Tampilkan postingan dengan label Nilai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nilai. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2020

ESTETIKA SENI TARI

A. Pengertian Seni Tari 

pengertian seni tari


Tari sendiri memiliki arti yaitu gerakan tubuh secara berirama yang dilakukan di suatu tempat dan waktu tertentu. Gerak adalah elemen pokok dalam seni tari, di dalamnya terdapat unsur ruang, tenaga, dan waktu. 

Sangat banyak sekali aneka ragam gerakan tari di Nusantara, setiap gerakannnya memiliki keunikan dan ciri khas masing-masing. Gerak sendiri dapat diperoleh dari eksplorasi, dengan berimajinasi, berpikir, merespon dan merasakan suatu objek yang tertangkap oleh panca indera. 

B. Simbol Dalam Karya Seni Tari 

Simbol dalam karya tari merupakan makna yang terkandung dalam sebuah tarian. Fungsi dari simbol dalam tari ini adalah menunjukkan ekspresi jiwa dan maksud-maksud tertentu. Simbol dalam tari terbagi menjadi empat, yaitu simbol gerak, busana, dan tata rias. Berikut penjelasannya : 

1. Simbol gerak 

Simbol gerak ditunjukkan untuk menyampaikan perasaan atau sebuah cerita yang terkandung. Gerakan tari dilakukan dengan banyak cara, diantaranya secara lembut gemulai, dinamis, atau patah-patah. 

Teknis melakukan gerak tari juga bagian dari bentuk simbol. Tari yang digerakkan dengan lembut gemulai menunjukkan si penari menghayati dengan penuh perasaan dan kelembutan. Gerakan tari yang dilakukan secara dinamis, menunjukkan semangat, lincah, dan bertenaga. Tari yang digerakkan secara patah-patah menyimbolkan ketegasan dan kekuatan. 

2. Simbol Busana 

pengertian seni tari

Busana merupakan salah satu simbol dalam karya seni tari. Simbol busana dapat dilihati dari keunikan desain dan ragam warnanya. Secara umum, setiap warna busana memiliki makna simbolisme masing-masing. 

· Warna biru, memiliki makna kesetiaan. 

· Warna merah, memiliki makna keberanian. 

· Warna hitam, memiliki makna kebijaksanaan dan kematangan. 

· Warna merah, memiliki makna keberanian. 

· Warna putih, memiliki makna kesucian. 

Selain warna pada busana yang dikenakan, dilengkapi juga dengan aksesoris dan perlengkapan tambahan lainnya, seperti berikut : 

· Tambahan kain atau celana panjang. 

· Mahkota atau jamang. 

· Kemben 

· Gelang kaki dan tangan 

· Selendang 

Ada empat gerakan dalam tari, yaitu : 

· Gerak kepala, diantaranya : menunduk, menggeleng, menengok, berputar, menengadah. 

· Gerak tangan, diantaranya : memutar pergelangan, melenggang, dan merentang. 

· Gerak badan, diantaranya : condong, membungkuk, tegak, tegap. 

· Gerak kaki, diantaranya : melangkah ke kiri dan kanan, berlari, berjalan di tempat, menggesek. 

Contoh : 

Tari Baris dari Bali, gerakan dalam tari baris menceritakan ketangguhan para prajurit Bali saat dahulu. Kedua pundak penari diangkat hingga sejajar dengan telinga. Kedua lengan selalu pada posisi horizontal dengan gerak yang tegas. Lalu gerakan khas lainnya adalah selendet atau gerakan delik mata penari yang selalu berubah. Gerakan itu mendeskripsikan sifat prajurit yang senantiasa berhati-hati dengan situasi di sekitarnya. 

3. Simbol Tata Rias 

Tata rias sangat dibutuhkan untuk menghias wajah agar sesuai dengan karakter tari. Simbol tata rias ini dapat dilihat setelah penari dirias. Fungsi dari simbol ini adalah untuk mengubah karakter pribadi menjadi karakter tokoh lakon yang akan dibawakan, dan paling utama untuk memperkuat kesan ekspresi serta menambah daya tarik. 

C. Nilai Estetis Karya Seni Tari 

pengertian seni tari

Estetika merupakan sebuah keindahan yang akan tercipta dalam sebuah karya seni. Nilai estetis dalam gerak tari merupakan kemampuan dari gerak tersebut untuk menciptakan sebuah pengalaman estetis. Setiap gerak tarian pasti mempunyai nilai estetis tersendiri yang dapat diulas dan dijelaskan secara cermat. 

Hal yang perlu kalian pahami dalam mengamati karya seni tari adalah adanya faktor subjektif dan faktor objektif. Terciptanya estetis itu karena adanya penilaian perasaan dari pengamat. So guys, estetis akan tercipta karena adanya proses relasi antara karya seni tari dan tanggapan orang yang mengamati. 

Masing-masing gerak tari di setiap daerah memiliki keunikan tersendiri, yang mana tidak bisa lepas dari pengaruh budaya yang terdapat didaerah tersebut. Contohnya seperti tari Jawa yang gerak matanya selalu mengarah ke bawah, tari Bali yaitu matanya yang melotot menjadi ciri khas tersendiri, lalu ada juga tari saman dari Aceh yang memiliki gerakan sangat cepat sebagai ciri khasnya. 

D. Jenis Jenis Tari Berdasarkan Penyajian 

1. Tari tradisional 

Tari tradisional merupakan tari yang berkembang dalam suatu daerah tertentu yang dilestarikan secara turun menurun oleh masyarakat setempat. Pada umumnya, tari tradisional mempunyai nilai sejarah yang kuat, pedoman yang luas dan bertahan pada adaptasi kebudayaan lingkungan sekitar terciptanya sebuah tari. 

Tari tradisional diklasifikasikan lagi menjadi 3, yaitu Tari Rakyat, Tari Klasik, dan Tari Kreasi baru. Berikut penjelasannya : 

a. Tari rakyat 

Tari rakyat adalah salah satu dari jenis tari tradisional. Tari rakyat ini merupakan karya seni tari yang tercipta dan lahir dari kebudayaan masyarakat lokal. Hidup dan berkembang sejak zaman primitif dan dilestarikan secara turun menurun hingga sekarang. Tari rakyat ini dikenal juga dengan sebutan tari Folklasik. 

Pada umumnya mempunyai beberapa ciri khas tersendiri, diantaranya yaitu kental akan nuansa kondisi masyarakat, mengacu pada kebudayaan dan adat masyarakat, serta gerak, rias, dan busana yang dikemas dengan sederhana. 

b. Tari Klasik 

Tari klasik adalah jenis dari tari tradisional yang tercipta dan lahir di lingkungan kerajaan atau bangsawan, seperti lingkungan keraton jika di Indonesia. Tari klasik ini berkembang sejak zaman feodal dan dilestarikan secara turun menurun di kalangan bangsawan. 

Ciri khas dari tari klasik adalah berpacu pada standardisasi tertentu, mengandung nilai estetis yang tinggi, dan disajikan dengan penampilan yang glamour atau mewah, mulai dari gerak, tata rias, hingga busana yang dikenakan. 

c. Tari Kreasi Baru 

Tari kreasi baru merupakan tari klasik yang diaransemen, lalu dikembangkan kembali menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Namun dalam mengaransemen tetap menjaga dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. 

Pada umumnya, tari kreasi baru diciptakan oleh para ahli karya seni tari, seperti Sauti dan Bagong Kusudiarjo. 

E. Jenis Jenis Tari Berdasarkan Fungsi 

Tari yang merupakan seni budaya juga memiliki fungsi. Gerakan tari yang menjadi media untuk menyampaikan fungsi tersebut. Berdasarkan fungsinya, tarian di Indonesia diklasifikasi menjadi 3, yaitu : 

1. Tari sebagai sarana upacara 

Tari sebagai upacara ini merupakan tarian yang biasa dipentaskan dalam upacara-upacara adat suatu daerah. Berikut contohnya : 

a. Tari Kecak 

Tari Kecak adalah tarian yang digunakan dalam upacara adat tertentu. Tari Kecak ini merupakan tarian khas Bali. Biasa dipentaskan saat upacara pembukaan atau penutupan sebuah acara besar. 

b. Tari Gambuh 

Tari Gambuh, juga merupakan tarian yang berasal dari Bali. Tarian ini dipentaskan saat upacara odalan, hajatan keluarga bangsawan, ngaben, dan lainnya. 

2. Tari sebagai sarana hiburan 

Tari sebagai sarana hiburan adalah tarian yang berfungsi dipentaskan untuk dijadikan sebagai sarana media hiburan para masyarakat. Berikut contohnya : 

a. Tari Topeng 

Tari Topeng merupakan tradisional yang berasal dari Jawa Barat, lebih tepatnya tarian ini lahir di Cirebon. Dinamakan tari topeng karena memang penarinya memakai topeng saat tampil. Tarian ini seringkali dipertunjukkan sebagai hiburan dalam acara hajat masyarakat Cirebon. 

b. Tari Merak 

Tari Merak adalah tari tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Tarian ini mendeskripsikan keindahan dan kecantikan burung merak, biasa dipertunjukkan sebagai saran hiburan masyarakat Jawa Barat. 

c. Tari Jaipong 

Tari Jaipong adalah tarian hiburan yang juga berasal dari Jawa Barat, tepatnya yaitu dari daerah Karawang. Tari Jaipong ini diciptakan oleh H. Juanda pada tahun 1976. 

3. Tari sebagai sarana media pertunjukan 

Tari sebagai sarana media pertunjukan merupakan tari yang memiliki fungsi untuk dipentaskan kepada masyarakat luas. Dengan pertunjukan yang benar-benar disiapkan sebelum dipentaskan, masyarakat akan menikmati keindahan-keindahan yang diungkapkan melalui gerak tari. Berikut contohnya : 

a. Tari Gambyong 

Tari Gambyong adalah tarian klasik yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tarian ini dipentaskan sebagai media pertunjukan, di mana tarian ini menggambarkan sifat wanita yang diungkapkan dengan gerak halus, terampil, dan lembut serta lincah. 

b. Tari Golek Menak 

Tari Golek, juga merupakan tarian klasik yang memiliki fungsi sebagai media pertunjukan. Tari Golek ini berasal dari Yogyakarta, yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. 

c. Tari Piring 

Tari piring atau biasa disebut dengan Tari Piriang dalam bahasa Minangkabau. Tari Piring ini berasal dari Kota Solok, Sumatera Barat. Tarian yang menggunakan media pokoknya piring ini merupakan tarian yang memiliki fungsi sebagai media pertunjukan.

Rabu, 25 Desember 2019

Makna Dan Filosofis Tari Topeng

Desember 25, 2019 0

Tari Topeng Cirebon dengan gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, memang memiliki ciri khas tersendiri. Tidak hanya itu, ternyata sarat makna dan filosofis.

Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon – Jawa Barat Indonesia. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng.

Selain memiliki nilai historis, Tari Topeng Cirebon sarat akan makna dan filosofis. Terutama untuk tari jenis topeng Panji yang terkenal sangat paradoks itu. Kenapa dikatakan paradoks karena dalam tari topeng Panji Cirebon ini terkandung unsur-unsur yang saling bertentangan. Pertentangan-pertentangan itu dapat ditemukan dari beberapa hal yang diantaranya adalah topeng yang dikenakan dalam tari Topeng Panji yang berwarna putih polos tanpa hiasan sama sekali hingga tak dapat dibedakan apakah topeng ini menggambarkan sosok lak-laki atau sosok perempuan, gerak tari pun demikian, tak dapat dibedakan apakah itu gerak seorang yang mewakili sifat maskulinitas lelaki atau femininitas perempuan.

Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya begitu gemuruh. Kalau meminjam kata-katanya Prof. Drs. Jakob Sumardjo, gerak Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”. Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Satu hal lainnya yang membuat tari topeng panji Cirebon sedemikian paradoks adalah karena meski tari ini dihadirkan sebagai pembuka dari rangkaian tari topeng Cirebon lainnya yakni Pamindo-Rumyang dan Patih-Kelana tapi tari panji mengandung unsur dari keempat tari topeng itu sendiri. Ia hadir selaku pembuka sekaligus juga perwujudan dari klimaks pertunjukan tari topeng itu sendiri.

Selain itu, untuk menarikan tari topeng panji ini tidak sembarang orang bisa menarikannya. Itulah sebabnya ada pendapat yang mengatakan bahwa hakikinya pada zaman dulu tari topeng panji ini adalah jenis tarian para raja Jawa yang lebih dekat ke sisi spiritualnya daripada sebagai tontonan. Pendapat ini muncul karena Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja Majapahit yaitu Prabu Hayam Wuruk pernah menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit.

Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja). Pun begitu dengan Raden Patah yang menari Topeng di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya. Inilah yang membuktikan bahwa Tari Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton. Dan karena sakralnya tarian ini maka sebelum pelaksanaan tari topeng Cirebon ini seorang penari harus terlebih dahulu melakukan laku puasa, berpantang pada sesuatu, dan semedi. Selain itu juga dipersembahkan segala macam sesajian yang mengandung unsur-unsur dualisme sekaligus pengesaan yang antara lain mewujud dalam berbagai sesajian yang sering dijumpai yang diantaranya bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki. Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

Secara garis besar makna filosofis dan spiritualitas tari topeng Cirebon sendiri adalah semacam symbol penciptaan alam semesta yang berdasar pada sistem kepercayaan Hindu-Budha pengaruh dari kerajaan Majapahit yang menganut sistem emanasi yaitu adanya kesamaan antara sang pencipta (Dewa) dengan yang diciptakan (makhluk) karena menurut mereka ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal. Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan yang tunggal dan mutlak.

Sementara alam semesta sendiri merupakan suatu keanekaragaman.yang di dalamnya tergabung perbedaan-perbedaan yang bertentangan tapi saling melengkapi dan bertaut satu sama lain seperti siang-malam, gelap-terang, laut-darat dan lain sebagainya. Nah, Sang Hyang Tunggal itulah yang kemudian merangkum segala perbedan ciptaan itu untuk menjadikannya sebagai keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak. Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tidak ada perbedaan, tunggal mutlak. Dan Tari Topeng Cirebon berusaha menggambarkan semua unsur dari Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya menjadi beberapa serpihan pasangan kembar yang saling bersisian tapi sekaligus saling melengkapi. Dari Tari Topeng Panji sebagai perwujudan Sang Hyang Wenang yang memiliki segala unsur penciptaan kemudian menyerpih dan berdiri sendiri seperti yang kemudian digambarkan dalam tarian berikutnya yaitu ‘Pamindo-Rumyang’, dan ‘Patih-Klana’.

Karena memiliki unsur segala penciptaan itulah maka Tari Topeng Panji pun sulit di bedakan apakah ia perempuan atau lelaki, jahat atau baik dan sebagainya. Kedoknya yang sama sekali bersih dari segala aksesoris pun dapat disimbolkan sebagai bentuk kekosongan. Berisi tapi kosong. Mengandung berbagai unsur tapi tak terdefinisikan. Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan. Itulah puncak tari topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu. Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni ‘Pamindo-Rumyang’, dan ‘Patih-Klana’. Inilah sebabnya kedok ‘Pamindo-Rumyang’ berwarna cerah, sedangkan ‘Patih-Klana’ berwarna gelap (merah tua). Gerak tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

Sebagai hasil budaya, Tari Topeng Cirebon mengusung nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung. Unsur-unsur yang terkandung mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangatlah menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga memiliki nilai pendidikan.

Aspek kehidupan dalam hal ini sangatlah bervariasi, termasuk kepribadian, kepemimpinan, cinta, angkara murka, serta penggambaran hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.
















Kamis, 19 Desember 2019

Filosofi Gaya Kesenian Tari Topeng Khas Cirebon Jeh

Desember 19, 2019 0
Di Cirebon sendiri, tarian topeng berkembang menjadi tarian rakyat yang hidup di desa-desa. Perkembangan itu tak lepas dari kebijakan Belanda pada masa pemerintahan Daendels pada abad ke-17 yang membatasi dana kesenian di Keraton Cirebon. Pembatasan itu membuat para senimannya memilih pulang ke desanya masing-masing.

Toto Amsar, Ketua Pusat Studi Topeng Cirebon, menemukan lebih dari 15 versi gaya topeng Cirebon yang pernah hidup di pantura. ”Desa-desa asal para seniman keraton itulah yang mengembangkan berbagai gaya tarian topeng Cirebon,” katanya.

Beberapa desa yang mengembangkan gaya tari topeng, di antaranya, adalah Losari, Slangit, Gegesik, Susukan, Kreyo, dan Kalianyar yang ada di wilayah Kabupaten Cirebon; Desa Tambi, Pekandangan, Lelea, dan Bongas di Indramayu; Jatitujuh di Majalengka; dan Cipunagara di Subang.



Tarian topeng di tiap-tiap daerah itu bisa ditarikan dengan bermacam-macam gaya, tergantung dari asal desanya. Gaya Losari dari Cirebon timur, misalnya, ditarikan dengan gerakan kayang atau meliukkan tubuh ke belakang. Gaya ini tidak terdapat pada tarian topeng dari daerah lain.

Letak geografis Losari yang lebih dekat dengan Jawa Tengah membuat gaya topengnya terpengaruh tarian topeng Jateng yang mengisahkan cerita Panji, pangeran dari Jenggala. Tarian versi Losari ini biasa disebut juga topeng lakonan. Ada tujuh tarian topeng yang biasanya ditampilkan dalam satu rangkaian, yakni samba, patih jayabadra, kili padagunata, jinggan anom, tumenggung magangdiraja, klana bandopati, dan rumyang.

Sementara tarian dari wilayah barat, yaitu Palimanan, Gegesik, Susukan, Tambi, Kreo, dan Kalianyar, gerakan tariannya lebih mencerminkan simbol-simbol perjalanan hidup manusia. Urutan tariannya tak terikat pada pembabakan yang berjumlah lima, yaitu panji, samba (pamindo), rumyang, temenggung, dan klana.

Sukarta (70), dalang wayang, yang juga cucu maestro tari topeng suji dari Palimanan, menuturkan, perbedaan gaya salah satunya dipengaruhi oleh postur tubuh penari.

Kakek buyutnya, Ki Wentar, sengaja membuat bermacam posisi berdiri disesuaikan postur tubuh anak didiknya. Selain dari postur tubuh, perbedaan gerak juga bisa dipengaruhi penafsiran serta kepantasan gerak.

Endo Suanda, peneliti tari Cirebon, juga melihat perbedaan gaya antardaerah dikarenakan ada penyesuaian selera penonton dan estetika gerak di atas panggung.

Keragaman aturan gaya dalam tari topeng Cirebon itu justru menunjukkan bahwa tari topeng Cirebon adalah tarian rakyat, yang liberal mengikuti kreasi dalangnya.

Karena itu, ketika masih pentas di panggung, Keni Arja sering kali diminta memberi nama anak penonton yang baru dilahirkan. ”Sudah tak terhitung jumlahnya, saya diminta menjadi perantara pengobat penyakit dari penonton,” kata Keni.

Dalam sebuah panggung topeng itu, warga tak lagi melihat Keni sebagai manusia sehari-hari, tetapi sosok lain yang dianggap lebih digdaya (sakti).
Surut Namun, masa keemasan topeng mulai surut. Dari 15 gaya yang pernah ada, kini hanya ada lima gaya yang bertahan, yakni Losari, Slangit, Gegesik, Palimanan, dan Pekandangan atau Tambi.

Di Gegesik yang menjadi pusat perkembangan tari, penari topeng kini tak sebanyak dulu. Menurut Nurdin M Noer, budayawan Cirebon, pada tiga dekade lalu hampir semua warga di Gegesik bisa menari topeng, entah itu anak penari, ataupun petani biasa. Topeng pun menjadi sesuatu yang wajib dipunyai. Namun, kini hal itu tak berlaku lagi. Jumlah penari hanya bisa dihitung dengan jari.

Keni Arja mengakui, susutnya minat pada tari topeng tak terlepas dari berubahnya selera masyarkat. Dulu, 30-40 tahun silam, dia hampir tak pernah berhenti menari karena selalu mendapatkan tawaran untuk menari.

Jika dirata-rata, 20 hari dalam sebulan hidupnya di atas panggung. Namun, kini, tawaran menari maksimal hanya datang 1-2 kali dalam sebulan sebab tariannya kalah bersaing dengan tarling dan organ tunggal.

Kini, para penari mudalah yang mencoba mempertahankan kekayaan tarian topeng yang tersisa. Topeng gaya Losari yang dulu dipopulerkan oleh Sawitri kini dilanjutkan oleh cucunya, Nur Anani atau Nani.

Topeng slangit juga diwarisi oleh Inu Kertapati. Adapun Wangi Indriya dan Aerly Rasinah masih tetap menjaga topeng gaya Indramayu.

Meski tak lagi populer di dunia pertunjukan, topeng hingga kini masih hidup dalam tradisi agraris dan pesisir warga di Pantura.

Di Lelea, sebuah kecamatan di pelosok Indramayu, tari topeng masih ditarikan setiap kali menjelang musim tanam setahun sekali.

Tari topeng mengiringi tradisi ngarot atau tradisi mencari jodoh remaja setempat. Ketika muda-mudi dipertemukan dalam arak-arakan, tari topeng akan dimainkan.

Topeng juga menjadi tarian yang wajib setiap kali ada upacara sedekah bumi atau sedekah laut di berbagai kampung nelayan, seperti Bondet, atau Gebang di Cirebon, hingga Eretan di Indramayu.

Hingga detik ini, upacara penghormatan di makam leluhur masyarakat desa di Tambi, Indramayu, masih diawali dengan permainan tari topeng.

Filosofis Kesenian Topeng Cirebon

Seperti disebut dalam kesejarahan tari ini, awalnya Tari Topeng Cirebon lebih dikonsentrasikan di lingkungan keraton. Seiring perkembangannya, lama-kelamaan kesenian ini kembali, melepaskan diri dan dianggap sebagai rumpun tari yang berasal dari tarian rakyat.

Sementara itu, karena pada masa Islam tari ini lebih diupayakan untuk penyebaran agama, maka dikemaslah pertunjukan ini menjadi bermuatan filosofis dan berwatak atau wanda.

Pengemasan yang dimaksud adalah lebih menggambarkan ketakwaan dalam beragama serta tingkatan sifat manusia, diantaranya sebagai berikut :


  • Makrifat (Insan Kamil) : Tingkatan tertinggi manusia dalam beragama dan sudah sesuai dengan syariat agama.

  • Hakikat : Pengambaran manusia yang berilmu, sehingga telah faham mana yang menjadi hak seorang hamba dan mana yang hak sang Khalik.

  • Tarekat : Gambaran manusia yang telah hidup dengan menjalankan agama dalam perilaku kehidupannya sehari-hari.

  • Syariat : Sebagai gambaran manusia yang memulai untuk memasuki atau baru mengenal ajaran Islam.

Sebagai hasil budaya, Tari Topeng Cirebon mengusung nilai hiburan yang mengandung pesan-pesan terselubung. Unsur-unsur yang terkandung mempunyai arti simbolik yang bila diterjemahkan sangatlah menyentuh berbagai aspek kehidupan, sehingga juga memiliki nilai pendidikan.

Aspek kehidupan dalam hal ini sangatlah bervariasi, termasuk kepribadian, kepemimpinan, cinta, angkara murka, serta penggambaran hidup manusia sejak lahir hingga dewasa.

Penyajian Tari Topeng Cirebon

Pada awalnya, Kesenian Topeng Cirebon dipentaskan di lingkungan terbuka yang biasanya berbentuk setengah lingkaran, seperti di halaman rumah, di blandongan (tenda), atau di bale (panggung) dengan menggunakan obor sebagai penerangan.

Selanjutnya di zaman modern dan teknologi seperti sekarang ini, tari ini juga dipentaskan di dalam gedung dengan lampu listrik sebagai tata cahayanya. Mengenai struktur pagelaran akan selalu bergantung pada kemampuan rombongan, fasilitas, jenis penyajian serta lakon yang akan dibawakan.

Secara umum, struktur pertunjukan tari ini dibedakan menjadi dua kategori, sebagai berikut :

 a. Topeng Alit

Struktur minimalis baik dari segi dalang, peralatan, kru dan penyajiannya. Kategori ini biasanya melibatkan lima hingga tujuh orang bersifat multiperan yang berarti babak topeng tidak hanya dibawakan oleh dalang, namun wiyaganya juga turut membantu.

 b. Topeng Gede

Seperti namanya, kategori ini memiliki struktur yang lebih besar dan baku. Bisa dikatakan, struktur Topeng Gede adalah penyempurnaan dari Topeng Alit.

Dilengkapi dengan tetaluan (musik pengiring) yang lengkap, memuat lima babak sekaligus, serta dilengkapi dengan lakonan dan jantuk (nasihat) di akhir pagelaran.

Sementara itu, pagelaran kesenian tari ini juga memiliki tujuan yang berbeda-beda. Secara garis besar, tujuan penyelenggaraan suatu Tari Topeng Cirebon telah dibagi menjadi tiga, diantaranya :

 a. Pagelaran Komunal

Dilaksanakan untuk kepentingan bersama. Keadaan ini memungkinkan seluruh masyarakat turut berpartisipasi sehingga acara lebih meriah. Disertai dengan arak-arakan dalang, atraksi seni dan sebagainya dengan durasi acara lebih dari satu malam.

 b. Pagelaran Individual

Pertunjukannya lebih difokuskan untuk memeriahkan hajatan perorangan, seperti pernikahan, khitanan dan lain sebagainya.

 c. Pagelaran Bebarangan

Ini adalah pertunjukan tari keliling kampung yang inisiatifnya datang dari sang dalang topeng. Biasanya dalang topeng datang ke wilayah-wilayah desa yang sudah panen atau wilayah yang lebih ramai (kota). Hal ini dilakukan karena desa sang dalang belum panen, mengalami kekeringan atau sedang sepi penduduknya.

Selebihnya, pelaksanaan Tari Topeng Cirebon sangatlah beragam dan disesuaikan dengan gaya tarian dari masyarakat suatu desa atau daerah yang memiliki tarian topeng yang khas.

Gaya Tari Topeng Cirebon

Mengenai jenis tarian ini, seperti yang telah disebutkan diatas bahwa baik Tari maupun Topeng Cirebon telah dibagi menjadi lima yang utama.
M
Jenis-jenis ini dikenal dengan Panca Wanda atau lima rupa, diantaranya Tari Topeng Kelana, Tari Topeng Tumenggung, Tari Topeng Rumyang, Tari Topeng Samba dan Tari Topeng Panji. Kelima tarian ini mewakili perwatakan manusia.

Adapun mengenai gaya tarian, Tari Topeng Cirebon memiliki beberapa gaya tari yang telah diakui secara adat. Gaya-gaya ini berasal dari desa-desa asli yang melahirkan tarian topeng atau juga dari desa lain yang menciptakan gaya baru yang secara adat diakui berbeda dengan gaya lainnya.

Perbedaan gaya tari di masing-masing desa umumnya disebabkan oleh adanya penyesuaian selera penikmat dengan nilai estetik gerak tarian diatas panggung. Berikut ini adalah penjelasan singkat mengenai gaya tari dari Topeng Cirebon :


  • Gaya Beber

Tari ini lahir sejak abad ke-17 Masehi di desa Beber, Ligung, Majalengka, Jawa Barat. Menurut ahli dalang, gaya tarian ini pertama kali dibawa ke desa Beber oleh seniman dari Gegesik, Cirebon
Babak yang termuat dalam gaya tari ini meliputi Panji, Samba, Temenggung, Jinggananom dan Temenggung, Klana dan Rumyang. Biasanya dipentaskan malam hari dengan Tari Topeng Rumyang di pertunjukkan mendekati terbitnya matahari.

  • Gaya Brebes


Dalam Babad Tanah Losari, gaya tari ini dimulai dari pindahnya Pangeran Angkawijaya ke Losari, Brebes. Pindah dari Kesultanan Cirebon untuk menghindari konflik internal serta kehidupan keraton yang serba gemerlapan.

Di daerah yang baru tersebut, sang pangeran mengembangkan bakat seninya, hingga terciptalah gaya tarian ini. Selain alur cerita, kekhasan tari ini adalah banyaknya pengaruh kebudayaan Jawa.

  • Gaya Palimanan


Gaya ini tersebar di sekitaran wilayah Palimanan, Cirebon. Tetaluan (tabuh gamelan) di setiap babak berbeda dalam gaya ini.

Kembang Sungsang untuk babak Panji, Gaya-Gaya untuk babak Samba, Malang Totog untuk babak Tumenggung, Bendrong untuk babak Jingga Anom dan babak Klana Udeng. Ada juga Gonjing untuk babak Klana serta Kembang Kapas untuk babak Rumyang.

Untuk tetaluan gaya ini lebih mirip dengan gaya Gegesik, sementara gerakan mirip dengan gaya Losari.


  • Gaya Gegesik


Daerah penyebaran gaya ini ada di sekitaran Gegesik, Cirebon. Kekhasan Tari Topeng Gaya gegesik terlihat di raut karakteristik topengnya. Terutama Topeng Panji yang berwarna putih dengan raut tenang, mata sipit merunduk tajam, hidung mancung, serta senyum terkulum.

Perubahan gaya ini mulai kentara sejak 1980-2000. Pada masa itu, pertunjukan topeng sering dicampur dengan dangdut sehingga disebut juga Topeng-Dangdut.


  • Gaya Celeng


Gaya ini mewakili tari topeng yang berpusat di dusun Celeng, Loh Bener, Indramayu. Pertama kali dibawa oleh Ki Kartam yang seorang ahli dalang dari Majakerta.

Meskipun tetap memiliki kekhasan tersendiri, gaya ini memiliki kesamaan dengan gaya lainnya. Termasuk lagu dan musik pengiring yang mirip dengan yang ada di gaya Gegesik dan Slangit. Kemiripan lain juga pada gerak tari yang mendekati gerakan pada gaya Pekandangan.


  • Gaya Cipunegara


Gaya ini tersebar di perbatasan Indramayu, mulai dari Pegaden hingga kebantaran sungai Cipunegara. Dikenal juga sebagai Tari Topeng Menor karena kemerduan dan kecantikan penarinya.

Selain itu, juga dikenal sebagai Tari Topeng Jati karena salah satu pusat gaya ini ada di desa Jati, Cipunegara, Subang. Salah satu yang menarik dari gaya ini adalah pengantar menggunakan bahasa Sunda, bukan bahasa Cirebon.

Selain yang telah disebutkan masih banyak lagi gaya Tari Topeng Cirebon, termasuk gaya Cibereng, Gujeg, Kalianyar, Kreyo, Losarang, Pekandangan, Randegan, Slangit dan lain sebagainya.

Selasa, 17 Desember 2019

Estetika Dalam Tari Topeng

Desember 17, 2019 0
Topeng merupakan benda yang dipakai di atas wajah. Pada umumnya topeng dipakai untuk mengiringi musik kesenian daerah yang melambangkan nilai-nilai penghormatan, sesembahan atau memperjelas watak serta karakter dalam mengiringi kesenian. Topeng telah ada di Indonesia sejak zaman prasejarah. Secara luas digunakan dalam tari topeng yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur.


Topeng telah menjadi salah satu bentuk ekspresi paling tua yang pernah diciptakan peradaban manusia. Pada sebagian besar masyarakat dunia, topeng memegang peranan penting dalam berbagai sisi kehidupan yang menyimpan nilai-nilai magis dan suci. Pada masa modern saat ini topeng merupakan salah satu bentuk karya seni tinggi. Tidak hanya karena keindahan estetis yang dimilikinya, namun sisi misteri yang tersimpan pada raut wajah topeng tetap mampu memancarkan kekuatan magis yang sulit diterjemahkan dengan bahasa logika.

Sama halnya dengan topeng Cirebon Jawa barat, terbuat dari kayu hasil bumi hutan Cirebon seperti kayu pule dan kayu sengon yang memiliki kriteria lunak dalam pengerjaannya awet dan kuat, akan tetapi harus membutuhkan ketekunan, ketelitian yang tepat, serta waktu yang cukup dalam proses penciptaannya. Secara turun temurun kerajianan khas topeng Cirebon yang merupakan hasil kebudayaan Kota Cirebon tidak hanaya dipandang sebagai kedok, topeng atau penutup wajah. Sejarah menunjukkan kemunculan seni karya Topeng Cirebon di mulai pada masa kesultanan Cirebon yang bermuatan seni bernafaskan ajaran agama islam dan dipergunakan untuk kepentingan dakwah.

Menurut literatur, Topeng Cirebon merupakan gambaran sangat puitik mengenai hadirnya alam semesta serta umat manusia. Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangan berbeda-beda sifatnya.

Topeng Cirebon pada awalnya berpusat di Keraton-keraton, kini tersebar di lingkungan rakyat petani pedesaan. Dan seperti umumnya kesenian rakyat, maka Topeng Cirebon dengan cepat mengalami transformasi. Proses transformasi itu berakhir dengan keadaan yang terjadi pada saat ini, yakni berkembangnya berbagai gaya Topeng Cirebon seperti, Losari, Selangit, Kalianyar, Kreo, Palimanan serta berkembang di pelosok-pelosok Kecamatan Klangenan, Plumbon, serta Arjawinangun.

Topeng Cirebon dikenal sebagai Panca Wanda (Lima Rupa) yang merupakan alat bantu Tarian Topeng Cirebon. Berdasarkan kepercayaan dari sejarah dan budaya Cirebon, Topeng Babakan Lima Wanda memiliki fakta-fakta yang dapat diukur dengan pendekatan spiritual dan sifat-sifat manusia di Cirebon, sehingga di dalamnya memiliki muatan makna keilmuan yang dimiliki oleh peradaban budaya asli Cerebon, kelima jenis Topeng Babakan Cirebon, diantaranya adalah :

Topeng Panji, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang halus. Topeng Panji memiliki simbol berhati putih, bersih, tabularasa ibarat bayi yang baru lahir. Warna topengnya putih polos hingga pakaian serba putih. Komposisi gerakan tari di praktekkan secara lembut, tenang dan sederhana, walaupun alunan musiknya sangatlah dinamis, yang memebri arti akan dedikasi manusia yang suci dan tidak mudah tersentuh oleh hiruk pikuk duniawi yang mengarah kepada hal negatif.

Topeng Samba, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang sedang teduh. Topeng Samba juga dikenal sebagai topeng anak-anak dalam menggambarkan kehidupan manusia Cirebon yang dapat dilihat dari fase biologis anak-anak. Dengan gerakan keceriahan yang menunjukkan adanya gaya hidup yang bahagia, hal ini dibuktikan mutu tariannya yang centil, lucu, genit dan kekanak-kanakan menunjukkan kesegaran ekspresi topeng Samba, yang berwarna putih serta berkarakter hiasan dibagian wajah atas seperti rambut, yang dibalut dengan lincahnya gerakan tari mengikuti irama musik.

Topeng Rumyang, merupakan sebuah penggambaran dari jiwa manusia yang sudah melepaskan nafsu duniawinya dan menjadi manusia yang harum. Topeng Rumyang memiliki warna merah jambu yang merupakan asal kata dari Arum / Harum dan Yang / Hyang (Tuhan). Maknanya bahwa kita senantiasa mengharumkan nama Tuhan yaitu dengan Do’a dan dzikir. Menggambarkan kehidupan tentang anak manusia pada masa pencarian ati diri. Memiliki posisi karakter yang selalu penasaran akan Kebesaran Tuhan, dan menjadikan simbol klasik bagi manusia yang lahir di tanah Cirebon, dimana dirinya telah memasuki fase remaja. Serta menunjukkan kepribadian yang tegas, dan terstruktur dengan baik selayaknya pendewasaan umat manusia.

Topeng Patih (Tumenggung), merupakan sebuah penggambaran dari jiwa yang sudah dewasa. Topeng ini menggambarkan orang dewasa yang berwajah tegas, berkepribadian, serta bertanggung jawab. Topeng Temenggung memaknai simbol dari kebaikan kapada sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh, senantiasa berbuat baik untuk sesamanya. Sehingga konsep karakter topeng Tumenggung mengindikasikan dari gambaran kehidupan tentang para bangsawan kraton.

Topeng Kelana (Rahwana), merupakan topeng yang menggambarkan jiwa manusia yang penuh dengan hawa nafsu dan emosi. Sebagian besar masyarakat Cirebon memaknai topeng Kelana ini sebagai simbol angkara murka, kerakusan manusia. Kriteria antara adanya simbol angkara murka ini menjadi ragam pendapat dan menjadi pusat perhatian seniman, budayawan dan pengamat topeng. Pesan yang umum dari bentuk topeng berwarna serba merah dengan kumis tebal dan tatapan mata tajam serta gagah. Mampu mengekspresikan diri secara pribadi dengan menggambarkan sebagai manusia yang mampu mengendalikan nafsu amarah. 
 Simbol yang kuat dalam karekter penciptaan Topeng Cirebon adalah bentuk nyata dari ragam penciptaan semesta berdasarkan kepercayaan Indonesia purba dimasa peradaban Hindu-Budha-Majapahit, yang mampu memahami segala bentuk ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal, yang telah menyempurnakan umat manusia di muka bumi. Secara khusus, Topeng Cirebon membangun pahamisme dari diri manusia tentang gambaran yang sangat puitik, dari hadirnya alam semesta serta umat manusia. Kemudian ditangkap oleh akal manusia bahwa, Sang Hyang Tunggal yang merupakan ketunggalan mutlak tanpa pembedaan, berubah menjadi keanekaan relatif yang sangat berbeda-beda sifatnya, bergerak lambat dan pasti mampu menghasilkan kolaborasi seni dari rupa berkarakter unsur kemanusiaan, yang tersusun dari kerajianan seni berbentuk topeng yang dikenal saat ini.

Implementasi nyata yang dikembnagkan dalam dimensi Topeng Cirebon yang dikomunikasikan kepada masyarakat adalah dengan menggunakan media pendukung seperti, olah gerak tubuh secara berirama yang dilakukan di tempat dan waktu tertentu, diiringi oleh tetabuhan atau bunyi-bunyian, dan disebut musik sebagai pengiring gerakan penari dan memperkuat maksud yang ingin disampaikan. Ekspresi tari yang terbalut dengan karakter penokohan topeng menjadi alat utama komunikasi untuk menyampaikan pesan sakral dan yang mampu menjiwai diseluruh benak para penikmat seni olah gerak ini.

Rekontruksi Topeng Cirebon dilihat dari kacamata sejarah dan budaya, tidak terlepas dari unsur kesenian tari. Dapat dipastikan bahwa, serpihan-serpihan tarian yang saat ini ada dan dipadukan dengan konteks budaya munculnya tarian tersebut. Konteks budaya Topeng Cirebon tentu tidak dapat dikembalikan pada budaya Cirebon sendiri yang sekarang. Artinya gerakan tari bermuatan dari unsur karakter penokohan yang terdapat dalam penjiwaan bentuk topeng tersebut sehingga, simbol yang memadukan unsur tari dan seni musiknya tidak terlepas dari dimensi keharmonisasian wajah topeng yang di komunikasikan kepada publik diatas pentas seni khasa kecirebonan.

Tari Topeng Cirebon adalah tarian ritual yang amat sakral. Bukanlah hiasan, tontonan maupun hiburan rakyat, berdasarkan catatan kitab-kitab lama seperti Babatan Jawa menjelaskan dimana ketika seni tari di pertunjukanan didalam ruang terbatas yang disaksikan saudara-saudara perempuannya kalangan bangsawan kerajaan, dan untuk menarikan topeng ini diperlukan laku puasa, pantang, semedi, yang sampai sekarang ini masih dipatuhi oleh para dalang topeng di daerah Cirebon.

Sejak terciptanya Tari Topeng Cirebon, dimasa lalu menjadi salah satu tarian yang sangat langka, karena Seni tari ini adalah warisan pada zaman Kerajaan Cirebon yang sering dipentaskan di kerajaan, Penari dan penabuh gamelan hidup berkecukupan karena ditanggung oleh kalangan bangsawan atau kerajaan.

Namun, di zaman modernisassi saat ini, kesenian khas kota Cirebon terwariskan secara alamian dan turun temurun, sehingga kekayaan budaya dari seni tari topeng Cirebon, mampu membangun sistem ekonomi kelompok seni yang telah menguasai seni keceribonan secara menyeluruh dan diperkuat dengan tingginya kesadaran, akan menjunjung harkat, derajat serta martaban dari peradaban seni budaya lokal khas Cirebon. Hingga kini seni Tari Topeng Cirebon mulai dikenal diseluruh penjuru tanah Pasundan, khususnya wilayah Utara Jawa Barat. Pengembangan seni budaya terus digiatkan oleh sinergi berkuatan dari Pemerindah Daerah (pemda) Kota Cirebon (Agus Sukmadi)

Kamis, 12 Desember 2019

Manfaat Mempelajari Ilmu Budaya

Desember 12, 2019 0
Mengenal perilaku lebih dalam dirinya sendiri maupun orang lain yang sebelumnya lebih dikenal luarnya saja. Dengan memahami karakter seseorang lebih dalam akan membuat seseorang menjadi tahu sifat yang ada di dalamnya itu, dan bukan luarnya saja. Karena memahami karakter seseorang itu jangan hanya dari luar saja, akan tetapi dari dalam juga. Sehingga dalam bergaulpun akan luwes.
Sebagai bekal penting untuk pergaulan hidup. Manusia merupakan makhluk individu, yang berarti manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain.

Perlu bersikap luwes dalam pergaulan setelah mendalami jiwa dan perasaan manusia serta mau tahu perilaku manusia. Dalam bergaul haruslah menjaga sikap dan sifat kita agar terjalinnya hubungan yang harmonis.
Ciri Ciri Budaya Antara Lain:


  • Budaya bersifat selektif, merepresentasikan pola-pola perilaku pengalaman manusia yang jumlahnya terbatas, Budaya dapat disampaikan dari orang ke orang, dari kelompok ke kelompok dan dari generasi ke generasi, Etnosentrik (menganggap budaya sendiri sebagai yang terbaik atau standar untuk menilai budaya lain).
  • Budaya bersifat dinamis, suatu sistem yang tersu berubah sepanjang waktu. Berbagai unsur budaya saling berkaitan.
  • Budaya bukan bawaan, tetapi dipelajari.
  • Budaya berdasarkan simbol.

A. Komponen Kebudayaan

Berdasarkan wujudnya tersebut, Budaya memiliki beberapa elemen atau komponen, menurut ahli antropologi Cateora, yaitu :


  1. Kebudayaan material

Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.

 2. Kebudayaan nonmaterial

Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.

 3. Lembaga social

Lembaga social dan pendidikan memberikan peran yang banyak dalam kontek berhubungan dan berkomunikasi di alam masyarakat. Sistem social yang terbantuk dalam suatu Negara akan menjadi dasar dan konsep yang berlaku pada tatanan social masyarakat. Contoh Di Indonesia pada kota dan desa dibeberapa wilayah, wanita tidak perlu sekolah yang tinggi apalagi bekerja pada satu instansi atau perusahaan. Tetapi di kota – kota besar hal tersebut terbalik, wajar seorang wanita memilik karier

 4. Sistem kepercayaan

Bagaimana masyarakat mengembangkan dan membangun system kepercayaan atau keyakinan terhadap sesuatu, hal ini akan mempengaruhi system penilaian yang ada dalam masyarakat. Sistem keyakinan ini akan mempengaruhi dalam kebiasaan, bagaimana memandang hidup dan kehidupan, cara mereka berkonsumsi, sampai dengan cara bagaimana berkomunikasi.

 5. Estetika

Berhubungan dengan seni dan kesenian, music, cerita, dongeng, hikayat, drama dan tari –tarian, yang berlaku dan berkembang dalam masyarakat. Seperti di Indonesia setiap masyarakatnya memiliki nilai estetika sendiri. Nilai estetika ini perlu dipahami dalam segala peran, agar pesan yang akan kita sampaikan dapat mencapai tujuan dan efektif.

Misalkan di beberapa wilayah dan bersifat kedaerah, setiap akan membangu bagunan jenis apa saj harus meletakan janur kuning dan buah – buahan, sebagai symbol yang arti disetiap derah berbeda. Tetapi di kota besar seperti Jakarta jarang mungkin tidak terlihat masyarakatnya menggunakan cara tersebut.


  • Bahasa


Bahasa merupakan alat pengatar dalam berkomunikasi, bahasa untuk setiap walayah, bagian dan Negara memiliki perbedaan yang sangat komplek. Dalam ilmu komunikasi bahasa merupakan komponen komunikasi yang sulit dipahami. Bahasa memiliki sidat unik dan komplek, yang hanya dapat dimengerti oleh pengguna bahasa tersebu. Jadi keunikan dan kekomplekan bahasa ini harus dipelajari dan dipahami agar komunikasi lebih baik dan efektif dengan memperoleh nilai empati dan simpati dari orang lain.

B. Contoh Kebudayaan


  • Bahasa

Banyak sekali bahasa yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Bahasa Sunda. Bahasa Sunda adalah sebuah bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Bahasa ini dituturkan oleh setidaknya 38 juta orang dan merupakan bahasa Ibu dengan penutur terbanyak kedua di Indonesia setelah Bahasa Jawa.

Bahasa Sunda dituturkan di hampir seluruh provinsi Jawa Barat dan Banten, melebar hingga wilayah barat Jawa Tengah mulai dari Kali Brebes (Sungai Cipamali) di wilayah Kabupaten Brebes dan Kali Serayu (Sungai Ciserayu) di Kabupaten Cilacap, di sebagian kawasan Jakarta, serta di seluruh provinsi di Indonesia dan luar negeri yang menjadi daerah urbanisasi Suku Sunda.


  • Budaya


Di Indonesia terdapat banyak sekali budaya yang tersebar. Salah satunya adalah budaya Sunda. Budaya Sunda merupaka suku yang terdapat di Provinsi Jawa Barat. Suku sunda adalah salah satu suku yang memiliki berbagai kebudayaan daerah, diantaranya pakaian tradisional, kesenian tradisional, bahasa daerah, dan lain sebagainya.
Kesenian Khas Jawa Barat


  • Wayang Golek


Wayang Golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa Barat yaitu kesenian yang menapilkan dan membawakan alur sebuah cerita yang bersejarah. Wayang Golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pawayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang disebut dengan degung.


  • Jaipong


Jaipong merupakan tarian tradisional dari Jawa Barat, yang biasanya menampilkan penari dengan menggunakan pakaian khas Jawa Barat yang disebut kebaya, serta diiringi musik tradisional Jawa Bart yang disebut Musik Jaipong. Jaipong ini biasanya dimainkan oleh satu orang atau sekelompok penari yang menarikan berakan – gerakan khas tari jaipong.


  • Degung


Degung merupakan sebuah kesenian sunda yang biasany dimainkan pada acara hajatan. Kesenian degung ini digunakan sebagai musik pengiring/pengantar.
Degung ini merupakan gabungan dari peralatan musik khas Jawa Barat yaitu, gendang, goong, kempul, saron, bonang, kacapi, suling, rebab, dan sebagainya.

Degung merupakan salah-satu kesenian yang paling populer di Jawa Barat, karena iringan musik degung ini selalu digunakan dalam setiap acara hajatan yang masih menganut adat tradisional, selain itu musik degung juga digunakan sebgai musik pengiring hampir pada setiap pertunjukan seni tradisional Jawa Barat lainnya.

C. Peran Kebudayaan

Peranan merupakan aspek dinamis dari kedudukan, yaitu seorang yang melaksanakan hak-hak dan kewajibannya. Artinya, apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia telah menjalankan suatu peranan. Suatu peranan paling tidak mencakup tiga hal berikut :

Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat
Peranan merupakan suatu konsep perihal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi
Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial.
Karakteristik Kebudayaan
Secara umum kebudayaan memiliki beberapa karakteristik umum, karakteristik umum tersebut yaitu :


  • Kebudayaan adalah milik bersama. Unsur kebudayaan/ide, nilai, pola merupakan sesuatu yang dijalankan bersama-sama oleh anggota masyarakat. Contohnya : gotong royong, musyawarah mufakat.
  • Kebudayaan merupakan hasil belajar . Secara unsure hasil kebudayaan merupakan hasil dari belajar dan bukan warisan biologis (dibawa sejak lahir).
  • Kebudayaan didasari pada lambang. Penggunaan lambing-lambang tertentu biasanya dilakukan ooleh manusia, kekuasaan dan ketaatan individu dibangkitkan juga oleh lambing tertentu.


D. Konsep Kebudayaan

Berlawanan dengan ahli teori adaptasi tentang budaya, yang beranekaragam adalah sejumlah ahli teori yang melihat budaya sebagai sistem ideasional. Teori ini adalah teori yang dipegang oleh Keesing dalam setiap materinya ia menyebutkan tentang Ideasional yaitu budaya berperan sebagai sistem ide (gagasan), dan teori ini bertolak dengan ahli teori adaptasi tentang budaya. Ia membedakan tiga cara yang khas dalam mendekati budaya sebagai sistem ide (gagasan), yaitu sebagai berikut :

Budaya Sebagai Sistem Kognitif
Maksudnya ialah budaya itu sebagai pengetahuan (cognitif). Jadi budaya bukan sekedar untuk hiasan saja dalam kehidupan seseorang, tetapi dengan mempelajari budaya, kita juga turut mempelajari suatu pengetahuan. Oleh karena itu Keesing mengatakan bahwa budaya tidak didukung oleh ilmu pengetahuan yang arif bijaksana sebab dengan kebudayaan itulah kita mempelajari suatu ilmu pengetahuan yang arif bijaksana itu. Kebudayaan terdiri atas segala sesuatu yang hrus diketahui atau dipercayai seseorang agar dia dapat berperilaku dalam cara

yang dapat diterima oleh anggota-anggota masyarakat. Menurut Good enough Budaya adalah bentuk ha-hal yang ada dalam pikiran(mind) manusia,model-model yang dipunyai manusia unutk menerima ,menghubungkan, dan kemudian menafsirkan suatu fenomena.

Dengan konsep yang seperti ini, bahasa adalah satu subsistem dari budaya, dan peneliti antropologi kognitif berharap bahwa metode-metode dan model-model linguistik juga memadai untuk digunakan oleh bidang budaya yang lain. Budaya secara epistemologi berada dalam ranah yang sama dengan bahasa. Metode-metode dan model-model linguistik yang relevan digunakan.

Budaya Sebagai Sistem Struktural
Yang mempengaruhi susunan atau tatanan yang terpola secara kultural ialah pikiran (mind). Struktur pemikiran – pemikiran yang meliputi tentang bahasa, adat istiadat yang berbeda antara masyarakat itu dipandang sebagai “Budaya”, yaitu bersifat universal yang semua masyarakat di dunia ini mempunyai kebudayaan tersebut, dari pada “sistem budaya” yang bersifat lokal.

Oleh karena itu setiap budaya pada masing – masing masyarakat berbeda di seluruh dunia karena pikiran mereka yang menyebabkan kebudayaan itu berbeda satu sama lain. Menurut Levi-Strauss memandang budaya sebagai sistem simbolik yang dimiliki bersama dan merupakan ciptaan pikiran secara kumulatif.

Budaya Sebagai Sistem Simbolik
Kebudayaan adalah dengan cara memandang kebudayaan – kebudayaan sebagai sistem makna dan simbol yang dimiliki bersama. Kebudayaan itu tidak dimiliki individu namun dimiliki bersama oleh suatu masyarakat. Clifford Geertz menganggap pandangannya tentang budaya adalah semiotik. Mempelajari budaya adalah berarti mempelajari aturan-aturan makna yang dimiliki bersama. Kebudayaan sebagai sistem simbol yang bermakna. Makna tidak terlihat di “dalam kepala orang”. Budaya menurut Schneider adalah satu sistem simbol dan makna dimiliki bersama oleh anggota masyarakat ,terletak dalam relasi diantara

Selasa, 26 November 2019

Nilai-nilai pendidikan karakter dalam Tari Topeng Cirebon

November 26, 2019 0


A.Pengertian Nilai

Nilai dalam bahasa inggris disebut “value” yang berarti suatu yang berharga bagi kehidupan manusia. Menurut Mawardi nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan, dimiliki dan dipercaya.

Sedangkan menurut Sidi Gazalba nilai adalah sesuatu yyang bersifat abstrak, ia
ideal, nilai bukan benda konkrit, bukan fakta, tidak hanya persoalan benar atau salah dan menurut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak dikehendaki, disenangi dan tidak disenangi.

Dengan demikian nilai adalah sesuatu yang diyakini kebenarannya dan dianut serta dijadikan sebagai acuan dasar individu dan masyarakat dalam menentukan sesuatu yang dipandang baik, benar, bernilai maupun berharga.


B. Pengertian pendidikan dan karakter

Pendidikan menurut M. Al-Naquib Al-Attas adalah suatu proses penanaman sesuatu kedalam diri manusia. Dalam pengertian ini, suatu proses penanaman mengacu pada metode dan sistem untuk menanamkan apa yang disebut pendidikan secara bertahap “sesuatu” mengacu pada kandungan yang ditanamkan dan “diri manusia” mengacu pada penerimaan proses dan kandungan itu. Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan dengan penuh kesadaran untuk memberikan pembinaan dan bimibingan pada seorang individu, sehingga daya pikir, emosional dan tindakan individu tersebut berubah menjadi lebih baik. 

Karakter berasal dari bahasa yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan
memfokuskan pada aplikasi nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Menurut Ibn Maskawaih, karakter adalah sifat alami bawaan manusia yang dapat berubah denga cepat atau lambat melalui pendisiplinan serta nasihat-nasihat yang mulia dan baik.

Dari beberapa pengertian di atas maka nilai pendidikan karakter adalah suatu yang penting berguna bagi manusia dalam menjalani kehidupannya sehingga tercipta kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai yang selaras dengan Tuhan yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia dan lingkungan. Kaitannya dengan nilai-nilai pendidikan karakter dalam Tari Topeng, yaitu sesuatu yang penting, yang terdapat dalam Tari Topeng dan berguna bagi kehidupan manusia dalam menjalani kehidupan.

Dalam keseharian Hajjah Juni lekat dengan Tari Topeng. Beberapa nilai-nilai pendidikan karakter dalam Tari Topeng mempengaruhi dalam keseharian Hajjah Juni. Nilai karakter yang diterapakan, yaitu:

1. Memiliki Nilai Religiustik

Relijius merupakan sikap patuh seseorang menjalankan perintah Allah SWT. Perintah disini adalah ibadah. Ibadah ini terdapat dua bagian, yaitu yang bersifat vertikal, yakni ibadah yang berhubungan manusia dengan Allah SWT. dan yang bersifat horisontal, yaitu ibadah yang hubungannya manusia dengan manusia. Ibadah yang bersifat vertikal, seperti Sholat. Sholat merupakan ibadah yang diwajibkan
oleh Allah SWT. kepada umatnya. Sebagai hamba yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. pasti menjalankan Sholat. Nilai relijius Sholat atau berdoa ini dapat dilihat dari tokoh topeng rumyang yang menggambarkan seseorang yang selalu mengharumkan atau menyebut nama tuhan seperti Sholat, berdoa atau berdzikir.

Dalam keseharian Hajjah Juni yang mencerminkan nilai relijius dapat dilihat dari rutinitas beliau dalam menjalankan Sholat yang setiap waktu dilaksanakannya, dalam menjalakan sholat terkadang Hajjah Juni tidak tepat waktu, ini dikarenakan Hajjah Juni berjualan dan melatih anak-
anak menari. Contoh lain, yaitu ketika setiap Hajjah Juni akan tampil menari Hajjah Juni selalu membaca doa agar menarinya berjalan dengan lancar. Doa tersebut dilakukan sebelum naik panggung dan sewaktu akan memakai topeng. Dari sikap Hajjah Juni yang selalu menjalankan ibadah sholat dan berdoa sebelum menari itu membuktikan bahwa pesan atau nilai relijius dalam Tari Topengmempengaruhi karakter Hajjah Juni.

Adapun ibadah yang bersifat horisontal berupa sifat dan sikap yang ditunjukan pada orang lain, yaitu :
a. Sabar

Seseorang dikatakan sabar manakala orang tersebut mampu menahan dirinya agar tidak marah. Sabar ini mudah diucapkan tetapi sulit untuk dijalankan. Nilai sabar dalam Tari Topeng dapat dilihat dari gerakan Tari Topeng Panji Sutrawinanggun yang begitu halus dan lembut. Tari ini menggambarkan kesabaran seseorang. Sikap sabar Hajjah Juni dapat dilihat ketika Hajjah Juni maelihat anak-anak menari, jika ada gerakan yang salah Hajjah Juni
membenarkan gerakannya satu per satu, dan sesekali mencontohkan didepannya, Hajjah Juni juga tidak marah ketika ada anak yang gerakannya salah terus menerus, beliau memberikan pujian yang membuat anak tersebut semangat berlatih. Kesabaran Hajjah Juni juga dapat dilihat
ketika suaminya sakit 3 hari, Hajjah Juni merawat suaminya dengan baik, tidak pernah mengeluh ataupun memarahinya. Hajjah Juni terlihat biasa saja seperti tidak ada beban. Dari sikap dan kata-kata Hajjah Juni mencerminkan bahwa beliau memiliki karakter sabar.

b. Ikhlas

Seseorang dikatakan ikhlas manakala orang tersebut tulus hati untuk memberikan sesuatu baik tenaga, pikiran atau bentuk lainnya kepada orang lain tanpa mengingat-ingatnya. Nilai ikhlas ini dapat dilihat dari gerakan Tari TopengPanji Sutrawinangun yang begitu halus dan lembut, tarian yang memerlukan penahanan diri sejak awal sampai akhir dengan kelembutan dan kehalusan gerakannya. Butuh konsentrasi yang matang dan serta harus fokus. Sikap ikhlas Hajjah Juni dapat dilihat dari kegiatannya yang melatih anak-anak tetangga yang ada disekitar untuk menari topeng tanpa dipungut biaya, kegiatan ini biasanya dilakukan setiap hari minggu, Hajjah Juni mengajak anak-anak sekitar menari topeng dengan gratis.

2. Disiplin

Disiplin merupakan sifat yang perlu dimiliki oleh setiap orang. Karena disiplin orang akan dapat mewujudkan apa yang diharapkan. Disiplin diri merupakan suatu mewujudkan apa yang kita lakukan secara berulang-ulang dan terus menerus sehingga menjadikan kita terbiasa melakukan secara konsisten. Nilai disiplin ini dapat dilihat dai karakter Panji Sutrawinangun dan Patih Jayabadra. Dalam karakter Panji Sutrawinangun, karakter disiplinnya bisa dilihat dari gerakannya yang dilihat dari awal sampai akhir itu tertib. Dalam karakter Patih Jayabadra,
karakter disiplinnya bisa dilihat dari makna topeng tersebut yang menggambarkan seseorang Patih yang tegas dan disiplin dalam menjalankan tugasnya menjadi seseorang Patih.
Karkter Hajjah Juni yang menggambarkan kedisiplinan bisa dilihat dari kebiasaan tepat waktu dalam melatih anak, bila kesepakatannya jam satu siang maka Hajjah Juni sudah siap melatih jam satu walaupun anak yang datang baru sedikit. Sikap disiplin Hajjah Juni juga dapat
dilihat dari kesehariannya yang selalu melakuakan aktifitas sama seperti hari-hari sebelumnya. Seperti bangun tidur, membereskan rumah, pergi ke pasar waktunya sama, kecuali bila Hajjah Juni sakit.

3.kerja Keras

Kerja keras merupakan sifat terpuji yang harus kita miliki. Karena kerja keras merupakan kunci untuk mencapai kesuksesan. Dengan kerja keras semua pekerjaan bisa cepat selesai, tanpa
adanya sifat tersebut manusia akan cepat putus asa dan mudah menyerah. Untuk itu manusia dituntut unuk selalu memiliki dan menjaga sifat tersebut agar menjadi kehidupan tetap optimis dan berpikir positif. Nilai kerja keras ini dapat dilihat dari karakter Jingga Anom, ia sungguh-
sungguh ketika melawan Tumenggung Magangdiraja, tanpa kenal lelah ia melawannya. Nilai kerja keras juga dapat dilihat dari makna Topeng Panji Sutrawinangun yang menggambarkan seorang yang kerja keras dilihat dari sudut geraknya yang memakan tenaga yang sangat serius. Karakter Hajjah Juni yang mengandung nilai-nilai kerja keras dapat dilihat dari kesehariannya yang tak kenal lelah sebagai Ibu Rumah Tangga dan juga mengasuh cucunya.

4. Cinta Tanah Air

Dalam keseharian setiap manusia memiliki rasa cinta terhadap siapapun baik kepada seseorang maupun terhadap Negara. Cinta terhadap tanah air merupakan kesadaran seseorang untuk rela berkorban dan berbakti terhadap bangsa Indonesia. Warga Negara Indonesia memiliki kewajiban untuk cinta terhadap tanah air, rasa cinta tanah air ini bisa ditumbuhkan melalui proses pendidikan ataupun melalui mengembangkan budaya yang ada di sekitar. Nilai cinta tanah air ini dapat dilihat dari karakter Patih Jayabadra, Jingga Anom dan Tumenggung Mangandiraja yang selalu siap menjalankan tugasnya menjaga kerajaan masing-masing. Karakter cinta tanah air Hajjah Juni dapat dilihat dari kepedulian beliau terhadap kesenian Tari Topengyang ada di Cirebon, yang sampai sekarang masih dikembangkan oleh
Hajjah Juni walaupun Tari Topeng sudah tergeser oleh hiburan-hiburan lain Hajjah Juni tetap melestarikan Tari Topengdengan cara masih mengajarkan kepada anak-anak menari topeng Cirebon.

5. Tanggung Jawab

Setiap manusia harus memiliki rasa tanggung jawab, dimana rasa tanggung jawab itu harus disesuaikan dengan apa yang telah kita lakukan. Tanggung jawab adalah ciri manusia yang beradab, manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk
perbuatannya itu, dan menyadari pula bahwa pihak lain memerlukan pengadilan atau pengorbanan. Nilai tanggung jawab ini dapat dilihat dari makna topeng Panji Sutrawinangun, Patih Jayabadra, Jingga Anom dan Tumenggung Magangdiraja menggambarkan seseorang yang
senantiasa melaksanakan tugas dan kewajibannya . Karakter tanggung jawab Hajjah Juni dapat dilihat dari kesehariannaya sebagai seorang istri, walaupun sibuk dengan aktifitas menjaga cucunya dan melatih Tari Topeng Hajjah Juni tidak lupa akan tugasnya menjadi seorang istri. Jika suaminya baru pulang dari kantor, Hajjah Juni menyambutnya dengan membuatkan minuman hangat, menyiapkan makanan dan menemani suaminya makan setiap hari, kecuali ada pentas Hajjah Juni tidak menemani suaminya. Dan sebelum menerima tawaran pentas Hajjah Juni meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya, jika dibolehkan Hajjah Juni berangkat, jika tidak dibolehkan Hajjah Juni tidak berangkat. Dari sikap Hajjah Juni yang seperti itu kita bisa tahu rasa tanggung jawab Hajjah Juni cukup besar.

6. Toleransi

Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis,
pendapat, sikap dan tindakan orang lain yang berbeda dengan dirinya. Nilai toleransi dalam Tari Topeng dapat dilihat dari makna topeng Tumengggung Magangdiraja. Topeng Tumenggung ini
bermakna memberikan kebaikan kepada sesama manusia, saling menghormati dan senantiasa mengembangkan silih asih.

Sikap toleransi Hajjah Juni dapat dilihat dari kebiasaannya bermusyawarah mengenai waktu latihan menari, Hajjah Juni memberikan kebebasan kepada anak-anak mengenai waktu latihan Tari Topeng, karena Hajjah Juni mengerti anak-anak masih sekolah namun bila Hajjah Juni ada keperluan waktunya bisa diganti dengan hari lain, sikap toleransi Hajjah Juni juga dapat dilihat dari kebiasaannya bermusyawarah dengan suaminya tentang masalah yang ada dirumah tangganya, baik itu masalah kecil maupun masalah besar. Sikap toleransi Hajjah Juni juga dapat
dilihat dari tutur katanya yang sopan santun. Dalam bertutur kata hendaknya kita sopan santun, karena sopan santun mencerminkan sikap seseorang. Orang yang memiliki sifat sopan santun,
berarti dia mempunyai etika dalam berinteraksi dan sopan santun sangat penting agar dapat keselarasan dalam berprilaku. Nilai karakter sopan santun dalam masyarakat atau bertetangga dapat dilihat dari karakter topeng Panji Sutrawinanggun, karakter ini dapat dilihat dari sudut geraknya. Gerakan Tari Panji
yang halus dan lembut serta ciri topengnya yang bermuka putih bersih dan sedikit merunduk mencerminkan seseorang yang halus dan sopan santun. Karakter Hajjah Juni menunjukkan sikap sopan santun dalam berbicara bisa dilihat dari kesehariannya ketika berjalan bertemu tetangga atau orang yang ia kenal Hajjah Juni menegurnya, setiap kali berjalan dikerumunan Hajjah Juni selalu mengucap „permisi‟. Hajjah Juni juga tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar.

7. Tolong Menolong

Tolong menolong merupakan suatu kewajiban bagi setiap manusia. Sifat tolong menolong ini akan dapat membantu orang lain. Jika kita memerlukan bantuan, tentunya orang lain akan menolong kita. Dengan tolong menolong ini kita dapat membina hubungan baik terhadap tetangga serta dapat memupuk kasih sayang terhadap tetangga.

Topeng dan Penari mempunyai hubungan yang sangat erat, topeng tanpa Penari tentunya tidak akan berarti apa-apa, yang menjadikan topeng berarti bagi masyarakat apabila topeng tersebut digunakan Penari untuk menari, dan Penarinya pun harus menari dengan penuh penghayatan dan benar-benar memahami karakter topeng tersebut agar masyarakat sekitar memahami pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Posisi Tari Topeng bila dihubungkan masyarakat dewasa ini sangatlah penting. Mengingat pesan-pesan yang terkandung di dalamnya berkaitan erat dengan realitas yang dihadapi masyarakat sekitar. Perlu diingat sekarang karakter generasi muda mulai menurun apa lagi dihadapkan dengan globalisasi yang semakin maju. Tidak aneh jika pemuda saling tawuran,
pencurian, minum-minuman keras, seks bebas dan lain sebagainya. Setidaknya Tari

Topeng ini dapat memberi motivasi dan pembelajaran untuk masyarakat lewat pesan-pesan yang terkandung dalam topeng dan gerakannya.

Arsip Blog

Visit Us

https://senzeyizal.blogspot.com/