Kamis, 02 Januari 2020

Gerakan Dalam Tari Topeng


Hasil gambar untuk gambar gerakan jangkung ilo pada tari topeng


Dalam tari topeng Cirebon ada 9 pokok gerakan : 

- Adeg adeg 

Merupakan gerakan berdiri. arti dari gerakan ini ialah kita harus berdiri kokoh agar tidak tergoyahkan. 

- Pasangan 

arti dari gerakan ini ialah kita senantiasa memberikan suri tauladan kepada orang lain dengan berbuat kebaikan. 

- Capang 

Kalo author gak salah gerakan ini merupakan gerakan tangan dimana kelima jari tangan merapat / dirapatkan satu sama lain. Arti dari gerakan ini ialah kita selalu ringan tangan (bukan suka main tangan yah! inget! :v) memberikan pertolongan kepada yang membutuhkan. 

- Godek 

Gerakan ini merupakan gerakan kepala yang menggeleng kekanan dan kiri dengan cepat. Arti dari gerakan ini ialah kita melihat saudara / kerabat kita dalam kesusahan kita senantiasa menggelengkan kepala lalu membantu semampunya. 

- Banting Tangan 

Gerakan ini merupakan gerakan membanting tangan hingga menghempas kebawah. Arti dari gerakan ini ialah kita harus selalu bekerja keras. Saat author latihan gerakan ini memang tangan terasa sakit dan nyeri tapi lama-lama tangan author udah terbiasa untuk dibanting-banting saat menari. 

- Gendut / Gedut 

Gerakan ini merupakan gerakan melangkah kecil kanan-kiri secara bergantian sambil menghentakan badan, satu tangan lurus serong kedepan dan tangan yang lain bertolak pinggang. Arti dari gerakan ini ialah kita tak boleh gemuk / gendut sendiri (sunda : dewekan) karena masih banyak orang yang kelaparan dan jauh dari hidup layak. 

- Kenyut 

Kenyut artinya kepincut (sorry lagi neh! author kagak tau gerakannya kek gimana). Arti dari gerakan ini ialah kita harus kepincut kepada hal-hal yang bersifat positif. 

- Nindak / Njangka 

Arti dari gerakan ini ialah kita harus bertindak yang diridoi oleh Allah SWT. 

- Jangkung Ilo 

Gerakan ini merupakan gerakan langkah yang besar dengan kaki diangkat sebatas pinggang disertai olah tangan yang merentang di samping kiri-kanan. Arti dari gerakan ini ialahkita harus mengukur sejauh mana kemampuan kita. 

Disamping 9 gerakan pokok diatas masih ada gerakan lain diantaranya : 

- Baksarai Mamandapan 

Gerakan ini merupakan langkah maju – mundur disertai olah tangan (kedua tangan lurus serong ke depan). 

- Gendut / Gedut 

Gerakan ini merupakan melangkah kecil kanan – kiri secara bergantian sambil menghentakan badan, satu tangan lurus serong ke depan sementara tangan yang lain mengepal sambil bertolak pinggang. 

- Jangkung Ilo 

Gerakan ini merupakan langkah besar dengan sebelah kaki di angkat sebatas pinggang secara bergantian di sertai mengolah tangan. 

- Mincid Sikap Kaki 

Gerakan ini merupakan telapak serong disertai langkah di tempat kecil – kecil dengan posisi tangan baplang (tangan kanan lurus ke depan, tangan kiri merentang ke samping). 

- Bakplang 

Gerakan ini merupakan melangkah cepat berjingkat 3 kali depan – belakang di sertai mengolah tangan pocapa (satu tangan lurus ke depan, sementara tangan yang lain mengepal disamping pinggang) dilakukan secara bergantian. 

- Banting Sumping / Rarawis 


Gerakan ini merupakan gerakan membanting / melempar sumping (rarawis). Yang diawali dengan memegang rarawis yang berada di kanan dan kiri dengan kedua tangan / satu tangan, kemudian dibanting / dilempar ke atas. 

- Kenser

Gerakan ini merupakan gerak menggeser kaki kanan dan kiri secara bersamaan dengan posisi tangan kanan bertolak pinggang dan tangan kiri lurus kedepan, disertai gerak kepala yang menggangguk. 

- Sila 

Gerakan ini merupakan pembuka / awal tarian dalam tari topeng Cirebon, dengan posisi kaki duduk bersila serta selendang menjulur di kanan – kiri pinggang penari. 

- Srisig 

Gerakan ini merupakan lari – lari kecil, dalam tari topeng Cirebon gerakan ini berlari melingkar / memutar dengan posisi kaki menyilang (kanan di depan kiri di belakang kaki kanan) di sertai kibasan soder / selendang. Selama melakukan gerakan ini kaki penari harus tetap menyilang selama berlari. 

Dalam Tari Topeng Cirebon ada 5 topeng / kedok inti yang sering ditarikan, diantaranya : 

- Kedok / Topeng Panji 


Menggambarkan kesucian manusia yang baru lahir. Kedoknya berwarna putih, matanya liyep, pandangannya merunduk dan senyumnya dikulum. Tari topeng Panji adalah tarian paradoks. Tarian ini sangat halus dengan langkah – langkah minimalis dan lebih banyak menampilkan gerak ‘diam yang dinamis’. Bagi penonton yang tidak begitu memahami gerak tarian ini akan cepat merasa bosan. Tarian ini sukar untuk ditarikan karena diperlukan disiplin keras, penahanan diri, dan memakan tenaga. Tarian ini ditarikan paling pertama dengan lagu pengiring ‘Kembang Sungsang’ yang merupakan lagu terpanjang dan sulit untuk dimainkan. Kadang tarian dan iringan musik tidak kontras karena iramanya cepat dan bunyinya keras disambut dengan gerak tari yang amat minim, bahkan hampir tanpa gerak. 

- Kedok / Topeng Samba (Pamindo) 

Hasil gambar untuk topeng samba

Menggambarkan kepolosan anak – anak yang masih belum mengenal apa itu ‘masalah. Tarian ini ditarikan kedua setelah tari topeng Panji. Karakter topeng ini adalah genit / ganjen, super aktif, gesit, periang, dan penuh sukacita. Dalam gaya topeng Losari justru tarian ini ditarikan paling awal sebagai Panji Sutrawinangun. 

- Kedok / Topeng Rumyang 

Hasil gambar untuk topeng rumyang

Menggambarkan kehidupan seorang remaja pada masa akil baligh. Kedok Rumyang sewanda (sekarakter) dengan kedok Samba / Pamindo, namun tanpa hiasan rambut. Seperti kedok Samba / Pamindo di tengah dahinya terdapat hiasan rerengu / rengu batuk mimi, yang disambung dengan hiasan pilis yang melingkar dikedua sisi pipi sampai kebagian pipi bawah. Tarian ini ditarikan ketiga setelah tari topeng Samba / Pamindo. Warna kedoknya merah jambu, namun ada juga yang berwarna coklat muda. 

- Kedok / Topeng Tumenggung 

Hasil gambar untuk topeng tumenggung

Menggambarkan manusia yang sudah menginjak dewasa dan telah menemukan jati dirinya. Kedok tumenggung selalu dicat coklat / merah jambu. Wanda kedoknya menyiratkan seseorang yang gagah, pemberani, dan berwibawa sesuai dengan karakternya yang gagah. Matanya melotot, dan bentuk matanya kedelen, kumisnya tebal yang biasanya dibuat dari rambut yang dikepang, kulit yang dibulatkan diujungnya, sunggingan janggutnya memulu. 

- Kedok / Topeng Klana 

Hasil gambar untuk topeng kelana

Menggambarkan sifat angkara murka yang terdapat dalam diri manusia. Kedok Klana umumnya dicat dengan warna merah tua. Melihat perangainya sudah dapat ditebak, bahwa kedok ini berkarakter gagah – kasar, brangasan, matanya melotot seperti orang terbelalak, kumis tebal yang biasanya dibuat dari rambut yang dikepang dan ujungnya dibulatkan, hidung panjang (mancung), mulut menganga dan menyembul keluar, gigi bagian atas agak menjorok kedepan seperti orang tertawa terbahak – bahak. Dibagian dagu tersungging hiasan janggut yang disebut rengget / rerengu yang menyatu dengan jambang. Diatas ujung hidung / dahi (jidat, ndas dll) ada lekukan seperti orang mengernyit dahi yang disebut renyon sedangkan dibagian atas melintang hiasan yang disebut jamang (bentuknya seperti mahkota). Kedok Klana mempunyai berbagai wanda (karakter) diantaranya wringut, drodos, dan barong. Kedok ini juga sering dipakai untuk berbagai tarian yang berkarakter sama antara lain tari Rahwana / Rowana. Tarian ini ditarikan paling akhir dan justru penonton banyak yang menggemari bahkan menyukai tarian ini ketimban topeng Panji, karena gerakannya yang gagah, maskulin, tegas, kadang terlihat mabuk, dan tertawa terbahak – bahak.

Unsur-unsur Dalam Seni Tari

Januari 02, 2020 0
Kesenian merupakan warisan budaya dunia yang harus dilestarikan. Ada banyak jenis kesenian, antara lain seni tari, seni musik, seni rupa, dan seni teater. Salah satu jenis kesenian yang masih sangat kental dengan budaya Indonesia adalah seni tari. Seni tari adalah kesenian yang bertumpu pada gerak dinamis dan berirama untuk mengekspresikan makna tersirat dalam gerakan tersebut kepada penonton.
Indonesia, sebagai negara dengan keanekaragaman budaya, memiliki banyak macam tari. Dari Sabang hingga Merauke memiliki tari daerah masing-masing. Aceh punya tari saman, Jawa Tengah punya tari serimpi, Papua punya tari selamat datang, dan masih banyak lagi tari-tari yang bisa dipelajari dari masing-masing daerah yang ada di Indonesia.
Seni tari mengandung gerakan tubuh yang estetik untuk menyampaikan pesan, pikiran, perasaan, dan suasana tertentu. Menurut Dr. Soedarsono, tari merupakan ekspresi jiwa manusia melalui gerak-gerak ritmis yang indah (estetis).
Dilihat dari pengertian tersebut dapat diambil makna ekspresi jiwa sebagai perasaan dan pikiran yang ingin disampaikan dan gerak ritmis adalah gerakan yang sesuai dengan iringan, ketukan, dan irama musik yang menyertai tari tersebut sehingga penonton dibuat terpesona, bahkan penonton diharapkan terbawa suasana dan mengerti pesan tersirat yang ingin disampaikan dalam tari tersebut.
Selain sebagai seni budaya, seni tari juga memiliki fungsi lain antara lain sebagai sarana untuk upacara adat, hiburan, pendidikan, pergaulan, pertunjukkan, penyaluran terapi, dan katarsis (pembersihan jiwa). Tiap tari pasti memiliki salah satu fungsi tersebut.
Sebagai contoh, tari pendet di Bali yang merupakan sarana upacara adat, dimaksudkan untuk memberikan sesajian persembahan berupa bunga. Tari lain bisa jadi hanya sebagai sarana hiburan masyarakat. Apapun fungsi tari tersebut, setidaknya ada makna tersirat di baliknya.
Agar tercipta gerakan ritmis yang estetis, unsur unsur seni tari harus diperhatikan untuk membangun dan menciptakan gerakan tubuh tersebut. Seperti layaknya sebuah organisasi yang punya ketua, sekretaris, bendahara, dan anggota, begitupula tari.
Ada dua unsur-unsur seni tari yang membangunnya yaitu:
1.      Unsur Utama
Unsur utama seni tari adalah unsur esensial dan pokok yang harus melekat dalam sebuah tarian. Apabila salah satu dari unsur ini hilang atau tidak diperhatikan, maka suatu pertunjukkan sendratari tidak akan harmonis. Rasanya ada yang kurang, bahkan bisa jadi penonton tidak lagi dapat mengerti maksud dari tarian tersebut.
Maka dari itu, unsur utama ini menjadi poin penting keberhasilan suatu tari yang dibawakan. Juga, menjadi penilaian penting apabila tari ini menjadi pertunjukkan yang dinilai oleh ahli seni. Berikut tiga unsur utama dalam seni tari:
a.       Wiraga (raga)
Wiraga dalam bahasa Jawa berarti raga, yang dalam konteks seni tari biasa dikenal dengan gerakan. Tarian harus menonjolkan gerakan tubuh yang dinamis, ritmis, dan estetis. Meskipun, memang tidak semua gerakan dalam suatu seni tari memiliki maksud tertentu. Gerak biasa atau gerak murni adalah gerakan dalam sebuah tarian yang tidak memilki maksud tertentu, sedangkan gerak maknawi adalah gerakan dalam sebuah tarian yang memiliki makna mendalam dan memiliki maksud tertentu.
Secara umum, melalui gerakan penari, penonton bisa menebak karakter yang dimainkan. Misalnya gerak memutar pergelangan tangan pada tari yang dibawakan oleh wanita memiliki arti keluwesan atau kelembutan. Begitu pula gerakan berdecak pinggang pada tari yang dibawakan oleh pria bisa memiliki arti wibawa dan kekuasaan.
Tanpa gerakan, sebuah seni tari tidak memiliki makna dan menjadi hampa karena memang yang namanya tari harus ada unsur gerakan. Maka dari itu, wiraga termasuk ke dalam unsur utama sebuah seni tari.
b.      Wirama (irama)
Tidak mungkin sebuah seni tari hanya melulu penari bergerak kesana kemari tanpa adanya musik yang mengiringi. Musik berfungsi untuk mengiringi gerakan penari. Dengan adanya musik, suatu gerakan akan lebih memiliki makna karena tercipta suasana tertentu.
Seorang penari harus bisa menari sesuai dengan irama, ketukan, dan tempo pengiringnya sehingga bisa harmonis dan estetis di mata penonton. Selain itu, irama juga bisa sebagai isyarat bagi penari kapan harus memulai atau mengganti sebuah gerakan. Hal ini sangat berguna ketika sebuah tarian dibawakan oleh banyak penari sehingga setiap penari tidak tergantung gerakannnya pada penari lain tetapi bisa menyamakan sendiri dengan irama pengiring.
Irama yang digunakan bisa berupa rekaman (biasa digunakan untuk kepentingan pendidikan) ataupun iringan langsung dari instrumen musik (seperti gamelan, kecapi, atau alat musik tradisional lain). Namun, tidak menutup kemungkinan irama yang mengiringi tarian berupa tepukan tangan, hentakan kaki, maupun nyanyian. Apapun bentuknya, irama digunakan sebagai pelengkap sebuah gerakan tari. Meskipun berfungsi sebagai pengiring, irama juga termasuk ke dalam unsur utama.
c.       Wirasa (rasa)
Seni tari harus bisa menyampaikan pesan dan suasana perasaan kepada penonton melalui gerakan dan ekspresi penari. Oleh karena itu, seorang penari harus bisa menjiwai dan mengeskpresikan tarian tersebut melalui mimik wajah dan pendalaman karakter. Sebagai contoh, apabila karakter yang dimainkan adalah gadis desa yang lembut maka selain gerakan yang lemah gemulai, penari juga harus menampilkan mimik wajah yang mendukung.
Unsur ini akan makin menguatkan suasana, karakter, dan estetika sebuah seni tari bila dikombinasikan dengan irama dan gerakan yang mendukung. Dengan adanya rasa dalam sebuah tari, penonton bisa makin mudah menangkap maksud tertentu yang ingin disampaikan oleh penari. Maka, unsur rasa ini tidak dapat terlepas dari unsur esensial seni tari. Tanpa adanya rasa, makna tarian tidak akan dapat tersampaikan kepada penonton.
2.      Unsur Tambahan
Setelah mengetahui unsur utama yang harus ada dalam sebuah tarian, alangkah baiknya bila kita juga mengetahui unsur tambahannya. Memang, unsur ini adalah pelengkap dari ketiga unsur unsur seni tari di atas tapi tidak serta merta dapat diabaikan begitu saja karena unsur ini sangat mendukung sebuah tarian. Bisa jadi, apabila beberapa unsur tambahan ini tidak diperhatikan juga dapat mempengaruhi keberhasilan sebuah pertunjukkan sendaratari.
a.       Tata Rias dan Kostum
Tidak mungkin sebuah pertunjukkan tarian menampilkan penari dengan kostum dan riasan seadanya. Pasti ada riasan khusus dan kostum yang sesuai dengan tarian dan karakter yang dibawakan oleh penari. Unsur ini mendukung terciptanya suasana tarian dan menyampaikan karakter serta pesan secara tersirat.
b.      Pola Lantai
Tarian akan indah apabila penari bisa menguasai pola lantai. Tidak hanya melulu berada di tengah panggung tapi juga bergerak kesana kemari sehingga tidak membuat penonton bosan karena monoton. Hal ini juga sangat penting untuk tarian yang dibawakan oleh banyak penari supaya antar penari tidak saling bertabrakan sehingga gerakan yang ditampilakan dapat selaras, kompak, dan teratur.
c.       Setting Panggung
Seni pertunjukkan tari yang baik akan memperhatikan pengaturan panggungnya. Hal ini penting karena dengan adanya panggung yang sesuai tarian, tidak terlalu sempit, dan tertata rapi akan menimbulkan kesan pada penonton. Setting panggung yang dimaksud juga termasuk pencahayaan. Sekiranya, panggung sendratari tidak terlalu terang tetapi juga tidak terlalu gelap. Intinya, penata ruangan harus bisa menyesuaikan dengan tari yang akan dibawakan.
d.      Properti
Dalam tarian tertentu, penari akan membawa properti. Properti ini merupakan alat pendukung seperti selendang, piring, payung, lilin. Meskipun memang tidak semua tarian menggunakan properti, unsur ini juga perlu diperhatikan untuk mendukung visualisasi tarian.
Dengan adanya aksesoris penunjang, penonton makin yakin bahwa tarian yang dibawakan telah dipersiapkan sebaik-baiknya. Selain itu, juga ada aksesoris penunjang yang memudahkan penonton untuk mengetahui karakter tarian yang dibawakan.
Demikian penjelasan mengenai unsur unsur seni tari. Baik unsur utama maupun tambahan saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Apabila unsur-unsur tersebut diperhatikan dan dipadukan dengan harmonis maka pesan yang ingin disampaikan kepada penonton dapat tersampaikan dengan baik.




Tari Topeng Indramayu

Januari 02, 2020 0

Tari topeng indramayu berasal dari tradisi di lingkungan Istana Kacirebonan sebagai acara kerajaan, misalnya penyambutan tamu raja. Lama-kelamaan, tari ini diminati masyarakat di luar keraton sampai menyebar ke tanah Indramayu.
Tari istana lantas berubah fungsi menjadi tari rakyat. Sekalipun antara Keraton Cirebon dan tradisi Indramayu bertopeng sama, bentuk dan tokohnya, namun gaya dan gerak tarinya sangat berbeda.
Tari Topeng dibawakan oleh Mimi Rasinah, maestro tari topeng asal Indramayu salah satu pelestari Tari Topeng Indramayu adalah Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah. Atas kearifan Toto Amsar Suanda seni tradisi Indramayu ini pada tahun 1994 mengarungi Asia dan Eropa.
Keunikan dari seni tari ini bukan menjadi sekadar pertunjukan, namun sebuah kesenian yang memerlukan keyakinan dan penghayatan.
Topeng sebagai salah satu genre produk seni budaya Cirebon merupakan identitas global atau payung besar gaya atas sub-sub gaya yang bersifat lokal. Setiap desa dan kelompok dalang seni topeng memiliki gaya penampilan khasnya. Para pelaku budaya Indramayu yang sering dianggap sebagai bagian dari insan kultural Cirebon cenderung merasa memiliki identitasnya tersendiri. Mereka menyatakan sebagai Wong Dermayu dengan segala produk seni budayanya yang mendapatkan label Dermayu. Label pengukuhan pendapat bahwa mereka yang bukan Wong Cirebon, Wong Jawa, Wong Sunda, dan lainnya mencitrakan pertunjukan topeng Indramayu yang lazim disebut " Topeng Dermayon ".
Perbedaan gaya di dalam Tari Topeng Indramayu tidak tampak jelas di mata orang-orang awam. Pengertian lain, Tari Topeng Indramayu memiliki kekhasan tersendiri, apabila dibandingkan dengan pertunjukan tari toipeng dari daerah Cirebon lainnya, seperti: Slangit, Palimanan, atau Cibeber. Hal ini dapat disaksikan melalui pertunjnukan Tari Topeng Indramayu yang terdiri dari serangkaian tari topeng, yakni:
1.      Topeng Panji
Topeng Panji adalah tarian yang disajikan di awal pertunjukan dengan karakter penari yang sangat lembut. Motif gerak penarinya sederhana dengan irama yang sangat lembut pula. Kaki penari tidak pernah diangkat dari lantai. Apabila akan mengubah arah hadap, gerak penari tidak mengangkat telapak kaki dari lantai seperti gerak seser dalam tarian Jawa.
Ukuran kualitas di dalam memeragakan tari Topeng Panji, yakni ketika penonton nyaris tidak menyadari kapan penari mengubah posisi hadap serta posisi dasi yang dikenakannya. Jikalau dasi tampak longgar dan tidak menempel rapi menandakan penari belum mampu mengatur kelembutan napasnya.
Ukuran kepantasan kepiawaian penari Topeng Panji, jika ada penonton yang tanpa sadar menangis (terharu) ketika menyaksikannya menari. Selain itu, ukuran kepantasan penari Topeng Panji  manakala memeragakan tarian tersebut benar-benar lembut dan tanpa ekspresi. Penari yang mampu mencapai tingkat kepiawaian di dalam memeragakan tarian tersebut akan menyerupai mayat yang menari.
Sebelum memeragakan tari Topeng Panji, beberapa dalang sepuh mengikuti adat yakni melakukan ritual khusus demi keselamatan dan keberhasilan pertunjukan, misal berpuasa mutih. Selain, ritual tersebut dimaksudkan agar penari dalam kondisi badan serta pikiran rileks, dan tidak mengeluarkan banyak keringat.
Tidak banyak penari yang memelajari tari Topeng Panji. Disebabkan tarian tersebut biasanya menelan durasi waktu delapan puluh mennit dan dimainkan di panggung hajatan yang mengharuskan persyaratan fisik cukup kuat dalam posisi pasangan (kuda-kuda). Selain, tarian tersebut sangat monoton dan membosankan bagi penonton. Dikarenakan motif gerak tariannya sangat sederhana dan berirama lembut, penampilan penarinya lebih impresif  hingga terkesan kurang komunikatif dengan pentonton.
Kedok tari Topeng Panji berwarna putih dengan mulut sedikit terbuka dan seolah tersenyum, mata sipit, dan tanpa hiasan rambut. Jenis tarian yang terkesan lembut dan bersih hati ini melukiskan kebenaran, sebagaimana disimbolkan melalui garis lurus serupa aksara alif. Sementara, iringan tari Topeng Panji adalah gending Kembang Sungssang yang memiliki dinamika tertentu yakni dodoan (lembut) dan deder (cepat). Tidak ada nama tokoh pasti dari karakter yang digambarkan tdak berhubungan dengan jalan cerita.
2.      Tari Topeng Pamindo
Topeng Pamindo merupakan jenis tari topeng yang berkarakter ganjen (riang) tersebut memiliki analopgi dengan sifat kanak-kanak. Gerak tariannya sangat variatif, terutama pada bagian tengah dan akhir ketika iringan bertempo semakin cepat.
Kedok tari Topeng Pamindo berwarna putih kekuningan dengan rona wajah ceria. Keseluruhan tari Topeng Pamindo menceritakan keceriaan yang ditampilkan melalui bentuk mulut kedok setengah terbuka hingga sederetan giginya tampak. Bentuk mata kedok bagian atas setengah melingkar. Di sekitar tepi kening kedok, terdapat ukiran rambut dengan hiasan kembang pilis.
3.      Tari Topeng Rumyang
Tari Topeng Romyang di iringi lagu Rumyang. Kedok tarian ini berwarna putih kecoklatan dan tanpa dihiasai rambut. Karakter tari yang ditampilkan di antara tari Topeng Panji dan Topeng Pamindo ini memiliki gambaran polos. Karakter yang tersirat pada tarian tersebut adalah ceria. Keceriaan ini digambarkan dengan mulut kedok tidak tertutup, bentuk matanya sipit dan cenderung datar, serta alis yang seolah diangkat menyerupai bentuk gunung.
4.      Tari Topeng Tumenggung
Tari Topeng Tumenggung biasanya ditampilkan dalam pertunjukan lepas. Pada tarian ini digambarkan tokoh Tumenggung Magangdiraja yang diutus Raja Bawarna untuk menangkap Jingga Anom, seorang tumenggung dari Jongjola.
Kedok yang dikenakan oleh penari (tokoh) Tumenggung berwarna merah dengan karakter gagah, muka berbentuk lebar dengan mata bulat dan melotot. Kesan gagah ditampilkan dengan kumis lebat serta jenggot di bawah mulut. Karakter tari Topeng Tumenggung adalah gagah dengan gerak kuat di dalam ruang yang luas.
5.      Tari Topeng Klana Wringut
Tari Topeng Klana Wringut biasanya diminati anak-anak dan ibu-ibu. Kedok Klana Wringut berwarna merah tua dengan ekspresi garang. Hidung mancung panjang. Kedok tersebut menggambarkan karakter raja saat melakukan dinas kerajaan. Demi menjaga kewibawaannya, penari tampak tegas, kejam, dan disiplin.
6.      Tari Topeng Klana Udeng
Ciri tari Topeng Klana Udeng, kedok berkarakter drodos dengan bentuk hidung mancung panjang dan mendongak ke atas. Gambaran yang ditampilkan adalah sifat seorang di balik layar dengan perilaku kurang terkendali. Meskipun ia adalah raja, kedok drodos menggambarkan kegilaan serta sikap kurang kontrol dari seorang raja yang tengah kasmaran. Gerak tarian sangat ekspresif dengan tekanan-tekanan gerak yang kuat. Kaki penari acapkali diangkat kemudian menginjak kotak atau tepi kendang. Pasangan (kuda-kuda) cukup lebar dengan salah satu kaki di depan serta gelengan kepala yang ekspresif hingga mengesankan kekokohan keseluruhan gerak.
Jenis tarian Topeng Klana Udeng dimulai dengan dodoan, lalu unggah tengah (cepat atau naik), dan semakin deder (cepat). Pada tarian yang dikemas lebih cepat (10-15 menit) itu, dodoan tidak ditarikan. Hanya bagian tengah sebelum ngrasuk (mengenakan) kedok, irama menjadi dinamis dan semakin kaya gerakan. Puncak tari Topeng Klana Udeng  yakni pada saat irama semakin cepat dan penari sudah mengenakan kedok.

Arsip Blog

Visit Us

https://senzeyizal.blogspot.com/