihnya.
Dibalik itu, Candrakirana juga yang menyamar untuk menyembunyikan dirinya yang asli sebelum nantinya bertemun dengan Panji. Namun waktu telah mempertemukan mereka sehingga mereka bisa menikah dibawah terang bulan.

C. Fungsi Tari Topeng Panji

Adapun tari topeng panji ini digunakan untuk menghadirkan kekuatan semesta – semesta yang paradoksal. Dengan tarian ini, maka asas – asas paradoksal tersebut kelaki – lakian dan keperempuanan akan dihadirkan. Selain itu, dewa pencipta itu sendiri akan hadir lewat mitos dan juga lambing panji ini.
Panji tersebut adalah paradoks itu sendiri. Ia sendiri bersifat laki laki dan juga bersifat perempuan bak seperti matahari dan juga bulan. Ia juga digambarkan seperti siang dan malam, langit dan tanah, ia juga kasar dan halus, ia juga nampak dan tidak nampak, ia hidup dan mati, ia masa lampau dan masa datang, waktu dan ruang sendiri adalah paradoks dalam diri dewa ini.

Oleh karena itulah, cerita topeng Panji ini masih dinaggap mistis hingga sekarang ini. Gerakan tari topeng panji ini cenderung pelan dan lembut dan lebih banyak diam. Hal ini bertujuan untuk roh yang diundang agar masuk ke penarinya.

Senin, 09 Desember 2019

Melestarikan Seni Tari Tradisional yang Sudah Hampir Punah Dengan Berkembangnya Tarian Modern

Desember 09, 2019 0
Negara indonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan dari mulai tarian , musik, adat, bahasa, dan lain sebagainya. Kita seharusnya bangga, dengan ini kita bisa menarik peminat turis asing yang pergi ke indonesiaIndonesia adalah negara yang kaya akan kebudayaan yang tidak bisa diragukan lagi dari mulai dari bahasa ,adat,tarian musik dan lain sebagainya. Bangsa kita juga memiliki kurang lebih 742 bahasa daerah, 33 pakaian adat dan ratusan tarian adat,. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang harus kita syukuri dan lestarikan. Dengan keanekaragaman kebudayaannya, Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi.

Seperti yang kita ketahui sekarang ini generasi muda yang biasa kita sebut dengan istilah “Kids Zaman Now” sedang menggandrungi segala hal yang berbau modern. Seperti teknologi, fashion, dan juga budayanya pun sudah mulai mengikuti budaya modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya modern tersebut telah menggerus sedikit demi sedikit budaya tradisional atau budaya asli Indonesia itu sendiri.


Contohnya yaitu di Seni Budaya Tari Tradisional Indonesia, sekarang ini lebih banyak generasi muda yang memilih untuk menekuni Tari Modern seperti Kpop, Hiphop, R&B, dan lain sebagainya dibandingkan menekuni tari tradisional Indonesia yang sebenarnya banyak sekali mengandung nilai moral di sertiap gerakannya. Kondisi yang seperti itu yang membuat tari tradisional semakin tersingkir dari tempatnya.

Padahal jika bukan para generasi muda yang ikut mengembangkan budaya tari tradisional kita, siapa lagi yang akan melestarikannya agar tetap eksis sampai zaman anak cucu kita nanti?

Oleh sebab itu, banyak sekali upaya-upaya yang dilakukan dalam melestarikan tari tradisional Indonesia yang sedang digalakan Pemerintah Indonesia yang dalam hal ini dijalankan oleh Dinas Budaya dan pariwisata (DISBUDPAR), yaitu dengan menyarankan sekolah-sekolah untuk mengadakan ekstrakulikuler menari (Tari Tradisional), mengadakan lomba-lomba tari antar sekolah tingkat nasional, seperti FL2SN dan lomba Suku Dinas Pariwisata, dengan reward jika memenangkan kompetisi, anak tersebut akan lebih mudah masuk sekolah yang diinginkannya dengan jalur prestasi.



Dan juga yang baru baru diadakan, yaitu pembinaan budaya tari tradisional betawi di seluruh RPTRA (Ruang Publik Terpadu Ramah Anak) DKI Jakarta untuk warga sekitar RPTRA tersebut.

Namun, selain upaya dari pemerintah tersebut, ada pula dari pihak swasta yang ikut serta dalam pelestarian seni budaya tari di Indonesia. Seperti seniman-seniman tari yang mendirikan sanggar sebagai wadah pelestarian seni tari tradisional untuk warga sekitar, dan juga perusahaan yang mengadakan event kompetisi tari sehingga membangkitkan minat generasi muda untuk mempelajari tari tradisional.

Contoh konkretnya, event “Indonesia Menari” yang diadakan oleh Djarum Foundation dan Galeri Indonesia Kaya, dengan menggabungkan unsur modern dan tradisional mampu membangkitkan minat anak muda mempelajari tari tradisional Indonesia, dan juga event kompetisi tari tradisional lainnya.
Dari upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah dan swasta tersebut, sedikit demi sedikit membuahkan hasil yang manis, yaitu dengan banyaknya anak muda sekarang mulai menekuni seni tari tradisional. Bahkan, tidak sedikit juga diantara mereka yang mengikuti misi budaya dan juga kompetisi tari internasional, dan membawa penghargaan-penghargaan yang mengharumkan nama Indonesia di luar negeri.

Walaupun belum banyak dipublish di media, seni tari Indonesia sudah memiliki prestasi-prestasi yang cukup membanggakan!

Namun yang berkembang saat ini banyaknya mayoritas orang yang sudah mulai mengabaikan bahkan melupakan kebudayaan bangsa seperti halnya tarian tradisional. Tak sedikit anak muda yang malah lebih senang menarikan tarian modern dari pada tarian tradisional.Dari waktu kewaktu, tarian tradisional sudah mulai tertutupi oleh adanya tarian modern mekipun tidak semua, tarian tradisional kini sudah tidak dilirik lagi, bahkan Anak-anak hingga kaum muda kini sudah lebih mengenal tarian modern daripada tarian tradisional.

Padahal jika kita cermati bersama, tari-tarian tradisional ini memiliki daya tarik bagi wisatawan manca negara. Bahkan tak sedikit negara lain yag ingin mengklaim tari-tarian yang lita miliki seperti contoh beberapa waktu lalu tari pendet yang berasal dari bali yang diklaim oleh negara Malaysia, itu semua menunjukan bahwa budaya tari yang kita miliki sangat mempunyai pengaruh besar.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan kecintaan kepada tari-tarian tradisional membuat perlahan demi perlahan eksistensinya berkurang atau bahkan punah tak dapat di nikmati lagi, apalagi yang berkembang akhir-akhir ini negara kita sedang mengalami arus globalisasi yang cukup kuat mempengaruhi seluruh generasi muda kita seperti munculnya tari-tarian modern seperti harlem shake, atau tarian K-Pop yang membuat mereka lebih tertarik untuk mempelajarinya. Bahkan tak sedikit orang yang beramai-ramai membuat video tentang tarian tersebut dan di unggah di yuotube atau jejaring sosial lainnya. Miris,memang ketika melihat pelajar atau bahkan mahasiswa yang melakukan tarian ini. Mereka adalah generasi penerus yang seharusnya bisa memfilter budaya yang masuk ke dalam budaya kita, bukan malah menikmati tarian tersebut bahkan hingga membuat video dan menguggahnya ke jejaring sosial dan mungkin mereka tidak tahu asal usul adanya tarian tersebut.

Jika kita telaah dari segi sejarah, tentu tarian tersebut sangat tidak sesuai dengan falsafah negara kita yaitu pancasila dan moralitas bangsa kita. Jika dilihatdari segi agama pun tarian fenomenal ini tidak memiliki esensi apapun, bahkan hanya bersifat hura-hura dan parahnya lagi mengandung gerakan-gerakan yang mengandung unsur pornoaksi yang bisa menimbulkan syahwat yang seharusnya bisa lebih dicermati oleh seluruh lapisan generasi bangsa ini khususnya kaum muslim. Dengan adanya tarian modern sekarang ini, jika kita tidak bisa memfilternya terlebih dahulu, lama-lama tarian tradisional dan budaya bangsa kita akan semakin tertutupi bahkan bisa saja punah.




Melihat fenomena ini kita memang tak lantas dapat menyalahkan masyarakat yang lebih memilih menarikan tarian modern itu dibanding tari tradisional yang kita miliki. Perlunya ada penanaman dini tentang kecintaan terhadap budaya Indonesia khususnya seni bertari seperti mengenalkan seluruh tari-tarian tradisional agar setelah mereka mengenal lalu mereka tertarik untuk mempelajari selanjutnya. Atau kalau perlu diadakan ekstrakulikuler disetiap sekolah tentang tarian tradisioanal. Karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan melestarikan kebudayaan kita yang melimpah ruah ini.

Sudah saatnya kita sebagai masyarakat Indonesia khususnya pelajar dan mahasiswa, harus bisa memilah apa yang masuk dari luar artinya kita harus bisa memilih dan menyaring mana yang lebih baik dan positif untuk kita ikuti. Bukan sekedar ingin mengikuti tren yang sudah ada tanpa memfilter terlebih dahulu. Sudah saatnya kita kembangkan dan lestarikan kembali tarian tradisional yang sudah mulai tertutupi oleh tarian modern, karena bagaimanapun itu adalah hasil cipta karya bangsa kita.

Marilah generasi muda, kita mulai tanamkan rasa cinta akan budaya kita sendiri! Jangan sampai tari tradisional kita diakui oleh negara lain untuk kesekian kalinya. Ayo, lestarikan tari tradisional indonesia sekarang juga!

Jumat, 29 November 2019

Makna tersembunyi di balik 5 jenis tari topeng Babakan Cirebon

November 29, 2019 0
A. SEJARAH TARI TOPENG

Nglayab - Tari topeng adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng. Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang.

Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya. Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati.

Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan. Seiring dengan berjalannya waktu, tarian inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan

Tarian ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.

Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai. Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah.

Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.

Setiap pergantian warna topeng itu menunjukan karakter tokoh yang dimainkan, misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (temperamental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng.

B. MAKNA TERSEMBUNYI DALAM TARI TOPENG

Kesenian tari topeng Cirebon merupakan salah satu warisan budaya dan sejarah di kawasan pantura. Di Cirebon, tari topeng memiliki dua varian, yakni Topeng Babakan Lima Wanda dan Topeng Lakon.

Menurut pengamat sejarah dan budaya Cirebon Made Casta, topeng Babakan Lima Wanda memiliki pendekatan spiritual dan sifat-sifat manusia di Cirebon. Berikut lima jenis topeng Babakan Cirebon dan maknanya.

1. Topeng Panji




Topeng Panji ini merupakan simbol berhati putih, bersih, tabularasa ibarat bayi yang baru lahir. Warna topengnya putih polos hingga pakaian serba putih.

Gerakan tari pada topeng ini sangat hemat, sederhana dan tenang meskipun diiringi dengan suara musik yang penuh dengan dinamika. Makna dari gerakan topeng Panji ini menunjukkan manusia yang suci dan tidak mudah tersentuh oleh hiruk pikuk duniawi yang mengarah kepada hal negatif.

"Gambarannya kepada manusia di Cirebon topeng ini tidak terganggu hiruk-pikuk dan jiwa yang bersih. Gerakannya simpel dan sebagian orang melihat topeng Panji ini menjemukan karena waktunya lama dan gerakannya tidak banyak tapi maknanya sangat dalam," ujar Made Casta.

2. Topeng Samba




Untuk jenis Topeng Samba, kehidupan manusia Cirebon digambarkan memasuki fase biologis anak-anak. Ini terlihat dari tarian pada Topeng Samba yang menunjukkan tanda-tanda keceriaan dan selalu hidup bahagia. Tarian yang centil, lucu, genit dan kekanak-kanakan menunjukkan kesegaran ekspresi topeng Samba.

"Terlihat dari jenis topeng nya berwarna putih, tapi ada aksen hiasan di bagian wajah atas seperti rambut. Gerakannya lincah mengikuti irama musiknya," jelas Made Casta.

3. Topeng Rumyang


Topeng Cirebon yang berwarna Merah Jambu ini merupakan simbol manusia Cirebon memasuki fase remaja. Kemanisan warna merah jambu sebagai simbol keremajaan manusia Cirebon.

Dari gerakan tari, topeng Rumyang ini mulai menunjukkan ketegasan dan terstruktur dengan baik. "Frekuensinya pada ketegasan gerak," ujar Made Casta.

4. Topeng Tumenggung


Di antara Lima Wanda babakan Topeng Cirebon, Tumenggung merupakan satu-satunya topeng yang menggunakan topi. Topeng Tumenggung ini menggambarkan manusia Cirebon sudah memasuki fase dewasa dan mapan. "Irama gerak sudah seperti orang yang tenang, mantap dan dewasa," tutur dia.

Pada struktur gerak, Topeng Tumenggung ini seperti bagian dari tayub dan sangat beda dengan topeng yang lain. "Dalam tataran jabatan struktur pemerintahan Tumenggung ya atasannya bupati," ujar dia.

5. Topeng Kelana


Pada fase terakhir ini adalah Topeng Kelana. Sebagian orang memaknai topeng Kelana ini sebagai simbol angkara murka, kerakusan manusia. "Ada yang menyebut simbol angkara murka ada juga yang berbeda. Makanya, topeng ini menjadi pusat perhatian seniman, budayawan dan pengamat topeng," ujar Made Casta.

Bentuk topeng berwarna serba merah dengan kumis tebal dan tatapan mata tajam serta gagah. Pada gerakannya, topeng Kelana ini lebih kepada mengaktualisasi diri dan ekspresif. Namun, gerakan pada topeng Kelana sejatinya menggambarkan sebagai manusia yang mampu mengendalikan nafsu amarah.

"Ada satu pendapat bahwa yang menguraikan topeng Cirebon menjelaskan simbol sedulur papat kelima pancer atau empat nafsu dalam diri manusia. Nah, pada Topeng Kelana ini merupakan simbol dari tingkatan orang yang paripurna tapi bukan konteks angkara murka, melainkan orang yang sudah sampai pada tingkat aktualisasi diri, ekspresif," kata Made Casta.

Arsip Blog

Visit Us

https://senzeyizal.blogspot.com/